Langit Tjerah menerima donasi buku bekas, buku baru, maupun alat pendidikan yang lainnya untuk kami salurkan kepada Komunitas Pendidikan maupun Taman Baca yang membutuhkan, silahkan hubungi contact person. Terima Kasih.
Showing posts with label Cinta. Show all posts
Showing posts with label Cinta. Show all posts

Saturday, March 10, 2018

Perempuan, Emansipasi, dan Bahaya Yang Mengancamnya



[1]. Hari Perempuan Sedunia
8 Maret 2018 diperingati sebagai Hari Perempuan Sedunia, dengan latar belakang sejarah yang begitu panjang. Pada tanggal 8 Maret 1857 buruh perempuan dari pabrik tekstil melakukan perlawanan di New York menuntut penghapusan penindasan dan eksploitasi terhadap buruh perempuan. Dalam demo tersebut berujung pembubaran paksa oleh polisi dengan kekerasan dan tindakan represif aparat. Walaupun ada beberapa pihak yang menyangsikan kejadian tersebut, namun seiring berjalannya waktu terjadi peristiwa-peristiwa penting yang dilakukan oleh kaum perempuan yang menguatkan dunia untuk menetapkan tanggal 8 Maret sebagai Hari Perempuan Sedunia.

Partai Sayap Kiri tidak terlepas dari upaya-upaya menetapkan 8 Maret sebagai Hari Perempuan Sedunia. Hal tersebut dapat dimaklumi jika kita melihat sejarah-sejarah yang terjadi sebelumnya. Perjuangan perempuan dalam memperoleh hak dan tidak selalu menjadi objek eksploitasi terkenal memang mendapat dukungan dari partai-partai sayap kiri. Memang, dalam prakteknya perempuan diperbolehkan untuk bekerja, namun pada waktu itu perempuan mendapatkan perlakuan yang ekspolitatif. Hal inilah yang mendorong para perempuan untuk melakukan perlawanan untuk menghapuskan penindasan terutama penindasan terhadap perempuan. Dunia pada kemudian hari mengakui peran perempuan dan berusaha untuk menciptakan kesetaraan hak terhadap perempuan.

Perjuangan Perempuan tak selalu dilihat dari sejarah pergerakan buruh, banyak pula perjuangan perempuan dalam aspek lain. Di Indonesia contohnya, R.A. Kartini, seorang perempuan bangsawan melakukan kritik terhadap Pemerintah Kolonial Belanda kala itu yang tidak memberikan kesempatan kepada perempuan untuk mengenyam pendidikan. Adapula perjuangan perempuan barat yang menolak kekerasan seksual dan industri pornografi pada tahun 1960-an. Perempuan kerap menjadi objek penindasan baik secara psikologis dan seksual, sehingga pada tahun-tahun tersebut muncul gerakan perlawanan.

Feminisme

Feminisme dalam arti filsafat adalah konsep berpikir yang memandang bahwa perempuan memiliki kesetaraan hak dan kewajiban. Lebih dalam lagi, feminisme melihat Patriarki dalam masyarakat melahirkan ketidakadilan terhadap perempuan, oleh karena itu Feminisme melakukan kritik dan pembaharuan terhadap konsep-konsep patriarki masyarakat. Feminisme menjadi penting jika menjadi kritik atas cara pandang masyarakat tradisional yang menempatkan laki-laki diatas segalanya. Bahkan pula cara pandang masyarakat primitif yang mengidentikan Tuhan dengan laki-laki, hal inilah yang seakan-akan melegitimasi laki-laki untuk melakukan penindasan terhadap perempuan. Dalam menghadapi cara pandang pandang masyarakat primitif inilah feminisme menjadi penting. Selebihnya feminisme menjadi cara berpikir yang relevan untuk melahirkan kritik terhadap penindasan gender dalam kehidupan masyarakat.

[2]. Feminisme
Feminisme melahirkan kritik baik dalam segi ekonomi, politik, sosial, gender, dan lainnya. Dalam segi ekonomi, bahkan sampai sekarang pun masih terjadi ketidakadilan terhadap perempuan. Perempuan mengalami dikriminasi ekonomi terkait pengupahan dan fasilitas ekonomi lainnya. Di bidang politik lebih kejam lagi, konsep patriarki yang berlebihan menempatkan perempuan untuk tidak mendapatkan hak-hak politik. Diskriminasi terhadap perempuan di bidang politik menempatkan perempuan menjadi makhluk pasif dan tidak boleh melakukan peran apapun. Di bidang sosial, perempuan kerap menjadi warga masyarakat kelas dua. Hak-hak perempuan hanya diberikan di dapur dan ranjang, inilah yang masih menjadi permasalahan besar bahkan dilapisan masyarakat paling bawah. Kurangnya edukasi dan kondisi sosial yang konservatif ekstrim memperburuk kodisi ketidakadilan yang dialami oleh perempuan. Feminisme menjadi cara berpikir yang sangat penting untuk menghadapi kondisi seperti ini.

Emansipasi Perempuan

Berlanjut dari feminisme, emansipasi adalah usaha untuk mendapatkan hak-hak dan kesetaraan derajat. Bisa dipahami bahwa emansipasi perempuan adalah usaha pelaksanaan feminisme. Emansipasi Perempuan melahirkan perjuangan-perjuangan perempuan untuk melepaskan diri dari ketidakadilan dan menutut ‘pembebasan’. Kondisi diskriminasi dan eksploitasi terhadap perempuan melahirkan perlawanan demi perlawanan yang menuntut untuk diakui kesetaraan hak dan kewajibannya. Hal inilah yang diwujudkan dalam sejarah-sejarah perjuangan perempuan.

Dalam prakteknya, perjuangan perempuan ada yang berskala besar hingga mengerahkan kekuatan massa, ada juga yang berskala kecil dalam bentuk keseharian. Dua hal tersebut tidak ada yang lebih baik maupun yang lebih buruk, semuanya memiliki porsi dan konteksnya tersendiri. Yang jelas, gerakan-gerakan perubahan tersebut memperlihatkan bahwa peran perempuan sangatlah penting. Masyarakat tidak sepantasnya lagi menempatkan perempuan sebagai masyarakat kelas dua.

Masalah-Masalah

Kerap kali kita mendengarkan statemen bahwa laki-laki calon suami yang hebat adalah yang berduit sehingga perempuan yang hebat adalah perempuan yang mampu mendapatkan laki-laki yang berduit tersebut. Ini adalah pemahaman yang primitif, hal ini disebabkan karena pemahaman yang keliru tentang definisi perempuan dan feminisme. Kondisi masyarakat yang terjajah oleh materialisme pragmatis membuahkan cara pandang yang sering salah terhadap nilai-nilai terhadap perempuan. Cara pandang seperti ini harus mulai diubah bahkan perlu ditinggalkan. Budaya tersebut lahir dari kondisi patriarki yang menempatkan perempuan sebagai benda yang memiliki nilai tawar.

[4]. Pameran Pakaian Korban Pemerkosaan, Brussel, Belgia
Masalah-masalah kekerasan seksual juga masih menjadi ironi di zaman ini. Industri pornografi masih eksis menempatkan perempuan sebagai objek pelampiasan bahkan kekerasan. Konten pornografi yang komersil dan ditujukan kepada masyarakat umum menjadi sangat berbahaya terhadap perempuan. Terlebih kondisi masyarakat yang minim pengetahuan dan pemahaman terhadap perempuan dapat menjadi predator yang berbahaya bagi perempuan. Hal tersebut mendorong masyarakat khususnya laki-laki untuk melakukan tindakan kriminal terhadap seksualitas perempuan. Seringkali ditemukan kasus-kasus pemerkosaan dan kekerasan seksual yang dialami oleh perempuan, tanpa memandang usia dan strata sosial. Patriarki ekstrim juga memperburuk masalah ini. Perempuan sering disalahkan menjadi pengundang syahwat laki-laki melakukan tindakan kriminal. Pendapat bahwa perempuan jangan menggunakan pakaian seksi dikarenakan memancing laki-laki untuk melakukan pemerkosaan tidak selamanya benar dan menjadi pembenaran. Di salah satu pameran di Brussel, Belgia, menampilkan pakaian-pakaian korban pemerkosaan dan buktinya tidak hanya pakaian seksi, bahkan dengan seragam polisi pun wanita tetap menjadi korban pemerkosaan dan pelecehan seksual. Jika memahami apa yang ditampilkan dalam pameran tersebut, kita dapat menyipulkan dengan akal sehat bahwa perempuan kerap menjadi objek kekerasan dan sama sekali tidak menjadi sebab kekerasan tersebut. Kondisi patriarki masyarakatlah yang mencari pembenaran terhadap kriminalitas tersebut, perempuan yang disalahkan. Lagi-lagi, cara berpikir masyarakat yang primitif seperti ini masih saja dapat dengan mudah kita temukan. Kekerasan terhadap seksual terhadap perempuan tidak bergantung pada seberapa tertutup perempuan, namun bergantung seberapa tingkat kemesuman dan kebiadaban si pelaku.


[3]. Marsinah
Kekerasan kemanusiaan terhadap perempuan juga menjadi rapor merah bagi negara dan pemerintahan. Di Indonesia, pernah terjadi kekerasan terhadap seorang buruh pabrik yang bernama Marsinah. Marsinah adalah seorang buruh progresif yang melakukan gerakan penuntutan terhadap perusahaan dimana ia bekerja. Selang beberapa hari Marsinah ditemukan tak bernyawa dengan kondisi mayatnya yang mengenaskan. Keterlibatan aparat dalam kematian Marsinah menjadi rapor merah bagi Negara dalam hal melindungi kaum perempuan. Sampai sekarang seiring dengan tidak transparannya negara atas marsinah, semakin banyak kasus-kasus kekerasan terhadap pekerja perempuan terutama sekali terhadap buruh migran perempuan. Kasus kekerasan terhadap buruh migran perempuan seperti tidak ada habisnya, diharapkan negara dapat hadir dan menyelesaiakan persoalan tersebut.

Tingkat pernikahan usia dini dan kematian ibu bersalin juga belum ditanggapi secara menyeluruh baik dari pemerintah, masyarakat, dan perempuan itu sendiri. Kurangnya pendidikan dan perlindungan terhadap perempuan dan anak-anak menjadi akar masalahnya. Kondisi masyarkat yang tradisional sering menganggap tabu pendidikan seksual khususnya terhadap perempuan. Masyarakat menganggap pendidikan seksual terhadap perempun adalah hal yang memalukan dan tidak layak. Hal ini lagi-lagi disebabkan oleh Patriarki Eksrim dalam masyarakat, perempuan dikesampingkan.

-

Sudah waktunya kita merubah pemahaman lama yang menempatkan perempuan sebagai masyarakat kelas dua. Dalam momen Hari Perempuan Sedunia ini kita diingatkan untuk melakukan perubahan cara berpikir dan cara menyikapi perempuan dari budaya-budaya patriarki primitif yang masih saja kita temukan dalam segala aspek kehidupan sosial masyarakat kita. Negara, pihak yang paling bertanggungjawab terhadap kehidupan masyarakat khususnya perempuan harus hadir menyelesaiakan setiap masalahnya,, didukung oleh masyarakat yang juga diharuskan turut merubah cara pandangnya terhadap perempuan dari semula yang dianggap remeh dan dikesampingkan menjadi makhluk yang memiliki kesetaraan hak dan segala bentuk penerapan perlakuannya.

Selamat Hari Perempuan Sedunia!

Sumber gambar :






Big Thanks To Readers!
Vrandes - Langit Tjerah
Read more ...

Tuesday, October 10, 2017

Laporan Kegiatan Bakti Sosial | 24 September 2017

Panti Asuhan Rumah Harapan

Pelaksanaan : Minggu 24 September 2017

Berikut laporan mengenai kegiatan Bakti sosial ke Panti asuhan Rumah Harapan edisi ke dua. Hal ini dilakukan sebagai bentuk transparansi kegiatan yang telah kami laksanakan, sekaligus sebagai pertanggungjawaban kepada masyarakat yang telah berpartisipasi.

Cover

Kata Pengantar

Lembar Pengesahan

Lembar Hasil Kegiatan

Lembar Rincian dan Realisasi Donasi

Penutup
Demikian laporan kegiatan Bakti Sosial Panti Asuhan Rumah Harapan yang dilaksanakan pada Hari Minggu tanggal 24 September 2017.
Untuk penjelasan mengenai laporan tersebut bisa hubungi Contact Person kami di,

085711204725 (Vrandes)
085710056745 (Andy)
085640203682 (Arun)

Terima kasih.

Langit Tjerah
Read more ...

Dokumentasi Kegiatan Bakti Sosial

Panti Asuhan Rumah Harapan

Mohon maaf  sebelumnya pelaporan kegiatan baru bisa diupload dikarenakan terkendala kesibukan dari penylenggara, langsung saja berikut laporan kegiatan bakti sosoial Panti Asuhan Rumah Harapan.

Pada hari Minggu, tanggal 24 September 2017 Komunitas Langit Tjerah melakukan kegiatan kemanusiaan berupa Bakti Sosial di Panti Asuhan Rumah Harapan yang beralamatkan di Jl. Raya Suprapto No. 28 Setu, Bekasi. Kegiatan tersebut berupa silaturahmi antara komunitas Langit Tjerah dan Anak Yatim Piatu Rumah Harapan sekaligus penyaluran donasi santunan untuk anak yatim piatu. Acara tersebut diselenggarakan oleh sejumlah pengurus dari Langit Tjerah, yang semuanya memiliki andil dalam kesuksesan acara kemanusiaan tersebut. Mulai dari perencanaan kegiatan, penggalangan donasi, persiapan kegiatan, hingga pelaksanaan kegiatan. Acara tersebut adalah aksi nyata dari Langit Tjerah untuk memperjuangkan sisi kemanusiaan, merangkul orang lain yang sedang membutuhkan sekaligus menanamkan kepedulian lingkungan lewat penyerahan bibit tanaman yang diperuntukkan untuk ditanam di sekitar area Panti Asuhan. Pihak panitia menerapkan prinsip kegiatan Non-Profit dengan tidak menggambil keuntungan sekecil apapun dari uang donasi, untuk keperluan acara panitia mengumpulkan iuran tiap anggota untuk kebutuhan biaya acara. Kegiatan tersebut direncanakan dengan menerapkan prinsip keterbukaan sehingga keteraturan dan kerapiannya terjaga.

Donasi yang terkumpul dari penggalangan dana adalah sebagai berikut,

1.    Donasi dalam bentuk uang

Jumlah Donatur              : 17 donatur dan 1 Forum Belajar
Jumlah Dana Donatur     : Rp. 4.269.000

Donasi yang diserahkan kepada pihak panti adalah sebanyak Rp. 4.269.000


2.    Donasi dalam bentuk makanan

Nama donatur :
a.       Donasi dari DWT (Dhamma Worker Team)
Donasi dari DWT berupa susu dan roti sejumlah 25 pcs.
b.      Donasi dari Sdri. Rochning Mulat
Donasi berupa snack kue basah dan Risols sejumlah 30 pcs
c.       Donasi dari Sdr. Joko Setiawan
Donasi berupa susu Tetrapack dan Makanan Ringan sejumlah 10 pcs

Berikut hasil dokumentasi kegiatanya,



Nama saya Abdul, hobi saya membaca Al-Quran, cita-cita saya menjadi TNI Angkatan Udara :)
Semoga kelak masa depanmu berguna bagia agama bangsa dan negara ya, amiin...


Kreativitas adek-adek Rumah Harapan patut diacungi jempol


Demi mewujudkan cinta terhadap lingkungan Komunitas Langit Tjerah juga menitipkan bibit pohon Pucuk Merah yang akan ditanam di area panti asuhan, hal ini bertujuan untuk menanamkan sifat kepedulian terhadap lingkungan kepada adek-adek Panti Asuhan Rumah Harapan dan orang-orang disekitarnya.



 Diakhir pertemuan tak lupa berfoto ria bersama dengan adek-adek panti yang lucu-lucu sebelum berpisah


Penyerahan donasi dan kepengurusan administrasi kepada pihak panti, biar transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.

untuk kedepannya tetap dijalin hubungan dan kerjasama dengan Panti Asuhan Rumah Harapan untuk saling berangkulan dalam kemanusiaan. Untuk pelaporannya, terpisah dengan dokumentasi ini. Terima kasih atas partisipasinya untuk acara kemanusiaan. Langit Tjerah akan terus berjuang menjadi bagian dari kemanusiaan.
Read more ...

Friday, September 15, 2017

Hutan Untuk Ketahanan Iklim


[1]. Hutan Indonesia
Indonesia mempunyai hutan spesial yang tidak banyak dimiliki oleh negara lain, yaitu hutan tropis. Keberadaan ini menjadikan posisi Indonesia sebagai negara yang kaya namun bagai kapak bermata dua. Satu sisi kekayaan bisa menyejahterakan masyarakat lewat potensi ekonomi yang disimpan, namun sisi lain bisa menyengsarakan masyarakat lewat ancaman bahaya jika tidak dikelola dengan baik. 

Selain menyokong keanekaragaman hayati dan masyarakat yang bergantung pada hutan, hutan hujan tropis memainkan suatu peran vital dalam iklim global dengan kemampuannya menyerap karbon dioksida, gas yang dipercaya oleh ahli sebagai penyebab terjadinya pemanasan global. Pepohonan hutan merupakan suatu komponen yang dapat menyerap karbon atmosfer (carbon sequestration) dan mengubahnya menjadi oksigen melalui proses fotosintesis. Karbon yang diserap diubah menjadi biomassa (carbon sink) sekaligus disimpan dalam sistem sebagai stok karbon (carbon stock). Hutan hujan tropis merupakan penyerap karbon terbaik dibandingkan dengan ekosistem lainnya. Hutan hujan tropis juga berperan dalam menciptakan kondisi cuaca lokal dengan membuat hujan dan mengatur suhu.

Hutan hujan tropis memiliki kemampuan yang baik dalam menyerap dan menyimpan air sehingga dapat dijadikan penyangga dari bencana banjir dan kekeringan global. Ketika musim hujan tiba, hutan hujan tropis dapat mengurangi limpasan air melalui stratifikasi tajuk yang berlapis-lapis sehingga sebagian besar air tetap berada di dalam ekosistem. Sedangkan ketika musim kemarau tiba, kekurangan air dapat ditutupi dari cadangan yang diperoleh selama musim hujan.

Dengan luas hutan sekitar 109 juta hektar pada tahun 2003, Indonesia adalah pemilik hutan hujan tropis terluas ketiga di dunia, setelah Brasil dan Kongo. Tetapi dari luasan hutan yang tersisa, hampir setengahnya terdegradasi. Pada tahun 1997-2000, laju kerusakan hutan Indonesia mencapai 2,8 juta hektar/tahun. Sementara itu, laju kerusakan hutan pada tahun 2000-2005 di Indonesia setara dengan 364 lapangan bola/jam. Menurut data kementerian kehutanan, laju deforestasi Indonesia pada tahun 2003-2011 mencapai 0,82 juta hektar/tahun.

[2]. Kasus Pembakaran Hutan
Deforestasi terjadi karena berbagai faktor yang menumbalkan hutan atas dasar pemenuhan kebutuhan manusia. Organisasi lingkungan, WWF mencatat faktor terbesar yang menyebabkan deforestasi antara lain: konversi hutan menjadi lahan pertanian, pembalakan liar, kebakaran hutan, dan penggunaan kayu bakar. Untuk memenuhi kebutuhan pangan dan energi manusia yang terus membengkak, hutan dibuka menjadi kebun dan area peternakan secara masif. Permintaan yang terus meningkat terhadap kayu internasional, hampir 50% dipenuhi melalui pemanenan kayu di hutan alam secara ilegal. Kebakaran hutan menyumbangkan deforestasi tertinggi dibandingkan faktor lain. Penggunaan kayu untuk bahan bakar juga signifikan mendorong deforestasi. Pusat penelitian kehutanan internasional, CIFOR menambahkan pemicu deforestasi termasuk tekanan kemiskinan dan populasi, saat penduduk mencari lahan garapan, bahan bakar kayu dan bahan bangunan. Di sisi lain, pembangunan infrastruktur, khususnya jalan, pertambangan dan bendungan turut menyokong tingginya laju deforestasi di Indonesia. 

Deforestasi terjadi baik di hutan temperate maupun hutan hujan tropis. Namun dunia sangat mengkhawatirkan laju deforestasi besar-besaran yang terjadi di hutan hujan tropis karena berfungsi sebagai penyangga kehidupan di bumi yang kaya dengan keanekaragaman hayati dan menjadi penyimpan cadangan biomassa paling besar. Kerusakan hutan tropis bertanggungjawab atas seperlima emisi gas rumah kaca di bumi, lebih dari akumulasi jumlah emisi yang dihasilkan kereta, pesawat dan mobil seluruh dunia.

Dampak paling mengerikan dari deforetasi adalah perubahan iklim global. Deforestasi berpengaruh besar terhadap perubahan iklim dalam dua hal. Pertama, perambahan dan pembakaran hutan melepaskan karbondioksida ke atmosfer. Deforestasi mengakibatkan lepasnya karbon yang awalnya tersimpan di dalam pohon sebagai emisi karbondioksida. Hal ini berlangsung dengan cepat apabila pohon dibakar dan berjalan lambat apabila mengalami pelapukan secara alami. Kedua, kerusakan hutan akan mengurangi area hutan yang menyerap karbon dioksida. Kedua peran ini sangat penting dalam pertarungan menghadapi perubahan iklim.

[3]. Perubahan iklim
Sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Meskipun besarnya bahaya belum dapat dipastikan, World Bank memperkirakan dampak perubahan iklim yang signifikan bagi Indonesia adalah: kenaikan temperatur global, curah hujan yang lebih tinggi dan musim hujan yang lebih pendek sehingga merubah keseimbangan air dan energi, kenaikan permukaan air laut, ancaman ketahanan pangan dan menurunnya produktivitas pertanian serta perikanan, ancaman terhadap keanekaragaman hayati dan pemutihan terumbu karang. Dunia juga dihadapkan pada banjir yang lebih sering dan besar, kekeringan, kelaparan serta runtuhnya ekosistem seperti hutan Amazon, punahnya 20-50% dari seluruh rumpun mahluk hidup dan meningkatnya permukaan air laut akibat lapisan es yang meleleh.

Para ilmuwan telah memperingatkan kenaikan suhu global harus berada di bawah 2°C dibanding sebelum revolusi industri untuk menghindari dampak perubahan iklim yang lebih parah. Bumi yang lebih hangat 2°C akan mengubah kehidupan yang kita jalani saat ini. Organisasi lingkungan, Greenpeace menyatakan untuk mendapatkan kesempatan terbaik dalam mempertahankan kenaikan suhu di bawah 2oC, emisi gas rumah kaca harus mencapai puncaknya pada tahun 2015 kemudian harus menurun drastis.

Indonesia berkomitmen untuk menjalani masa depan yang rendah emisi dan berketahanan iklim yang terurai dalam Nationally Determined Contribution (NDC). Indonesia memandang perlu upaya komprehensif adaptasi dan mitigasi berbasis lahan dan laut sebagai sebuah pertimbangan strategi dalam mencapai ketahanan iklim terkait pangan, air dan energi. Pada sektor berbasis lahan, REDD+ atau reducing emissions from deforestation and forest degradation and enhancing carbon stocks in developing countries menjadi komponen penting dari target NDC Indonesia. Forest Reference Emission Level (FREL) Indonesia untuk REDD+ yang mencakup deforestasi dan degradasi hutan serta dekomposisi gambut ditetapkan sebesar 0.568 GtCO2e/tahun untuk pool karbon Above Ground Biomass hingga 2020. Namun upaya tersebut nampaknya belum konsisten dijalankan oleh pemerintah Indonesia melihat masih tingginya angka deforestasi.

Indonesia perlu mengembangkan teknik budidaya tanaman pertanian, kehutanan, dan peternakan yang lebih produktif di area yang sudah ada. Produktivitas yang tinggi akan mendorong terpenuhinya kebutuhan tanpa perlu membuka lahan baru yang mengorbankan hutan. Dengan demikian, angka deforestasi bisa ditekan dan kekhawatiran akan perubahan iklim bisa sedikit teratasi. Upaya ini memerlukan kolaborasi aktif dari semua sektor dan semua pihak agar hutan mampu bertahan untuk perubahan iklim.

Selain itu, pemerintah Indonesia agaknya perlu mencontoh ketegasan pemerintah Bhutan dalam menerapkan kebijakan terkait perlindungan lingkungan hidup yang sangat ketat. Bhutan memperkenalkan serangkaian kebijakan untuk memastikan negaranya tetap netral karbon termasuk amandemen konstitusi untuk menjamin area berhutan tidak kurang dari 60%, dan melarang penebangan untuk ekspor. Bahkan negara ini berambisi untuk menghasilkan nol emisi gas rumah kaca. Kebijakan tersebut dilaksanakan secara konsisten oleh pemerintah dan masyarakat sehingga mengantarkan Bhutan sebagai negara yang menyerap karbon lebih banyak dibandingkan dengan karbon yang dihasilkan atau carbon negative.
[4]. John Muir Quotes
"Tuhan telah merawat pohon-pohon ini, menjaga mereka dari kekeringan, penyakit, longsoran, dan seribu badai dan banjir. Tapi Dia tidak bisa menjaganya dari orang-orang tolol."
- John Muir -


Referensi:

Anna Tosiani, "Buku Kegiatan Serapan dan Emisi Karbon", (Jakarta: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2015).

Center of International Forestry Research, "Peliputan REDD+: Sebuah Panduan bagi Jurnalis tentang Peranan Hutan dalam Menghadapi Perubahan Iklim Global", (Bogor: CIFOR, 2017).

Climate Action Programme, "Bhutan: the World's First Carbon-negative Country", Climate Action Programme News, source: http://www.climateactionprogramme.org/news/bhutan_the_worlds_only_carbon_negative_country, accessed at 5th August 2017

Greenpeace Indonesia, "Hutan Tropis Indonesia dan Krisis Iklim", (Jakarta: Greenpeace Indonesia, 2010).
Fenky Marsandi, "Tinjauan Pustaka", (IPB: Repository IPB, 2017).

Susan Stone, Mario Chacon Leon dan Patricia Fredericks, "Perubahan Iklim dan Peran Hutan", (Jakarta: Conservation International Indonesia, 2010)

United Nation Framework for Climate Change Conference, "Intended Nationally Determined Contribution Republic of Indonesia", UNFCCC Report, source: http://www4.unfccc.int/submissions/INDC/Published%20Documents/Indonesia/1/INDC_REPUBLIC%20OF%20INDONESIA.pdf, accessed at 5th Agustus 2017

William D Sunderlin dan Ida Aju Pradnja Resosudarmo, “Laju dan Penyebab Deforestasi di Indonesia: Penelaahan Kerancuan dan Penyelesaian”, (Bogor: Center for International Forestry Research, 1997).
World Bank, "Adaptasi terhadap Perubahan Iklim: Policy Brief", (Jakarta: Kantor Bank Dunia Jakarta, 2017).

World Wildlife Fund, "Deforestation", diakses dari: http://wwf.panda.org/about_our_earth/deforestation/, pada tanggal 5 Agustus 2017.

World Wildlife Fund, "Hutan Indonesia: Penyerap atau Pelepas Emisi Gas Rumah Kaca?", (Jakarta: WWF Indonesia, 2017).

Sumber gambar :

[1]. http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/05/pantau-langsung-hutan-indonesia

[2]. https://beritagar.id/artikel/berita/kenapa-polisi-menghentikan-penyidikan-kasus-pembakaran-hutan

[3]. http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/11/151116_majalah_dampak_perubahaniklim

[4]. https://www.slideshare.net/toddchandler/12-of-my-favorite-john-muir-quotes


Ditulis oleh : Siti Hudaiyah - Langit Tjerah


Read more ...

Sajakku Kali Ini


Kali ini aku,

Ya, aku akan mengajarkanmu tentang bagaimana cara untuk menderma energi positif kepada khalayak di sekitar yaitu dengan senyum.

Berpuisi, sajakku meniup jiwa-jiwa yang gerah.




Burung Tak Bersangkar
Oleh : Dedi. S.

Kicau burung membangunkan hangat matahari
Bebaslah kau terbang kesana kemari
Tak sepertiku yang tersangkar dalam jemari

Mungkinkah kau lelah mengudara?
Istirahat sejenak di dahan nan rimbun
Pinjamkan sayapmu padaku
Ku ingin merasakan terbang bebas
Merasakan angin yang menghempas
Menyapa langit-langit yang mengelupas

Bahagia rasa ini tak berupa
Menjelajahi kebebasan yg terlepas
Akankan ku menjelma sebagai burung tak bersangkar?




Selamat Tidur!
Oleh : Dedi. S.

Hari menuju larut gelap
Terang mulai meredup
Namun bulan masih menderang
Bintang kian mengangkang
  
Rasaku hari ini telah hilang
Lelah mengumpat segala problema
Pandang lalu menyempit
Buat ku terbuai imaji bawah sadar

Kurelakan raga terbuai lara
Tapi jiwa tetap terjaga
Melumuti imaji yang kian mendalam
Terlelap ku di dalam pelukan alam



"Maka tersenyumlah dengan tulus"




Ditulis oleh : Dedi. S.
Read more ...

Monday, August 14, 2017

Sajak Cinta, Sajak Kehidupan


Rindu
Oleh : Dedi. S.

Dimana?
Ya kamu dimana?
Di bumi? Di bumi yang mana?
Aku tak pernah lagi melihat mu, menggapai mu, apalagi berjumpa

Apa mungkin aku? Aku yang terlalu naif menunggu beribu purnama
Menunggu, menunggu, hingga menunggu

Tersipuh dibalik lentera padam membuat nyaliku mengeram
Awal mengawali hari, akhir mengakhiri hari
Begitu pula dengan ku
Tetap ku terdiam terpojok dalam titah "Aku Rindu Kamu"




Tangan Kiri
Oleh : Dedi. S.

Manismu memohok kerongkongan ini
Menjebakku kedalam belerang pilu nan semu

Fantasipun mengolok kesendirian ku

Membawa fase ku, dimana meneguk racun keterpurukan




Jiwa Rindu
Oleh : Dedi. S.

Kenapa?
Sampai kapan aku bertengkar pada dingin gelap?

Pilu ini membuat gemetar apa yang ku eratkan
Angin rindu membangunkan jiwa pujangga ini
Secarik kertas pun kukepal erat dengan terbalutkan tinta pena merana
Apakah ini kutukan dari bunga yang layu?

Menjajarkan ku dalam keramaian yang tandus
Terhempas bak kerikil tak berbeban
Bagai ku berjalan diatas laut, tak sanggup lalu tenggelam






Written By : Dedi. S. - Langit Tjerah
Editor : Vrandes

Read more ...
Designed By Langit Tjerah