Langit Tjerah menerima donasi buku bekas, buku baru, maupun alat pendidikan yang lainnya untuk kami salurkan kepada Komunitas Pendidikan maupun Taman Baca yang membutuhkan, silahkan hubungi contact person. Terima Kasih.
Showing posts with label Perang. Show all posts
Showing posts with label Perang. Show all posts

Monday, July 24, 2017

LANGIT TJERAH

Tentang Langit Tjerah...

[1]. Langit Tjerah
Manusia sejatinya adalah makhluk sosial, atau dalam ilmu sosial sering diistilahkan Homo Socius. Sudah menjadi fitrah manusia untuk saling berhubungan satu sama lain untuk keberlangsungan hidupnya. Sangat mustahil bahwa manusia dapat bergantung sendiri, mengandalkan diri sendiri, bahkan lebih ekstrim lagi seolah-olah buta terhadap lingkungan sekitarnya. Oleh karena manusia bersifat makhluk sosial, maka manusia merasa saling membutuhkan diantara sesamanya atau sering diistilahkan sebagai Zoon Politicon. Kebutuhan inilah yang membuat manusia akan membentuk kelompok masyarakat walaupun dengan latar belakang, jenis kelamin, ras, suku maupun nasib yang berbeda satu dengan lainnya. Sudah sepantasnya bila fitrah manusia menjadi makhluk sosial, harus peka terhadap lingkungan sosial disekitarnya.

Keberadaan manusia dalam lingkungan sosial dipenuhi dengan perbedaan, mulai dari perbedaan warna kulit, agama, kepercayaan, hingga perbedaan nasib. Hal inilah yang bernilai ganda seperti dua mata pedang. Disatu mata perbedaan tersebut akan menjadikan konflik antar manusianya, di satu mata yang lain justru perbedaan tersebut akan menjadikan manusia menjadi makhluk yang sangat toleran dan saling menghargai untuk kehidupan bersosialnya. Namun walaupun manusia tercipta dalam berbagai perbedaan, ada satu inti yang menjadi persamaan diantara perbedaan itu. Persamaan diantara perbedaan manusia tersebut adalah “Kemanusiaan”.

Oleh karena nilai kemanusiaan tersebut kami memiliki prinsip yang sama yaitu “Menjadi manusia untuk Kemanusiaan” sehingga kami digerakkan dan berpandangan bahwa Langit akan selalu cerah bagi mereka yang meyakininya.
[2]. Aktivis Langit Tjerah
Langit Tjerah adalah sebuah perkumpulan orang-orang yang peduli dan memperdulikan kehidupan sosial yang berperikemanusiaan. Perkumpulan ini dilatarbelakangi oleh perasaan beberapa orang yang melihat realita kehidupan yang masih jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Kami memperjuangkan Perdamaian, Cinta, dan Kemanusiaan dengan wujud kegiatan-kegiatan kemanusiaan yang memiliki tujuan mengangkat kehidupan yang lebih baik. Makna dari nama Langit Tjerah (ejaan lama) adalah sebuah pandangan kami tentang kehidupan berperikemanusiaan yang seluas dan tak terbatas seperti Langit, dan Tjerah (ejaan lama) secerah nilai-nilai kehidupan yang raya. Untuk mewujudkan prinsip dan pandangan tersebut kami membuat kegiatan-kegiatan yang berisi aksi nyata dalam mewujudkan nilai kemanusiaan itu. Bahwa ada saudara-saudara yang berada disekeliling kita membutuhkan rangkulan dan dukungan berupa semangat, kepercayaan diri, dan materi untuk kita usahakan bersama. Dan kita sebagai Homo Socius sudah sepantasnya tidak melalaikan hal tersebut. Kami bukanlah sebuah organisasi dalam arti organisasi yang berbadan hukum, melainkan kami hanya sekelompok muda-mudi yang tergabung atas dasar nilai kemanusiaan. Terlepas dari ormas, partai politik, perusahaan, maupun instansi yang lainnya, bahkan diantara kami sendiri ada beberapa yang baru kenal. Kami tergabung dalam aksi nyata walaupun tidak dalam bentuk Ormas, Parpol, maupun instansi lainnya, oleh karena itu kita bergerak sebagai free humanitarian provider yang bebas dari tekanan kepentingan dan juga tentunya bercorak Non-Profit. Perkumpulan ini terbentuk pada tanggal 30 Mei 2017, dengan anggota yang bebas dan tidak membeda-bedakan. Untuk sementara ini Langit Tjerah belum menjadi organisasi berbadan hukum, artinya sebatas perkumpulan bebas namun tetap mengedepankan transparansi.
[3]. Salah Satu Kegiatan Langit Tjerah
Aktivitas dalam Langit Tjerah terdiri dari Bakti Sosial ke Panti Asuhan, Perpustakaan Jalanan, Bakti Sosial ke Perkampungan Kumuh, Menulis Artikel, Kampanye Perdamaian, dan kegiatan-kegiatan lain baik dalam dunia nyata maupun dunia maya. Dalam setiap kegiatan yang berhubungan dengan biaya apalagi donasi, kami selalu membuat pelaporan yang transparan mengenai penggunaan dana kegiatan tersebut dan dapat diakses di Blog kami yang mana semua kalangan baik yang terlibat ataupun tidak terlibat dapat mengetahuinya.

Visi : Memperjuangkan Nilai-Nilai Kemanusiaan Untuk Kehidupan Yang Raya
Misi :
Melakukan kampanye tentang nilai-nilai kemanusiaan,
Melakukan kerjasama dengan pihak-pihak pemberdaya bantuan sosial,
Melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat  aplikatif tentang nilai-nilai kemanusiaan,
Melibatkan diri dalam usaha mengangkat kehidupan masyarakat

Slogan
“Be Human for Humanity, For Peace, Love and Humanity. Come Join Us!”

Lingkup
Kehidupan Sosial
Kemanusiaan
Perdamaian
Cinta Sesama Kehidupan
Lingkungan Hidup
Kritik Politik
Kritik Sosial
"Without action, you aren't going anywhere"
-Mohandas Gandhi-

Sumber Gambar :
[1]. Foto Anak-anak Pulau Sibesi, 16 Juli 2017, Lampung
[2]. Foto Kegiatan Bakti Sosial Panti Asuhan Rumah Harapan, 18 Juni 2017, Bekasi
[3]. Foto Kegiatan Bakti Sosial Panti Asuhan Rumah Harapan, 18 Juni 2017, Bekasi


Written By : Vrandes. S. Cantona - Langit Tjerah
Big Thanks to Readers!

Read more ...

Sunday, July 23, 2017

Bias Penilaian Mayoritas Muslim Indonesia Terkait Konflik Israel-Palestina


[1]. Israeli-Palestinian Conflict
Konflik Israel-Palestina adalah luka yang cukup serius bagi sejarah kemanusiaan dan perdamaian bagi kehidupan umat manusia, khususnya bagi muslim dunia. Bagaimana tidak, konflik tersebut sudah berpuluh-puluh tahun tak kunjung selesai dan pastinya sudah merenggut banyak jiwa yang mungkin tak berdosa. Mayoritas di dunia hanya melihatnya sebagai konflik Islam-Yahudi, lebih dari itu konflik ini sesungguhnya adalah konflik politis yang dibelakangnya ada peran Elit AS dan tentunya Elit Zionis. Kita pernah membahas sejarah konflik ini sebelumnya, sehingga dalam pembahasan ini tidak akan mengulang pembahasan yang sama. Dalam pembahasan ini akan lebih membahas perkembangan konflik selama kurun sepuluh tahun terakhir.

Dukungan dunia terhadap penyelesaian konflik ini tidak diragukan lagi, terlebih dukungan solidaritas umat Islam di seluruh Dunia. Melalui slogan, bantuan kemanusiaan, bahkan hingga bantuan diplomasi dari negara-negara yang peduli. Seperti halnya Indonesia, Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Yang mana muslim Indonesia terkenal dengan solidaritasnya terhadap muslim di lain negara. Dalam hal ini, masyarakat muslim Indonesia bisa dikatakan sebagai masyarakat muslim yang paling peduli terhadap pembebasan Palestina. Tak jarang kita jumpai perjuangan muslim Indonesia dalam menyuarakan pembebasan Palestina di media sosial. Namun, bagi yang telah memahami peta konflik yang sesungguhnya, dan siapa yang berperan dibaliknya, akan menjumpai ‘Bias Penilaian’ dalam kampanye yang dilakukan oleh sebagian besar muslim Indonesia. Kita akan bahas satu persatu bias yang dimaksud, singkirkan sejenak pemikiran yang terlalu egoistis sebab kebenaran tak akan pernah diterima oleh pemikiran egoistis yang keterlaluan.

[2]. Konflik Fisik Israel-Palestina
Jelas kita tahu yang menjadi pelaksana konflik adalah Israel dan Palestina, sejarahnya bagaimana, hingga perkembangan tiap masanya. Yang belum kita luruskan disini adalah siapa yang berperan dibalik konflik tersebut, siapa pendukung Israel dan siapa pendukung Palestina yang sebenarnya. Kita akan sajikan negara mana saja yang ‘tidak konsisten’ mendukung Palestina atau bahkan bisa dibilang ikut ‘mencederai’ Palestina, yang anehnya di Indonesia malah dipuja-puja oleh pendukung Palestina. Hal ini yang penulis sebut sebagai ‘Bias Penilaian’ terkait konflik Israel-Palestina. Semoga dengan adanya tulisan ini, kita menjadi ‘melek mata’ terhadap realita yang terjadi, kita menjadi tahu siapa lawan dan siapa kawan, dan pada akhirnya kita menjadi bagian dari solusi perdamaian, bukan malah menambah keruh situasi dengan bias penilaian kita.

Jelas, kita melihat Amerika sebagai ‘sponsor’ utama Israel dalam melakukan kebiadabannya terhadap Palestina. “Hubungan mesra antara Intelektual Amerika dan Israel berawal dari kemenangan besar militer Israel atas Dunia Arab”[1]. Amerika sangat memainkan peran dalam mendukung Israel atas invasinya terhadap Palestina. Kita melihat Israel-AS selalu menggunakan strategi ‘pasang umpan, tarik ikan’, katakanlah Israel memancing beberapa pemuda Palestina untuk melakukan kekerasan terhadap beberapa warga Israel dan sebagai balasannya Israel melakukan pembantaian yang luar biasa terhadap penduduk Palestina. Itu adalah jalan yang sangat munafik bagi Israel dan AS, Sengkuni bagi cerita kehidupan umat manusia. Dan, saya yakin Muslim Indonesia sudah banyak yang tahu tentang persoalan ini. Banyak muslim Indonesia yang ‘tidak menyukai’ AS terkait peranannya dalam konflik Israel-Palestina ini. Namun, ketidaksukaan itu hanya berdasar kepada perlakuan AS yang tampak saja, padahal banyak sekali perlakuan yang tidak tampak atau berupa ‘invisible hand’ AS Israel dan Negara Arab yang mendukung terhadap kebiadaban ini.

[3]. AS-Israel
Kenyataannya kita dapat melihat dan memahami, bahwa muslim Indonesia membela Palestina atas dasar solidaritas keagamaan, yang mana dalam kenyataannya muslim Indonesia juga mendukung negara-negara Islam yang ‘tak konsisten’ dalam mendukung pembebasan Palestina. Negara-negara tersebut menjadi ‘penjilat’ AS di kawasan, karena kita melihatnya bedasarkan bukti yang selama ini kita ikuti perkembangannya. Anehnya, justru negara-negara atau tokoh-tokoh yang mendukung penuh pembebasan Palestina malah dicaci-maki oleh muslim Indonesia yang mendukung Palestina. Dan kita melihat fenomena tersebut karena lagi-lagi disebabkan oleh ‘bias penilaian’ muslim Indonesia. Bahwa memang AS dan koalisi Negara Kawasan memainkan media mainstream seperti BBC, Al-Jazeera (dulu), NTC dan lainnya, seakan-akan bahwa negara-negara atau tokoh-tokoh yang mendukung perjuangan Palestina dikesankan sebagai ‘sesat’, kejam, tiran, maupun zalim. Dan muslim Indonesia mengamini hal tersebut sehingga tak lagi mampu melihat mana kawan dan mana lawan. Mari kita bahas satu persatu ‘belang’ negara-negara Islam yang tak konsisten mendukung Palestina, yang ironisnya malah didukung pula oleh Muslim Indonesia.

Perlu kita ketahui, AS dan Israel juga merangkul beberapa negara di kawasan Timur Tengah dan menjadikannya koalisi. Sebutkanlah Arab Saudi, bagi yang mampu melihat secara jernih tak asing dengan peran Saudi dalam berkomplot dengan AS-Israel. Naifnya, banyak muslim Indonesia yang mendukung Palestina namun juga menjadi ‘pengikut dan pemuja’ Saudi Arabia. Hanya karena Arab Saudi merupakan negara muslim, negara tersebut dipuja tanpa mampu melihat belangnya melukai perjuangan kemerdekaan Palestina. Terutama ketika musim haji pada tahun 2013, Ditengah romantisme perjuangan solidaritas kemerdekaan Palestina sedang hebat-hebatnya Saudi malah menyewa jasa keamanan dari Israel untuk mengamankan Ibadah Haji. “G4S al-Majal, salah satu cabang dari perusahaan keamanan G4S dipercaya sudah mengawal pengamanan haji sejak 2010”[2].  Hal ini sangat menyakiti hati umat Islam (yang melek mata) terkait Palestina. Imam Masjid Al-Aqsa, Syekh Ekrima Sabri pernah mengatakan, “Mereka membantu penjajah adalah penjajah juga.” menyikapi persoalan ini. Juga ketika Arab Saudi dan Israel mulai mebahas tentang kerjasama keamanan di kawasan regional, semakin memperlihatkan Arab Saudi menjadi kawan Israel dan tak lagi pantas untuk dipuja oleh kita yang mendukung kemerdekaan Palestina.  Menhan Israel, Mattis mengatakan,”Koalisi Amerika dengan Israel adalah batu fondasi keamanan regional yang sangat luas. Keamanan regional ini mencakup kerjasama dengan Yordania, Mesir, Saudi, dan sekutu-sekutu Amerika di negara-negara Teluk. Tujuan saya adalah meningkatkan partisipasi Amerika di kawasan untuk melenyapkan ancaman dan pada akhirnya, menakut-nakuti musuh-musuh kita.”[3]. Kerjasama AS-Israel-Saudi merupakan sedikit ‘kode’ untuk memahami negara Saudi sebagai ‘pengkhianat’ bagi perjuangan perdamaian Palestina. Namun, lagi-lagi karena bias penilaian Muslim Indonesia, justru Saudi yang jelas-jelas mengkhianati perjuagan perdamaian Palestina malah dipuja-puja tanpa melihat dengan mata yang jernih apa yang sebenarnya terjadi.

[4]. Saud and Israel Summit
Itu baru dua buah bukti, masih banyak bukti lain yang sangat menguatkan bahwa Saudi adalah ‘pelayan setia’ AS dan Israel, tak pantas lagi disebut sebagai ‘pelayan kota suci umat Islam’. Coba kita lihat, Kedubes AS dan Israel masih bercokol dan mengakar di Saudi Arabia, seharusnya jika Saudi konsisten dalam solidaritas umat Islam pasti akan menolak segala macam atribut maupun kerjasama dengan AS dan Israel, Arab Saudi akan mengikuti Suriah maupun Iran dalam memboikot Israel dan AS. Tapi kenyataannya justru terbalik, Arab Saudi malah bermesraan dengan AS dan Israel bahkan ikut memusuhi Iran maupun Suriah (Assad). Hanya karena alasan Iran merupakan ‘ancaman’ bagi kehidupan Timur Tengah, Ancaman yang mana? Ancaman bagi Timur Tengah ataukah ancaman bagi bisnis AS-Israel-Saudi di Timur Tengah?. Apakah hanya karena Iran mengembangkan senjata Nuklir yang dapat mengancam kehidupan Timur Tengah? Bukankah Israel juga merupakan negara berkekuatan Nuklir juga? Apakah karena Iran membangkang terhadap AS dan Koalisinya sehingga beribu fitnahan keji melalui media mainstream dilontarkan kepadanya secara biadab?. Bukti selanjutnya adalah adanya pertemuan rahasia oleh Arab Saudi-Israel terkait kerjasama memusuhi Iran. “Bloomberg baru-baru ini di laporannya menulis, wakil dari Arab Saudi dan Israel menggelar lima pertemuan rahasia. Pertemuan tersebut digelar sejak tahun 2014 di India, Italia dan Republik Cheko. Agenda pertemuan rahasia ini adalah permusuhan kolektif Tel Aviv-Riyadh dengan Republik Islam Iran”[4]. Lagi-lagi karena bias penilaian muslim Indonesia, mereka tak mampu lagi melihat realita yang terjadi mengenai konflik di Timur Tengah.

Negara lain yang ikut mendukung Israel namun di puja-puja oleh muslim Indonesia yang mendukung Palestina adalah Turki. Memang, Turki pernah menyatakan hubungan ‘kurang baik’ terhadap Israel ketika terjadi bentrokan armada Gaza. “Hubungan tersebut menegang sejak Konflik Israel-Gaza 2008-2009 dan bentrokan armada Gaza yang menewaskan sembilan warga negara Turki”[5]. Kala itu Erdogan muncul bagaikan dewa dan mengatakan bahwa tindakan Israel atas insiden di Gaza tidak bisa dibenarkan.  Namun belum lama ini, Turki mulai ‘menerima kembali’ Israel sebagai sekutu. Turki mulai melupakan insiden itu dan kembali melakukan ‘normalisasi’ hubungan antar kedua negara tersebut. “Israel dan Turki akhirnya sepakat untuk menormalisasi hubungan diplomatik sekaligus mengakhiri rengganggnya hubungan akibat insiden kapal Mavi Marmara pada 2010. Saat itu, kapal Mavi Marmara yang mengangkut pada aktivis dan bantuan bagi warga Jalur Gaza diserbu pasukan khusus Israel dan menewaskan 10 aktivis Turkis. Para pejabat senior kedua negara mengatakan, pengumuman resmi soal perbaikan hubungan ini akan disampaikan pada Senin (27/6/2016). Pengumuman resmi menurut rencana akan disampaikan PM Israel Benyamin Netanyahu dan PM Turki Binali Yildirim.”[6]. Pantaskah bagi sebuah negara (mayoritas) Islam, yang mengedepankan solidaritas Islam, namun justru malah melukai perjuangan yang dielu-elukan oleh umat Islam yaitu Kemerdekaan Palestina?. “Berdasarkan data Kamar Dagang Israel, ekspor Israel kepada Turki meningkat 39 persen dari 648 juta dolar pada pertengahan 2010 menjadi USD 950 juta pada pertengahan 2011. Pada periode yang sama, Impor dari Turki meningkat 16 persen dari 907 juta dolar menjadi 1,05 miliar dolar”[7]. Angka yang fantastis bagi Negara yang selalu dielu-elukan oleh muslim Indonesia yang anti Israel namun memuja Turki yang sangat ‘menyayangi’ Israel. Kita juga tak bisa memungkiri bahwa Lagi-lagi dikarenakan bias penilaian muslim Indonesia, sehingga tak bisa melihat realita dan data terkait konflik Israel dan Palestina. Sampai sekarang, Turki masih membuka lebar pintu negaranya untuk Kedutaan Israel, yang mana seharusnya jika Turki memang mengedepankan Solidaritas Islam, Turki akan menutup rapat-rapat pintu gerbang negaranya untuk Israel.

Sebetulnya, Indonesia pun sebenarnya sudah menunjukkan konsistensinya dalam menolak kebiadaban Israel. Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. “Indonesia berkomitmen memberikan bantuan capacity building bagi warga Palestina yang direalisasikan dalam bentuk pelatihan diplomatik bagi para diplomat Palestina setiap tahun”[8]. Anehnya, banyak Muslim Indonesia justru tidak melihat hal ini. Kebanyakan dari mereka malah melihat Arab Saudi dan Turki sebagai negara yang ideal dalam mendukung Palestina, padahal kalau kita lihat dan kita runut secara halus, mereka adalah pengkhianat terhadap nilai-nilai perdamaian dan solidaritas. Justru Indonesia adalah negara yang sangat aktif dalam pembebasan Palestina, ironisnya Muslim Indonesia tak menyadari hal ini dan justru beberapa ada yang menghujatnya tanpa didasarkan pada realita dan data. Kita menghadapi persoalan yang cukup menjijikan terkait bias penilaian ini. Sebab, dengan adanya bias penilaian ini bukannya menjadi solusi atas persoalan Israel-Palestina justru menambah ketidakjelasan atas konflik yang terjadi. Katakanlah kita menyebut ISIS ataupun organisasi yang serupa (FSA yang lain) sebagai Jihadis, namun apakah mereka ikut membebaskan palestina?. Mereka hanya menjadi ‘sewaan’ untuk melakukan penjarahan suatu bangsa dengan metode teror dan aksi barbar.
Sebagai akhirnya, tulisan ini adalah upaya ‘meluruskan’ tentang apa yang terjadi sebenarnya, dan kita dapat melihat secara jernih mana yang harus dibela dan mana yang harus dengan hati-hati kita dalam menyikapinya. Sebab, penulis melihat jika bias penilaian ini tidak segera diluruskan tak akan meningkatkan fokus terhadap penyelesaian konflik yang terjadi. Kita hanya akan disibukkan dengan omong kosong dan ketidakmampuan dalam melihat suatu kebenaran.

[5]. Peace for Palestine
"War Is Over! If you want it."
-John Lennon-


Sumber :
[1]. Noam Chomsky, How The World Works, terj. Tia setiadi, (Yogyakarta : Bentang, 2017), hal. 381.

[2]. Ardini Maharani, Merdeka.com, “Amankan haji, Saudi sewa keamanan swasta Israel”, https://www.merdeka.com/dunia/amankan-haji-saudi-sewa-keamanan-swasta-israel.html

[3]. Hadi, Liputanislam.com, “Israel dan Negara-negara Arab Bentuk NATO Timteng?”, http://liputanislam.com/internasional/israel-dan-negara-negara-arab-bentuk-nato-timteng/

[4]. Parstoday.com, “Kerjasama Arab Saudi-Israel, Bencana bagi Palestina”, http://parstoday.com/id/news/middle_east-i8485-kerjasama_arab_saudi_israel_bencana_bagi_palestina

[5]. Wikipedia, “Hubungan Israel dengan Turki”, https://id.wikipedia.org/wiki/Hubungan_Israel_dengan_Turki

[6]. Ervan Hardoko, Kompas.com, “Turki Dan Israel Sepakat Pulihkan Hubungan Bilateral”, http://internasional.kompas.com/read/2016/06/27/15021881/turki.dan.israel.sepakat.pulihkan.hubungan.bilateral

[7]. Arman Dhani, Tirto.id, “Benci Tapi Rindu Israel-Turki”, https://tirto.id/benci-tapi-rindu-israel--turki-buKi

[8]. Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia, “Posisi Indonesia Terhadap Kawasan Timur Tengah”, http://kemlu.go.id/id/lebijakan/kerjasama-bilateral.aspx

Sumber Gambar :


Written by : Vrandes Setiawan Cantona - Langit Tjerah
Big Thanks To Readers!
Read more ...

Thursday, July 20, 2017

Bisnis Terorisme, Upaya Menghancurkan Sebuah Bangsa Secara Halus


[1]. Teroris
Bukan sebuah hal yang aneh bila kita mendengar kata ‘terorisme’, hampir kita dengar setiap harinya. Apabila mendengar kata terorisme mungkin otak kita akan langsung berpikir tentang pembunuhan, sadisme, perang, kekacauan, dan mungkin beberapa akan berpikir tentang radikalisme agama. Itu semua dapat dibenarkan, sebab memang tujuan dari terorisme adalah menciptakan ‘teror’’. Teror biasanya dilakukan untuk menjadikan suasana panik dan ketidakpercayaan. Membicarakan tentang terorisme adalah merupakan pembahasan subyektif, tergantung berada di pihak yang mana kita. Bisa di pihak yang netral, pihak pemerintah, dan pihak oposisi. Dalam bahasan kali ini, kita akan menempatkan diri di pihak yang netral dan dengan menggunakan kacamata kemanusiaan. Sebab aksi teroris sudah jelas merupakan aksi kriminal dan sebuah kejahatan, artinya tidak bisa dibenarkan dari sisi kemanusiaan walaupun dikuatkan dengan alasan agama, bangsa, hukum maupun alasan yang lain. Pembunuhan adalah sebuah kejahatan, sekalipun membunuh seorang pembunuh. Seperti perkataan John Lennon, “I don’t believe in killing, Whatever the reason!”.

[2]. John Lennon
Kita akan membahas aksi teror dan permainan busuk pemilik kepentingan politik yang akhir-akhir ini terjadi, contohnya yang melanda di kawasan Timur Tengah. Konflik di Timur Tengah menghangat ketika Arab Spring, yaitu gelombang demonstrasi hingga penggulingan rezim yang dimulai tahun 2010/2011. Diketahui juga AS memainkan perannya di Timur tengah dengan alasan Demokratisasi, Menghentikan proyek WMD (Weapon of Mass Destruction), dan ‘anti-terorisme’. Dalam hal ini AS mendukung upaya pemberontakan dan mendikte kebijakan setelah rezim tumbang. Sebetulnya jauh sebelum itu, pada 2003 Bush menyatakan problema Timur Tengah yang memungkinkan mengancam stabilitas AS. Pernyataan Bush tersebut menjadi alat justifikasi AS untuk mulai memainkan peran di dunia Timur Tengah. Chomsky pernah mengatakan bahwa AS sebetulnya tidak menginginkan Timur Tengah mendapatkan demokrasi (dalam arti sesungguhnya), sesungguhnya AS hanya menjatuhkan kediktatoran yang tidak sejalan dengan kepentingannya.

[3]. Noam Chomsky, "Orang AS yang paling anti AS"
Perang melawan terorisme dibuka dan menjadi terang-terangan usai tragedi 9/11 yang sangat konspiratif itu. Dengan dimulainya perang terhadap terorisme, AS semakin bebas melakukan intervensi terhadap suatu negara dengan dalih ‘memerangi teroris’. Diperparah dengan merangkul NATO maupun Sekutu Non-NATO. Tapi apakah betul jika AS dan Sekutunya benar-benar memerangi teroris? Ataukah AS dan Sekutunya hanya memainkan peran kotor untuk tujuan menguasai sumber daya alam maupun manusianya?. Jangan-jangan AS dan Sekutunya juga diam-diam mendanai teroris untuk bisnis yang biadab ini. Sebagai bahasan, kita akan mengangkat konflik di Suriah pada pemerintahan Assad. Konflik ini dimulai sekitar tahun 2011, berupa upaya penggulingan Assad dengan memanfaatkan isu sekterian dan menggorengnya hingga matang menjadi konflik yang luar biasa. Sebetulnya erat kaitannya dengan pembangunan Pipa Migas Suriah, kita melihat upaya penggulingan Assad adalah sebuah upaya untuk memperebutkan jalur pipa migas tersebut. Iran dan Qatar adalah sumber cadangan Gas alam yang besar, Ironisnya Iran mengalami embargo dunia internasional dan AS melirik Qatar (sebelum Qatar dikucilkan dari dunia Timur Tengah) sebagai Sekutu yang lumayan kuat di Dunia Timur Tengah. Jika dimenangkan oleh Qatar, maka akan mendapatkan banyak keuntungan seperti menghemat operasional dan memberikan peluang untuk Qatar dan Turki (Sekutu AS) mendominasi pasar. Assad menolak menandatangani perjanjian itu sehingga memancing amarah negara Sekutu AS di kawasan. Segera setelah AS mendengar kabar itu, dimulailah skenario penggulingan Assad dengan memanfaatkan ‘Terorisme’. Menurut Wikileaks, AS (CIA) mulai mendanai beberapa kelompok teroris di Suriah untuk menggulingkan Assad. Pada tahun 2012 ada laporan mengenai kekuatan utama dalam menciptakan konflik di Suriah, AS dan Koalisi di Timur tengah mendukung milisi seperti Ikhwanul Muslimin dan ISIS. Seiring perkembangan kasus, AS juga mendukung penuh upaya Arab Saudi (Sekutu mesranya) untuk menyebarluaskan doktrin terorisme yang memungkinkan untuk mendapatkan bala bantuan secara sukarela dari pengikutnya. Dengan memberikan dukungan kepada beberapa media dakwah seperti Channel TV, Radio, Jejaring Sosial, hingga melatih dan meciptakan da’i-da’i yang berpaham teroris. Doktrin tersebut menyebar ke seluruh negara-negara di dunia, sehingga dalam sepak terjangnya ISIS maupun kelompok jihadis lain beranggotakan warga negara lain yang memang secara sukarela menjadi bagian dari kelompok tersebut. Dalam hal ini Saudi sebagai sekutu sejati AS memegang proyek ini secara masif dan nyaris tidak kelihatan. Menurut Chomsky, Diantara negara Islam, Arab Saudi jauh memimpin sebagai teror Islam. Bukan hanya lewat pendanaan langsung oleh orang kaya di Saudi dan kawasan teluk, melainkan juga melalui semangat misionaris. Semangat ini menyebarluaskan ajaran ekstrem versi Islam Wahabi-Salafi melalui pendidikan Al-Qur’an, ulama, dan sarana lain. Tujuannya untuk menegakkan kediktatoran berbasis agama dengan kekayaan minyak yang melimpah. ISIS adalah cabang kelompok ekstrimis Saudi dan kini mengobarkan api jihad [1]. Kita tidak meragukan analisis dari Chomsky, melihat bahwa memang Saudi sedang gencar-gencarnya melawan Suriah yang berkomplot dengan Iran. Dan memang tidak diragukan lagi bahwa penyebaran doktrin tersebut sudah ke berbagai belahan dunia. Dengan doktrinasi tersebut, kelompok jihadis akan mendapatan batuan secara gratis baik persenjataan, makanan, uang, maupun tenaga. Hal yang tak kalah bahayanya adalah seakan-akan Saudi sedang membuat ‘sel-sel aktif’ di negara lain, sehingga sewaktu-waktu sel hidup tersebut menjadi teroris di negerinya, hanya tinggal waktu aktivasinya.

[4]. Koalisi AS-Saudi-Israel
Sejurus waktu, jihadis-jihadis di Suriah mulai terlihat belangnya dan mulai terpojok. Sehingga mau tidak mau mereka harus kembali ke negara asalnya. Koalisi di kawasan teluk pun mulai merenggang setelah menghadapi kekalahan demi kekalahan tersebut. Dalam hal ini, bagi AS si negeri pecinta demokrasi itu (katanya), tidak melihat lagi mana yang demokratis mana yang ekstrimis. Bagi AS persetan dengan mana yang yang demokratis mana yang ekstrimis, keduanya adalah kawan selama mereka menguntungkan. Inilah standar ganda si Paman Sam keparat, selama menghasilkan mereka adalah rekan, kalau sudah tidak menghasilkan mereka bisa didepak kapan saja. Dan kita melihat itu dalam persoalan terorisme ini.

Terorisme menjadi bisnis yang sangat menguntungkan, bila kita melihat sepak terjang ISIS di Timur Tengah. Mereka merampok kilang minyak, menjarah bangunan bersejarah, merampok dan menjualnya. Putin pernah menuduh Turki yang disinyalir membeli minyak secara ilegal dan murah, dengan menyodorkan beberapa data terkait ‘belang’ tersebut. Soal kebenaran siapa pembelinya, yang pasti teroris-teroris itu pasti memberikan keuntungan bagi ‘majikan’ mereka, sebagai timbal balik atas perlakuan majikannya. Tetapi, persoalan baru muncul ketika Suriah mulai membersihkan diri dari anjing-anjing gila itu. Jihadis-jihadis mulai menyebar beberapa ada yang kembali ke negara asalnya, ada yang pindah markas, bahkan ada yang mencari ladang baru.

[5]. Indonesian ISIS Lovers
Hal ini yang menjadi permasalahan baru, contohnya saja di Indonesia. Bertahun-tahun ideologi ekstrim dari Saudi disebarkan di negeri ini, hingga seiring waktu bertambah banyak pengikutnya bahkan mulai menjadi tren di kalangan muda. Mereka adalah Bom Aktif yang tinggal menunggu si majikan tekan detonatornya. Semakin mendekat, kelompok teroris sudah siap menggorok Indonesia. Di seberang sana Teroris sudah menunggu di Marawi, Filipina. Sebetulnya kita terlalu kanak-kanak jika terlalu takut dalam segi pertahanan fisik, masih ada pendekar Rawa Rontek, Silat Harimau, Tentara, Polisi maupun pendekar-pendekar lainnya untuk beradu otot dengan Teroris. Jauh lebih berbahaya dari itu, yang perlu dipikirkan adalah teroris-teroris yang belum di aktivasi yang sekarang ini mungkin ada di samping kita, duduk di sebelah kita. Mereka belum membawa senjata sekarang, mereka masih berkata,”Kami cinta damai, kami tidak merusak.” Namun semua itu hanya menunggu waktu saja. Kedepan, mereka akan menjadi mesin pembunuh yang mahir dalam memenggal kepala orang yang tidak sepaham dengannya, tinggal kapan waktu aktivasinya. Dalam waktu dekat bila kita lengah, mungkin beberapa sumber daya alam bahkan sumber daya manusia kita direbut dengan cara barbar dan dijual secara murahan kepada majikan si teroris tersebut. Sungguh terorisme adalah bisnis yang sangat menjanjikan. Kita pernah menyaksikan dalam sebuah video yang menayangkan Obama keceplosan dalam pidatonya bahwa AS melatih teroris. “Kami meningkatkan pelatihan pasukan ISIL (nama lain ISIS), termasuk relawan dari suku Sunni di Provinsi Anbar.” [2]

[6]. USAID Mensponsori Teroris
Lalu bagaimanakah cara AS menjadi penyokong terorisme?. Buku-buku pendidikan ‘jihad’ itu ternyata dibuat di AS. Washington Post, 23 Maret 2002 menulis antara lain bahwa USAID menghabiskan 51 juta dollar untuk membiayai ‘program pendidikan di Afganistan 1984-1994’ yang dilakukan oleh Universitas Nebraska [3]. Mungkin jangka waktunya lumayan lama dengan Arab Spring maupun kekacauan di Suriah. Tetapi bila kita melihat polanya, sangat mungkin bahwa AS masih melakukan kegiatan yang serupa untuk terus mempertahankan bisnis terorismenya. Memang kalau kita lihat AS sangat lihai memainkan peran, bahkan sangat rapi hingga nyaris tak dapat dibaca. Katakanlah ketika konflik Iran-Irak, begitu mudah AS menjatuhkan dukungan kepada Saddam. Namun begitu Saddam mungkin sudah tidak ‘produktif’ maka dengan mudahnya disingkirkan dan diganti skenario yang baru yaitu bisnis terorisme. Prior to the American invassion, there was no Al-Qaeda in Saddam Hussein’s Iraq. Pressident George W. Bush destroyed Saddam’s secularist goverment, and his viceroy, Paul Bremer, in a monumental act of missmanagement, effectively created the Sunni Army, now named the Islamic State[4]. Begitulah sedikit penjelasan dari Robbert F. Kennedy Jr. tentang terciptanya ISIS setelah AS mengakali Saddam dan menjadikannya bubble gum yang “habis manis sepah dibuang”.

[7]. Bisnis Terorisme
Bagaimanapun, sepanjang perjalanan teror Islam, tidak ada yang dapat dibandingkan dengan perang Amerika Serikat melawan teror. Perang ini telah membantu penyebaran wabah dari daerah terpencil di perbatasan Afganistan-Pakistan ke wilayah luas di Afrika Barat hingga Asia Tenggara[5]. Hanya untuk bisnis yang biadab dan kotor, yaitu terorisme. Pada akhirnya, kita tidak heran dengan persoalan terorisme jika kita tahu siapa dalang dibalik bisnis yang menjijikan tersebut. Kita jangan terlalu disibukkan dengan aksi-aksi teror di jalanan, mulai tingkatkan fokus kita tentang siapa yang ada dibelakangnya. Sebab, untuk menghentikan pertunjukan wayang kita hanya perlu menghentikan dalangnya, tak perlu membombardir penabuh gamelan, sinden, maupun lampu ‘blecong’ diatas kepala dalang yang nyalanya memang selalu remang-remang.

[8]. John Lennon and Yoko Ono, "War Is Over"

Sumber :

[1] Noam Chomsky, Who Rules The World, terj. Eka Saputra, (Yogyakarta : Bentang, 2017), hal. 558.

[2] Denny Armandanu, CNN Indonesia, “Obama Terpeleset Lidah, Bilang AS Melatih ISIS”, https://m.cnnindonesia.com/internasional/20150709091554-134-65353/obama-terpeleset-lidah-bilang-as-melatih-isis/

[3]  Kajian Timur Tengah, “Bagaimana Cara AS Mendirikan AL Qaida/ISIS?”, https://dinasulaeman.wordpress.com/2015/11/19/bagaimana-cara-as-mendirikan-al-qaedaisis/

[4] Robbert F. Kennedy, JR., “Why The Arabs Don’t Want Us In Syria”, https://www.politico.eu/article/why-the-arabs-dont-want-us-in-syria-mideast-conflict-oil-intervention/

[5] Noam Chomsky, loc. cit.

Sumber Gambar :











Written By : Vrandes. S. Cantona – Langit Tjerah

Big Thanks to Readers!
Read more ...

Thursday, June 22, 2017

Negara Indonesia Dalam Bingkai Masalah Kemanusiaan Yang Berdarah


Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang membentang di garis Khatulistiwa. Negeri kaya yang masih menghadapi persoalan pelik di segala bidang. Jalan pendidikan yang macet, roda ekonomi yang tersendat-sendat, hingga potret kemanusiaan yang kelam di masa lalu. Negeri ini juga memiliki sejarah yang sangat unik, mulai dari pra penjajahan kolonial hingga pasca kemerdekaan. Di masa kolonial Indonesia dibodohkan terlalu lama oleh sistem penjajahan negeri Eropa. Sehingga kebodohan tersebut mengakar dan membudaya, tumbuh subur dalam otak generasi selanjutnya. Dalam pembahasan kali ini, sedikit banyak akan mengorek luka lama agar kita tahu siapa yang membuat luka tersebut. Sesuai judulnya kita akan banyak membahas permasalahan pelanggaran kemanusiaan di negeri yang seharusnya sangat humanis ini. Potret kelam pelanggaran kemanusiaan di jaman penjajahan sangat kompleks hingga tak cukup waktu untuk diceritakan semuanya. Mulai dari penindasan manusia, perkosaan, genosida, hingga perbudakan. Hal tersebut menghiasi kehidupan sehari-hari di masa penjajahan. Permasalahan perbudakan menjadi sorotan bila kita membahas era penjajahan. Sebagaimana rakyat yang hidup pada masa tersebut mengalami kekejaman pemerasan tenaga dan daya cipta oleh penjajah yang biadab. Rakyat hanya dipaksa untuk bekerja tanpa upah, baik upah material maupun moral. Ironisnya, justru elit-elit dari golongan pribumi banyak yang menjadi kaki tangan si penindas Hak Asasi Manusia. Dengan iming-iming hidup yang enak, elit tersebut dengan senang hati menjilat pantat si penindas. Hal ini diatasnamakan dengan sebutan ‘koloni’. Hingga masa pergerakan, mulai nampak titik terang atas nasib rakyat kecil yang sudah mulai jenuh dengan kehidupan sehari-hari yang penuh dengan kesengsaraan. Sehingga mengantarkan bangsa ini mendapatkan ‘kemerdekaan’.

Ilustrasi
Setelah masa penjajahan, negeri ini merdeka dan mulai menentukan nasib sendiri bagaikan gadis remaja yang harus bertahan di belantara pergaulan skala global. Bukan berarti setelah mencapai kemerdekaannya bangsa ini terbebas dari pelanggaran kemanusiaan. Justru babak baru pelanggaran kemanusiaan dilakukan oleh pemerintahan sendiri setelah berhasil serah terima kekuasaan dari penjajah sebelumnya. Kekerasan dan represi dilakukan atas nama negara dengan dalih menyelamatkan kestabilan nasional. Penyiksaan sesama anak bangsa dilegistimasi oleh badan yang bernama “Pemerintah dan Aparatur Negara”. Setelah merdeka dari penjajah rakyat bukannya terbebas dari belenggu kejahatan kemanusiaan tetapi justru rakyat berhadapan dengan penindas yang memiliki warna kulit yang sama. Tentu dengan pakaian, nasib, dan hoki yang berbeda dengannya.

Pada era awal berdirinya negara Indonesia, sekelompok orang yang menyebut dirinya sebagai pemerintah sangat menjunjung tinggi perdamaian dan Hak Asasi Manusia. Segala konsepsi di bentuk untuk melindungi keberlangsungan nilai kemanusiaan dalam kehidupan negaranya. Mengatur kehidupan bangsanya supaya hidup dalam harmoni dan menjunjung tinggi HAM. Walaupun kita sangat mengamati bahwa awal-awal berdirinya negara ini penuh dengan tarik ulur dan sengketa dengan pihak penjajah yang belum rela tanah jajahannya merdeka.

Hingga sepuluh tahun setelahnya tepatnya pada tahun 1959 setelah Presiden Sukarno mengeluarkan Dekrit, rakyat di negeri ini mulai merasakan pengekangan kebebasan Hak Sipil dan Hak Politik. Tindakan subversif pemerintah mengatasnamakan menjalankan Demokrasi Terpimpin untuk kestabilan politik dalam negeri menghadapi kekuatan kedua Blok besar di dunia. Namun hal tersebut masih dapat diterima jika kita melihat bahwa Indonesia kala itu diincar oleh kedua kekuatan Blok dunia. Hal ini mendorong pemerintah untuk melakukan tindakan subversif untuk menghadang kekuatan kedua Blok tersebut dari unsur dalam negerinya sendiri. Hingga tujuh tahun setelah Dekrit, dan Presiden Soekarno jatuh karena kudeta yang penuh konspirasi. Kudeta yang diamini oleh AS yang mendukung Jendral Soeharto untuk mengambil alih kekuasaan dan mulai menyuntikkan kebijakan politiknya ke otak Soeharto. Hal ini didokumentasikan oleh John Pilger dalam film dokumenternya The New Rules of The World, 2002. Bahkan dalam buku Who Rules The World?dituliskan bahwa “Kemenangan paling penting dari perang Indhochina terjadi pada 1965. Ketika itu, dengan dukungan AS, kudeta militer di Indonesia dipimpin oleh Jenderal Soeharto melakukan kejahatanyang oleh CIA dianggap sebanding dengan yang dilakukan Hitler, Stalin dan Mao.”[1]. Mengingat bahwa korban kejahatan Soeharto kala itu mencapai ratusan ribu jiwa.

Setelah berganti kekuasaan dari Sukarno kepada Soeharto, daftar panjang pelanggaran kemanusiaan masih membentang panjang, lebih panjang daripada wilayah negeri ini sendiri. Setelah tragedi kudeta terhadap Sukarno dengan mengkambinghitamkan salah satu partai yang berbasis massa, Soeharto mulai melakukan fantasi holocaust yang mirip dengan fasisme Hitler di negeri ini. Dengan dalih membersihkan “orang kiri”, Soeharto mulai memakai sarung tangan besinya untuk menghilangkan nyawa ratusan ribu hingga jutaan orang. Hanya karena tuduhan sederhana, yaitu tuduhan sebagai “orang komunis harus disingkirkan karena mengancam  ideologi  negara.”. Dengan latar belakang militer, orang kelahiran Dusun Kemusuk, Yogyakarta ini memimpin negeri ini dengan serangkaian tindakan represif terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Pembantaian  massal orang-orang yang di cap komunis tanpa pengadilan yang jelas menjadi nilai merah pertama orang yang dijuluki “The Smilling General” ini.

Soeharto Pada Masa 1965
Waktu berlanjut hingga tahun 1981, awal dimulainya variasi kejahatan kemanusiaan gaya Soeharto yang lain yaitu Penembakan Misterius. Kejahatan kemanusiaan tersebut berupa hukuman mati terhadap residivis, preman, bromocorah, dan orang jalanan tanpa melalui pengadilan yang jelas. Orang-orang dengan mudah dihilangkan nyawanya dengan alasan bahwa pelaku kriminal harus dihukum dengan cara yang sama saat ia memperlakukan korbannya, Hal tersebut diakui Soeharto sendiri dalam otobiografinya Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya. Orang yang kelihatan bertato atau bertampang kriminal akan langsung mati ditempat oleh peluru panas begundal  negara yang berseragam dan bersepatu kulit setinggi betis. Amnesty Internasional mencatat korban dari kebijakan tersebut kurang lebih 5.000 jiwa.
Presiden Soeharto
Masih banyak pelanggaran kemanusiaan di era Mr. General ini sebutkanlah Peristiwa Tanjung Priok, Peristiwa Talangsari, Daerah Operasi Militer Aceh, Timor Timur (Timor Leste), Penghilangan Paksa Aktivis (23 Aktivis 9 orang kembali, 1 tewas, 13 hilang), Peristiwa Trisakti, Hingga Kerusuhan Mei 1998. Semuanya menggunakan aparatur negara sebagai alat kekerasan dan pelanggaran kemanusiaan. Belum lagi pelanggaran dari segi hak politik masyarakat, kebijakan represi, hingga pembatasan hak-hak sipil masyarakat. Jauh lebih buruk dibandingkan pada masa pemerintahan Orde Lama. Sehingga memunculkan perlawanan yang berakibat turunnya Si Tangan Besi.

Setelah mundurnya Soeharto, perjalanan panjang kemanusiaan di Indonesia berehat sejenak dari liku-liku yang melelahkan. Namun, budaya militerisme terlanjur mengakar pada mantan-mantan jenderal atau bahkan sebagian ‘cheersleadernya’  pada masa itu. Budaya “praetorian” terlanjur disuntikan ke otak jenderal-jenderal yang kelak akan menjadi penguasa baru setelah kemunduran The Big General dan menjadi penerus kekejaman terhadap nilai kemanusiaan.

Bentuk-bentuk Pelanggaran HAM pasca Reformasi berangsur berkurang dibandingkan di era Orde Baru. Namun, bukan berarti di era Reformasi menjadi aman-aman saja, justru pelanggaran gaya baru mulai tampil dengan muka yang lebih sopan. Ditunjang dengan semakin terjalnya jurang pemisah antara kaya dan miskin, pejabat dan rakyat, agamawan dan anak jalanan. Juga penjajahan Imperium gaya baru yang bernama Globalisasi. Pasca Reformasi, diterbitkannya PAM Swakarsa menambah panjang liku jalan kemanusiaan bangsa ini. Dengan gerbang PAM Swakarsa ini melahirkan kelompok-kelompok perusuh yang bebas melakukan pelanggaran kemanusiaan berdalih menciptakan stabilitas. Ada apa gerangan? Mungkinkah dengan adanya ormas-ormas rusuh bercorak represif ini sebagai upaya cuci tangan pelanggaran HAM masa lalu?. Atau menjadi pelaksana kegiatan represi setelah keruntuhan Orde Baru?. Apalagi dalam tubuh ormas-ormas rusuh tersebut ada jenderal-jenderal pensiunan masa Orde Baru.
Intoleran Society
Sebutkanlah pelanggaran kemanusiaan terhadap kasus Ahmadiyah, pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono yang dilakukan oleh ormas-ormas rusuh. Terkesan SBY mendiamkan ormas rusuh tersebut melakukan kebiadaban, dan cenderung tidak mengeluarkan kebijakan normatif. Padahal, pada Pemilihan Presiden tahun 2004 dicitrakan bahwa SBY adalah seorang yang humanis, demokrat dan sangat toleran. Tetapi apakah benar demikian? Bukankah SBY juga merupakan pion  Soeharto kala itu?. Bukankah “Semua serdadu pasti tak jauh berbeda.” begitu salah satu lirik lagu Iwan Fals?. Belum lagi pemerintahannyabanyak didukung oleh jenderal-jenderal alumnus sekolah militer prestisius di AS. Memang salah satu langkah AS dalam mewujudkan ambisi imperiumnya adalah dengan menempatkan jenderal-jendral lulusan sekolah militer di AS, seperti Forth Leavenworth dan Fort Benning. Doktrin militeristik AS sengaja ditanamkan pada siswa-siswanya untuk menjadi “anjing penjaga” di negara asalnya dengan menjadikannya pemimpin bangsa dibawah hegemoni AS.

Jejak pelanggaran HAM di era reformasi juga belum tertuntaskan, terutama sekali penyelesaian konflik vertikal di Papua dan Aceh. Sebetulnya, masa Habibie, Gus Dur dan Megawati memiliki komitmen untuk menjadikan pendekatan dan dialog sebagai paradigma penyelesaian konflik. Namun setiap jalan pasti ada hambatannya, SBY ketika menjabat sebagai Menkopolkam justru meningkatkan intensitas konflik. Melalui Keppres No. 28 Tahun 2003 jelas-jelas memberlakukan Darurat Militer [2]. Itu artinya, bukan solusi penyelesaian konflik melalui pendekatan yang dipilih melainkan memperburuk konflik dan menambah korban jiwa.

Deretan panjang kasus kemanusiaan di negeri ini seperti cerita yang tak berujung dan tak pernah ada solusinya. Setiap pergantian kekuasaan pasti menjanjikan penuntasan pelanggaran HAM masa lalu, tetapi  setelah itu berangsur ditelan waktu dan berganti kejahatan kemanusiaan yang baru. Apakah artinya sebuah negara jika hanya menjadi alat kekejaman terhadap segala bentuk kehidupan. Kehidupan yang seharusnya sangat bernilai menjadi barang murahan sehingga dengan mudah dikriminalisasi oleh sebuah badan yang mengatasnamakan sebagai negara. Wajar bila seorang anarkis mengatakan “I don’t believe in state” ketika melihat negara hanyalah sebagai alat kekejaman dengan mengatasnamakan kebijakan dan stabilitas nasional. Beribu dalil bahwa negara diciptakan sebagai sebuah wadah bagi kehidupan manusia, seakan bila tak ada negara kita adalah hewan-hewan murahan. Tetapi bukankah kenyataannya negara hanya menjadi arena pertarungan hewan-hewan politik?. Filsuf sosial termasyhur dari Amerika, John Dewey, pernah menggambarkan politik sebagai “bayangan yang dirajut di tengah masyarakat oleh kelompok yang sangat berkuasa dan berpengaruh” [3]. Ujungnya, dunia hanyalah kumpulan bangsa-bangsa yang memiliki peran penindas untuk seluruh jenis kehidupan. Kumpulan birahi kekuasaan yang melegalkan  penindasan atas nama kepentingan nasional.

Catatan :
[1] Noam Chomsky, 2017, Who Rules The World, terj. Eka Saputra, Bentang, Yogyakarta,  hal. 111-112.

[2] Keppres No. 28 Tahun 2003 tentang Pemberlakuan Status Darurat Militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang berlaku efektif mulai 19 Mei 2003.

[3] Westbrook, R. 1991, John Dewey and American Democracy. Ithaca, NY: Cornell University Press, Hal. 440.



Big Thanks to Readers!
Written by : Vrandes Setiawan Cantona - Langit Tjerah

Read more ...

Wednesday, May 31, 2017

Mata Hari, Kisah Penari Erotis dan Spionase


Mata Hari, Kisah Penari Erotis dan Spionase

Sebetulnya ini adalah tulisan lama, ditulis pada peringatan Hari Perempuan Sedunia. Namun, dikarenakan Blog ini masih baru dibuat alias masih kinyis-kinyis maka baru diposting sekarang. Tapi tak jadi masalah, berbagi ilmu bisa kapan saja. Atau ada kata mutiara yang berbunyi "Lebih baik telat, daripada tidak sama sekali." (red. mau nyari alasan).

Mereka mengatakan wanita adalah makhluk yang lemah, tanpa mereka sadari kekuatan mereka tak berlaku diatas ranjang.

Mata Hari
Setiap tanggal 8 Maret, dunia memperingati Hari Perempuan Internasional. Peringatan tersebut sebagai bentuk apresiasi terhadap kaum perempuan. Banyak tulisan tentang perempuan menghiasi beranda jejaring sosial media. Sejarah  demi sejarah menuliskan tentang peran perempuan didalamnya, perjuangan dan harga diri menjadi nyawa dalam peranannya. Di masyarakat Yunani Kuno, perempuan mogok berhubungan seks dengan pasangannya untuk menuntut diberhentikannya peperangan. Atau di Rusia pada 8 Maret 1917 untuk pertama kalinya perempuan mendapakan hak untuk memberikan suara di pemilu. Hingga peran perempuan Marsinah di Indonesia sebagai ikon keadilan pada era Orde Baru. Hal tersebut menjadi bukti nyata perjuangan perempuan yang tak bisa kita lupakan begitu saja.

Kita akan membahas tentang peran perempuan dari sisi yang tak biasa, penuh hal yang tabu namun patut untuk diperbincangkan. Mengenai kisah hidup seorang penari orientalis pada masa-masa Perang Dunia I. Dia adalah Margarethe Gertruide Zelle atau yang kita ketahui sebagai Mata Hari, seorang penari dan spion politik untuk pemerintah Jerman dan Perancis. Margarethe Gertruide Zelle lahir di Leeuwarden, Belanda pada tanggal 7 Agustus 1876. Kehidupan masa kecil Margarethe yang penuh liku-liku secara langsung membentuk kepribadian Margarethe dewasa. Ketika berusia 19 Tahun, dia dinikahi seorangperwira tinggi militer Belanda yang bertugas di Indonesia yang bernama Rudolph McCleod. Kala itu usia Rudolph adalah 39 tahun. Setelah menikah mereka tinggal di Semarang, hingga tak lama setelah itu suaminya harus berdinas di Malang, dari situ Margarethe banyak bermain ke Candi Jago dan Candi Singosari hingga mengenalkannya pada Tari Srimpi yang biasa dimainkan para gadis-gadis jawa di pelataran candi tersebut. Setelah itu mereka harus berpindah ke Sumatera, dan akhirnya harus kembali ke Belanda di Tahun 1902. Hubungan Margarethe dan Rudolph berakhir dengan perpisahan, hingga Margarethe pergi ke Perancis untuk belajar balet. Timbul keinginan Margarethe untuk menjadi “Penari Malam” yang beraliran Orientalis dengan memadukan budaya Timur dan Barat. Dalam waktu yang tak lama, Margarethe mampu melambungkan namanya bahkan sampai Elitis-elitis Paris kagum dengannya. Ketika ia menjadi sorotan dunia kala itu, dia merubah nama menjadi Mata Hari dan mengaku lahir di kota Jaffnapattam, India.

Setelah ketenarannya itu, orang yang pertama kali tergila-gila kepada Mata Hari adalah Emile Guimet. Dia adalah pengusaha dari kota Lyon, Perancis di bidang industry sabun cuci. Dari Guimet, Mata Hari mengenalkan diri ke Elitis Paris dengan pertunjukannya di Museum Orientalis milik Guimet. Keinginan Mata Hari untuk menjadi pacar seorang jutawan tercapai seketika.

Hingga Mata Hari berganti pacar lagi dengan seorang pengacara bernama Edouard Clunet. Dari Clunet dia berkenalan juga dengan Gabriel Astruc, seorang agen teater kawakan yang menjadi jalan untuk Mata Hari untuk tampil di Madrid, Berlin, Wina, oleh bantuan bangsawan setempat.

Quote
Situasi dunia khususnya Eropa mencapai ketegangan akan ancaman perang. Hingga Agustus 1914 perang secara resmi diumumkan. Hal itu membuat Mata Hari harus mengungsi, namun yang menjadi pertanyaan adalah posisi Mata Hari yang hanya menjadi penari namun bisa aman melintas berlin dan menjalin asmara dengan komandan polisi setempat bernama Griebel. Hingga pada masa masa demonstrasi didepan kekaisaran dan Mata Hari pun menjadi sasaran aksi anti orang asing dan memaksanya meninggalkan Berlin. Mata Hari tiba di Amsterdam pada 16 Agustus 1914 dan tinggal disana. Pada 14 Desember 1914 dia tampil di Den Haag dan berhasil menjalin asmara dengan Baron Edouard van Capellen, seorang pimpinan kavaleri yang berusia 52 tahun. Mata Hari dibuatkan rumah yang indah oleh Baron di Den Haag, namun Mata Hari menjadi terkekang dengan semua itu. Apalagi Baron menganggapnya tak lebih dari wanita prostitusi. Di malam Mei  1916, Mata Hari ditemui oleh Karl Kramer dan ditawari 20.000 Franc untuk menyenangkan bangsa Jerman. Dan itulah awal mula Mata Hari menjadi agen “Spionase Diatas Ranjang”, untuk dikirimkan ke Paris untuk mencari berita-berita penting. Dengan sandi H21 sebagai tanda tangan berita yang dikirim oleh Mata Hari untuk dikirimkan ke hotel de I’Europe di Amsterdam. Pada awal misi Margarethe tidak tahu tentang apa yang harus dilakukannya sebagai mata-mata. Namun, semua rahasia dari politik hingga strategi militer para Elitis dan Intelek tercurahkan kepada Mata Hari ketika diatas ranjang, semua bertekuk lutut di depan Dewa Amor. Singkat cerita ketika Mata Hari menjalin cinta dengan Vadime De Masloff, ketika Vadime terkena granat beracun dan dirawat di rumah sakit. Untuk masuk ke rumah sakit diperlukan perizinan dari kementrian perang. Di situ Mata Hari bertemu dengan Ladoux yang mana dia adalah ketua Spion Perancis. Margarethe ditawari bekerja untuk Ladoux, dan Margarethe meminta upah satu juta franc. Ladoux mempertimbangkan dengan upah satu juta Franc bisa untuk menggaji 12 mata-mata ulung. Dari hal itu diketahui oleh Ladoux bahwa Mata Hari adalah orang dekat Kramer, orang penting di Jerman. Dan Ladoux menggagalkan untuk memperkerjakan Mata Hari.

Akhirnya, Mata Hari ditangkap oleh polisi di kamar hotel tempat Mata Hari menginap. Margarethe resmi menjadi tahanan dibawah pengawasan Pierre Bouchardon. Hingga hidup mati Mata Hari ditentukan pada pengadilan tertutup pada tanggal 25 Juli 1917. Margarethe terbukti bersalah, dia terbukti sebagai mata-mata Jerman untuk Perancis. Dan malaikat maut menjemputnya pada eksekusi mati di tanggal 15 Oktober 1917. Beberapa media internasional mewartakan kematiaannya seperti New York Times dan Daily Express. Margarethe alias Mata Hari, sang penari erotis sekaligus Spy tersebut mati meninggalkan bukti kehebatan seorang perempuan.

Berita Eksekusi Penembakan
Dengan kisah hidup Mata Hari dari awal mula hingga akhir hayatnya kita dapat menilai bahwa kekuatan perempuan tak dapat diremehkan. Wanita dinilai lemah dan menjadi “Objek Jajahan” pria, namun semua akan berubah terbalik ketika wanita menggunakan sisi sensitivitasnya sebagai senjata. Dalam hal ini erotisme berperan penting dalam upaya menaklukan kaum adam. Terbukti dalam kisah hidup Mata Hari, sehebat apapun intelek pria, sehebat apapun elit politik akan jatuh di pangkuan wanita.

Seperti syair lagu Sabda Alam oleh Ismail Marzuki bahwa ,

Diciptakan alam pria dan wanita
Dua makhluk jaya asuhan dewata
Ditakdirkan bahwa pria berkuasa
Adapun wanita lemah lembut manja

Wanita dijajah pria sejak dulu
Dijadikan perhiasan sangkar madu
Namun ada kala pria tak berdaya
Tekuk lutut disudut kerling wanita

Ada kala pria tak berdaya dan tekuk lutut di sudut kerling wanita, hal tersebut sangat benar. Pria hebat karena ada wanita kuat dibelakangnya.

Diperingatinya Hari Perempuan adalah untuk kita menyadari bahwa perempuan tak bisa diremehkan kekuatannya. Kehebatan seorang pemimpin Negara pun pasti ada rahasia yang dipegang oleh perempuan-perempuan dibelakangnya. Oleh karena itu, wajar bila di Hari Perempuan ini banyak tuntutan kaum wanita untuk keseteraaan gender. Mereka menuntut agar hak-haknya dilindungi oleh kepastian hukum.

Hal tersebut sebagai rapor merah bagi pemerintah bahwa selama ini abai terhadap suara perempuan. Padahal perempuan adalah makhluk yang kita pun menyadari kekuatannya tak dapat disepelekan. Bisa saja perempuan-perempuan Indonesia melakukan mogok hubungan seks seperti yang terjadi di Yunani Kuno atas dasar protes mereka. Atau mungkin bisa saja perempuan seantero negeri mogok masak atas dasar protes hak-haknya yang disepelekan. Kita tak menakar seberapa besar dampak merampas hak-hak wanita, atau yang paling sederhana adalah kita menganggap wanita adalah makhluk cengeng dan naïf. Lebih dari yang kita bayangkan bahwa kekuatan wanita tak hanya sekedar menghancurkan gunung atau mematahkan bilah besi, wanita mampu mengubah peradaban. Menuntut kesetaraan gender bagi perempuan dalam arti yang sempit seperti halnya menuntut perempuan supaya mendapat pekerjaan sebagai sopir bus adalah tuntutan yang kurang tajam. Tak melulu masalah hak perempuan adalah kesetaraan dalam bidang karir. Yang sebenarnya terjadi adalah kekurangan keserasian dan keseimbangan antara Laki-laki dan Perempuan. Leluhur Nusantara dulu mengerti betul bagaimana mencapai keserasian antara laki-laki dan perempuan sehingga diinterprestasikan dalam konsep Lingga dan Yoni yang ada di Candi-candi peninggalan leluhur. Mengajarkan untuk selalu menekankan keserasian peranan kaum adam dan hawa. Dalam mencapai kesadaran utuh atas keberlangsungan hidup yang serasi dalam harmoni, dibutuhkan adanya saling mengerti batas-batas keduanya dalam hal hak dan kewajiban. Lingga atau yang melambangkan syahwat laki-laki sebagai elemen api, dan Yoni sebagai sensitivitas perempuan lambang elemen tanah. Keduanya saling bertolak belakang namun jika dipersatukan dengan perdamaian, cinta dan kasih sayang akan menjadikan sebuah harmoni dalam sebuah paradoks.

Contoh Lingga-Yoni
Sebagai penutup, kita perlu mengubah cara pandang kita terhadap perempuan dari semula makhluk yang lemah dan naïf, ternyata wanita mampu mengubah jalan dari sebuah peradaban. Dalam menghadapi dinamika jaman yang semakin tidak menentu ini, diperlukan cara pandang yang lebih sehat terhadap perempuan. Konsep yang dajarkan oleh Nenek Moyang sudah menjelaskan bahwa hidup harus dengan keselarasan dan keserasian termasuk dalam memandang gender. Dengan pemahaman seperti itu, diharapkan perampasan hak-hak perempuan dapat ditekan dari kalangan masyarakatnya sendiri.


Sumber :

Big Thanks to Readers!
Written by : Vrandes Setiawan Cantona - Langit Tjerah
Read more ...
Designed By Langit Tjerah