Langit Tjerah menerima donasi buku bekas, buku baru, maupun alat pendidikan yang lainnya untuk kami salurkan kepada Komunitas Pendidikan maupun Taman Baca yang membutuhkan, silahkan hubungi contact person. Terima Kasih.
Showing posts with label Info Dunia. Show all posts
Showing posts with label Info Dunia. Show all posts

Saturday, March 10, 2018

Perempuan, Emansipasi, dan Bahaya Yang Mengancamnya



[1]. Hari Perempuan Sedunia
8 Maret 2018 diperingati sebagai Hari Perempuan Sedunia, dengan latar belakang sejarah yang begitu panjang. Pada tanggal 8 Maret 1857 buruh perempuan dari pabrik tekstil melakukan perlawanan di New York menuntut penghapusan penindasan dan eksploitasi terhadap buruh perempuan. Dalam demo tersebut berujung pembubaran paksa oleh polisi dengan kekerasan dan tindakan represif aparat. Walaupun ada beberapa pihak yang menyangsikan kejadian tersebut, namun seiring berjalannya waktu terjadi peristiwa-peristiwa penting yang dilakukan oleh kaum perempuan yang menguatkan dunia untuk menetapkan tanggal 8 Maret sebagai Hari Perempuan Sedunia.

Partai Sayap Kiri tidak terlepas dari upaya-upaya menetapkan 8 Maret sebagai Hari Perempuan Sedunia. Hal tersebut dapat dimaklumi jika kita melihat sejarah-sejarah yang terjadi sebelumnya. Perjuangan perempuan dalam memperoleh hak dan tidak selalu menjadi objek eksploitasi terkenal memang mendapat dukungan dari partai-partai sayap kiri. Memang, dalam prakteknya perempuan diperbolehkan untuk bekerja, namun pada waktu itu perempuan mendapatkan perlakuan yang ekspolitatif. Hal inilah yang mendorong para perempuan untuk melakukan perlawanan untuk menghapuskan penindasan terutama penindasan terhadap perempuan. Dunia pada kemudian hari mengakui peran perempuan dan berusaha untuk menciptakan kesetaraan hak terhadap perempuan.

Perjuangan Perempuan tak selalu dilihat dari sejarah pergerakan buruh, banyak pula perjuangan perempuan dalam aspek lain. Di Indonesia contohnya, R.A. Kartini, seorang perempuan bangsawan melakukan kritik terhadap Pemerintah Kolonial Belanda kala itu yang tidak memberikan kesempatan kepada perempuan untuk mengenyam pendidikan. Adapula perjuangan perempuan barat yang menolak kekerasan seksual dan industri pornografi pada tahun 1960-an. Perempuan kerap menjadi objek penindasan baik secara psikologis dan seksual, sehingga pada tahun-tahun tersebut muncul gerakan perlawanan.

Feminisme

Feminisme dalam arti filsafat adalah konsep berpikir yang memandang bahwa perempuan memiliki kesetaraan hak dan kewajiban. Lebih dalam lagi, feminisme melihat Patriarki dalam masyarakat melahirkan ketidakadilan terhadap perempuan, oleh karena itu Feminisme melakukan kritik dan pembaharuan terhadap konsep-konsep patriarki masyarakat. Feminisme menjadi penting jika menjadi kritik atas cara pandang masyarakat tradisional yang menempatkan laki-laki diatas segalanya. Bahkan pula cara pandang masyarakat primitif yang mengidentikan Tuhan dengan laki-laki, hal inilah yang seakan-akan melegitimasi laki-laki untuk melakukan penindasan terhadap perempuan. Dalam menghadapi cara pandang pandang masyarakat primitif inilah feminisme menjadi penting. Selebihnya feminisme menjadi cara berpikir yang relevan untuk melahirkan kritik terhadap penindasan gender dalam kehidupan masyarakat.

[2]. Feminisme
Feminisme melahirkan kritik baik dalam segi ekonomi, politik, sosial, gender, dan lainnya. Dalam segi ekonomi, bahkan sampai sekarang pun masih terjadi ketidakadilan terhadap perempuan. Perempuan mengalami dikriminasi ekonomi terkait pengupahan dan fasilitas ekonomi lainnya. Di bidang politik lebih kejam lagi, konsep patriarki yang berlebihan menempatkan perempuan untuk tidak mendapatkan hak-hak politik. Diskriminasi terhadap perempuan di bidang politik menempatkan perempuan menjadi makhluk pasif dan tidak boleh melakukan peran apapun. Di bidang sosial, perempuan kerap menjadi warga masyarakat kelas dua. Hak-hak perempuan hanya diberikan di dapur dan ranjang, inilah yang masih menjadi permasalahan besar bahkan dilapisan masyarakat paling bawah. Kurangnya edukasi dan kondisi sosial yang konservatif ekstrim memperburuk kodisi ketidakadilan yang dialami oleh perempuan. Feminisme menjadi cara berpikir yang sangat penting untuk menghadapi kondisi seperti ini.

Emansipasi Perempuan

Berlanjut dari feminisme, emansipasi adalah usaha untuk mendapatkan hak-hak dan kesetaraan derajat. Bisa dipahami bahwa emansipasi perempuan adalah usaha pelaksanaan feminisme. Emansipasi Perempuan melahirkan perjuangan-perjuangan perempuan untuk melepaskan diri dari ketidakadilan dan menutut ‘pembebasan’. Kondisi diskriminasi dan eksploitasi terhadap perempuan melahirkan perlawanan demi perlawanan yang menuntut untuk diakui kesetaraan hak dan kewajibannya. Hal inilah yang diwujudkan dalam sejarah-sejarah perjuangan perempuan.

Dalam prakteknya, perjuangan perempuan ada yang berskala besar hingga mengerahkan kekuatan massa, ada juga yang berskala kecil dalam bentuk keseharian. Dua hal tersebut tidak ada yang lebih baik maupun yang lebih buruk, semuanya memiliki porsi dan konteksnya tersendiri. Yang jelas, gerakan-gerakan perubahan tersebut memperlihatkan bahwa peran perempuan sangatlah penting. Masyarakat tidak sepantasnya lagi menempatkan perempuan sebagai masyarakat kelas dua.

Masalah-Masalah

Kerap kali kita mendengarkan statemen bahwa laki-laki calon suami yang hebat adalah yang berduit sehingga perempuan yang hebat adalah perempuan yang mampu mendapatkan laki-laki yang berduit tersebut. Ini adalah pemahaman yang primitif, hal ini disebabkan karena pemahaman yang keliru tentang definisi perempuan dan feminisme. Kondisi masyarakat yang terjajah oleh materialisme pragmatis membuahkan cara pandang yang sering salah terhadap nilai-nilai terhadap perempuan. Cara pandang seperti ini harus mulai diubah bahkan perlu ditinggalkan. Budaya tersebut lahir dari kondisi patriarki yang menempatkan perempuan sebagai benda yang memiliki nilai tawar.

[4]. Pameran Pakaian Korban Pemerkosaan, Brussel, Belgia
Masalah-masalah kekerasan seksual juga masih menjadi ironi di zaman ini. Industri pornografi masih eksis menempatkan perempuan sebagai objek pelampiasan bahkan kekerasan. Konten pornografi yang komersil dan ditujukan kepada masyarakat umum menjadi sangat berbahaya terhadap perempuan. Terlebih kondisi masyarakat yang minim pengetahuan dan pemahaman terhadap perempuan dapat menjadi predator yang berbahaya bagi perempuan. Hal tersebut mendorong masyarakat khususnya laki-laki untuk melakukan tindakan kriminal terhadap seksualitas perempuan. Seringkali ditemukan kasus-kasus pemerkosaan dan kekerasan seksual yang dialami oleh perempuan, tanpa memandang usia dan strata sosial. Patriarki ekstrim juga memperburuk masalah ini. Perempuan sering disalahkan menjadi pengundang syahwat laki-laki melakukan tindakan kriminal. Pendapat bahwa perempuan jangan menggunakan pakaian seksi dikarenakan memancing laki-laki untuk melakukan pemerkosaan tidak selamanya benar dan menjadi pembenaran. Di salah satu pameran di Brussel, Belgia, menampilkan pakaian-pakaian korban pemerkosaan dan buktinya tidak hanya pakaian seksi, bahkan dengan seragam polisi pun wanita tetap menjadi korban pemerkosaan dan pelecehan seksual. Jika memahami apa yang ditampilkan dalam pameran tersebut, kita dapat menyipulkan dengan akal sehat bahwa perempuan kerap menjadi objek kekerasan dan sama sekali tidak menjadi sebab kekerasan tersebut. Kondisi patriarki masyarakatlah yang mencari pembenaran terhadap kriminalitas tersebut, perempuan yang disalahkan. Lagi-lagi, cara berpikir masyarakat yang primitif seperti ini masih saja dapat dengan mudah kita temukan. Kekerasan terhadap seksual terhadap perempuan tidak bergantung pada seberapa tertutup perempuan, namun bergantung seberapa tingkat kemesuman dan kebiadaban si pelaku.


[3]. Marsinah
Kekerasan kemanusiaan terhadap perempuan juga menjadi rapor merah bagi negara dan pemerintahan. Di Indonesia, pernah terjadi kekerasan terhadap seorang buruh pabrik yang bernama Marsinah. Marsinah adalah seorang buruh progresif yang melakukan gerakan penuntutan terhadap perusahaan dimana ia bekerja. Selang beberapa hari Marsinah ditemukan tak bernyawa dengan kondisi mayatnya yang mengenaskan. Keterlibatan aparat dalam kematian Marsinah menjadi rapor merah bagi Negara dalam hal melindungi kaum perempuan. Sampai sekarang seiring dengan tidak transparannya negara atas marsinah, semakin banyak kasus-kasus kekerasan terhadap pekerja perempuan terutama sekali terhadap buruh migran perempuan. Kasus kekerasan terhadap buruh migran perempuan seperti tidak ada habisnya, diharapkan negara dapat hadir dan menyelesaiakan persoalan tersebut.

Tingkat pernikahan usia dini dan kematian ibu bersalin juga belum ditanggapi secara menyeluruh baik dari pemerintah, masyarakat, dan perempuan itu sendiri. Kurangnya pendidikan dan perlindungan terhadap perempuan dan anak-anak menjadi akar masalahnya. Kondisi masyarkat yang tradisional sering menganggap tabu pendidikan seksual khususnya terhadap perempuan. Masyarakat menganggap pendidikan seksual terhadap perempun adalah hal yang memalukan dan tidak layak. Hal ini lagi-lagi disebabkan oleh Patriarki Eksrim dalam masyarakat, perempuan dikesampingkan.

-

Sudah waktunya kita merubah pemahaman lama yang menempatkan perempuan sebagai masyarakat kelas dua. Dalam momen Hari Perempuan Sedunia ini kita diingatkan untuk melakukan perubahan cara berpikir dan cara menyikapi perempuan dari budaya-budaya patriarki primitif yang masih saja kita temukan dalam segala aspek kehidupan sosial masyarakat kita. Negara, pihak yang paling bertanggungjawab terhadap kehidupan masyarakat khususnya perempuan harus hadir menyelesaiakan setiap masalahnya,, didukung oleh masyarakat yang juga diharuskan turut merubah cara pandangnya terhadap perempuan dari semula yang dianggap remeh dan dikesampingkan menjadi makhluk yang memiliki kesetaraan hak dan segala bentuk penerapan perlakuannya.

Selamat Hari Perempuan Sedunia!

Sumber gambar :






Big Thanks To Readers!
Vrandes - Langit Tjerah
Read more ...

Saturday, March 3, 2018

Grebeg K3, Aksi Nyata Untuk Lingkungan


Peran kita bersama untuk kelestarian lingkungan

Sabtu, 3 Maret 2018 sebuah acara tentang kepedulian terhadap lingkungan dilaksanakan disekitar Alun-alun Bekasi. Acara tersebut bernama Grebeg K3, atau lebih lengkapnya Grebeg Kebersihan, Ketertiban, dan Keindahan Lingkungan. Seperti pada umumnya Grebeg adalah upaca berkala yang diperingati oleh beberapa masyarakat bertepatan dengan peringatan hari-hari tertentu. Biasanya Grebeg dilaksanakan untuk memperingati Maulid Nabi, menyambut Ramadhan, memperingati hari kemerdekaan, dan lainnya. Namun pada Grebeg kali ini, sedikit berbeda dengan grebeg-grebeg pada umumnya yang identik dengan hari-hari keagamaan dan terkesan seremonial. Grebeg K3 adalah Grebeg yang dilaksanakan untuk mewujudkan Kebersihan, Ketertiban, dan Keindahan Lingkungan, sejumlah masyarakat bersama-sama membersihkan lingkungan hidupnya. Acara ini diselenggarakan untuk memperingati Hari Sampah Nasional yang jatuh pada hari Rabu, 21 Februari 2018 dan juga bertepatan dengan Penilaian dan Pemantauan Adipura Kota Bekasi. Walaupun acara ini dilakukan setelahnya, namun tidak mengurangi esensi dan tetap memberikan manfaat yang luar biasa pada lingkungan.

21 Februari ditetapkan sebagai Hari Peduli Sampah Nasional bukan tidak memiliki arti, sebab penetapan tanggal tersebut memiliki sejarah yang tidak dapat kita lupakan begitu saja. Peristiwa kelam yang terjadi pada 21 Februari 2005 di Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat, yang merenggut nyawa lebih dari 100 jiwa menjadi raport merah bagi kita. Kejadian itu dikarenakan tumpukan sampah yang terkena curah hujan yang tinggi meledak dan longsorannya menimbun setidaknya 2 desa. Hal inilah yang menjadi dasar ditetapkannya Hari Sampah Nasional setiap 21 Februari.

[1]. Peristiwa Longsor Sampah Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat 21 Februari 2018
Dalam Grebeg K3 Memperingati Hari Sampah Nasional dan Penilaian Adipura ini, Dinas Lingkungan Hidup UPTD Taman Hutan Kota Bekasi mengadakan kegiatan bersih Taman dan Lingkungan sekitarnya dengan melibatkan Karang Taruna, PKL, Pengelola Parkir, dan beberapa Komunitas Sosial. Acara tersebut berupa pemungutan sampah, pembersihan area umum, penataan fasilitas umum, dan revitalisasi sarana kebersihan seperti tong sampah dan perangkat lainnya. Komunitas Sosial yang ikut berkontribusi dalam acara tersebut seperti Komunitas ARC (Anak Rantau Cilacap), Komunitas Langit Tjerah, Karang Taruna Margajaya, dan lain-lain.

Sebelum hari pelaksanaan, Surat Pemberitahuan diedarkan pada 27 Februari 2018. Surat tersebut sampai kepada Langit Tjerah, mengajak untuk ikut berkontribusi terhadap kegiatan tersebut. Tanpa penjelasan yang panjang lebar, kami langsung menanggapi pemberitahuan tersebut dan memberikan jawaban bahwa Langit Tjerah siap berpartisipasi, sebelumnya memang Langit Tjerah mempunyai rencana yang hampir sama untuk memperingati Hari Sampah Nasional tersebut.

[2]. Surat Pemberitahuan Grebeg K3
Kegiatan Grebeg K3 dimulai pada pukul 07.00 WIB, diawali dengan briefing dan doa bersama untuk kelancaran kegiatan. Dengan mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) dan alat-alat kebersihan, peserta melakukan bakti lingkungan seperti memungut sampah, pembersihan area dagang, merapikan sarana umum, dan lain-lain. Walaupun kegiatan tersebut cukup menguras tenaga terlebih cuaca yang panas oleh terik matahari tidak mengendorkan semangat para peserta untuk membersihkan lingkungan.

[3]. Briefing Aksi Lingkungan

[4]. Aksi Lingkungan 1

[5]. Aksi Lingkungan 2

[6]. Aksi Lingkungan 3

[7]. Aksi Lingkungan 4

[8]. Aksi Lingkungan 5
Kegiatan tersebut diakhiri pada pukul 12.00 WIB, peserta membubarkan diri dengan teratur. Setelah diadakan Grebeg K3 tersebut lingkungan Taman Alun-Alun Bekasi menjadi bersih, rapi, dan indah, tentunya kegiatan ini memberikan dampak yang sangat baik bagi lingkungan sekitar.

Disamping kegiatan ini bertujuan untuk memperingati Hari Sampah Nasional dan Penilaian Adipura, yang tidak kalah pentingnya adalah tujuan untuk menumbuhkan kesadaran sesama mengenai kepedulian terhadap lingkungan hidup. Hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa sekarang ini sangat minim kepedulian masyarakat tentang lingkungan hidup, terkesan bahwa manusia hanya "sekedar numpang hidup" di planet bumi ini sehingga seenaknya membuat kerusakan dan berikap apatis terhadap keselamatan lingkungan.

Dalam hal ini, sampah yang menjadi perhatian utama. Menurut Riset Greeneration, organisasi nonpemerintah yang telah 10 tahun mengikuti isu sampah, satu orang di Indonesia rata-rata menghasilkan 700 kantong plastik per tahun [1]. Inilah yang menjadi keprihatinan bersama, satu manusia di Indonesia memproduksi 700 sampah plastik belum lagi yang dibuang secara sembarangan. Sampah yang berserakan dan tidak dikelola dengan baik akan menimbukan kerugian yang luar biasa. Malapetaka di Leuwigajah adalah contoh nyata dari akibat meningkatnya sampah dan pengelolaan sampah yang tidak baik. Dari pihak masyarakat, kurangnya kesadaran akan sampah menjadi akar masalah tentang persoalan sampah ini. Masyarakat kita kebanyakan menganggap pengelolaan sampah cukup dengan menjauhkan sampah itu dari dirinya, alhasil dibuang sembarangan tanpa pengelolaan yang baik. Dari pihak pemerintah, perlu adanya perbaikan prosedur tentang TPS dan TPA mengingat semakin hari sampah semakin menumpuk dan belum teratasi dengan maksimal. Juga konsistensi mengenai regulasi pengelolaan sampah dalam UU no. 18 Tahun 2008 pasal 11 ayat (1) huruf a yang menjelaskan bahwa, "Setiap orang berhak mendapatkan pelayanan dalam pengelolaan sampah secara baik dan berwawasan lingkungan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau pihak lain yang diberi tanggung jawab untuk itu." [2]. Dengan kesadaran dan peran semua pihak, diharapkan sampah dapat diatasi dengan baik dan tidak menimbulkan bahaya bagi kehidupan.

[9]. Sampah Tidak Dikelola dengan Baik
Sudah sepantasnya manusia hidup di muka bumi untuk menjadi manfaat bagi kehidupan, bukan menjadi sumber malapetaka untuk segala macam jenis kehidupan. Manusia sebaiknya memiliki kesadaran untuk tidak selalu berstandar pragmatis terhadap lingkungan dan kehidupannya. Yang jelas alam akan memberikan akibat dari segala sesuatu yang kita lakukan, hal ini mutlak adanya. kita membuang sampah di sungai sembarangan, alam memberikan balasannya dengan banjir, begitu pula dengan peristiwa sebab-akibat lainnya. Untuk itu diperlukan kesadaran penuh sehingga kita menjadi manusia seutuhnya yang menghormati daulat hukum alam.



Sumber tulisan :
[1]. Blog Sejarah Dunia,"Sejarah Hari Peduli Sampah", https://blog-sejarah-dunia.blogspot.co.id/2016/02/sejarah-hari-peduli-sampah-nasional.html

[2]. UU No. 18 Tahun 2003 Tentang Pengelolaan Sampah, Bab II, Pasal 11 ayat (1).

Sumber gambar :
[1]. https://akarpohonmks.files.wordpress.com/2016/02/1-11.jpg?w=1000

[2] - [8]. Dokumentasi Kegiatan Grebeg K3, 3 Maret 2018

[9]. http://img.beritasatu.com/cache/beritasatu/930x680-2/1505281166.jpg



Big Thanks To Readers!
Vrandes S. C - Langit Tjerah
Read more ...

Friday, September 15, 2017

Hutan Untuk Ketahanan Iklim


[1]. Hutan Indonesia
Indonesia mempunyai hutan spesial yang tidak banyak dimiliki oleh negara lain, yaitu hutan tropis. Keberadaan ini menjadikan posisi Indonesia sebagai negara yang kaya namun bagai kapak bermata dua. Satu sisi kekayaan bisa menyejahterakan masyarakat lewat potensi ekonomi yang disimpan, namun sisi lain bisa menyengsarakan masyarakat lewat ancaman bahaya jika tidak dikelola dengan baik. 

Selain menyokong keanekaragaman hayati dan masyarakat yang bergantung pada hutan, hutan hujan tropis memainkan suatu peran vital dalam iklim global dengan kemampuannya menyerap karbon dioksida, gas yang dipercaya oleh ahli sebagai penyebab terjadinya pemanasan global. Pepohonan hutan merupakan suatu komponen yang dapat menyerap karbon atmosfer (carbon sequestration) dan mengubahnya menjadi oksigen melalui proses fotosintesis. Karbon yang diserap diubah menjadi biomassa (carbon sink) sekaligus disimpan dalam sistem sebagai stok karbon (carbon stock). Hutan hujan tropis merupakan penyerap karbon terbaik dibandingkan dengan ekosistem lainnya. Hutan hujan tropis juga berperan dalam menciptakan kondisi cuaca lokal dengan membuat hujan dan mengatur suhu.

Hutan hujan tropis memiliki kemampuan yang baik dalam menyerap dan menyimpan air sehingga dapat dijadikan penyangga dari bencana banjir dan kekeringan global. Ketika musim hujan tiba, hutan hujan tropis dapat mengurangi limpasan air melalui stratifikasi tajuk yang berlapis-lapis sehingga sebagian besar air tetap berada di dalam ekosistem. Sedangkan ketika musim kemarau tiba, kekurangan air dapat ditutupi dari cadangan yang diperoleh selama musim hujan.

Dengan luas hutan sekitar 109 juta hektar pada tahun 2003, Indonesia adalah pemilik hutan hujan tropis terluas ketiga di dunia, setelah Brasil dan Kongo. Tetapi dari luasan hutan yang tersisa, hampir setengahnya terdegradasi. Pada tahun 1997-2000, laju kerusakan hutan Indonesia mencapai 2,8 juta hektar/tahun. Sementara itu, laju kerusakan hutan pada tahun 2000-2005 di Indonesia setara dengan 364 lapangan bola/jam. Menurut data kementerian kehutanan, laju deforestasi Indonesia pada tahun 2003-2011 mencapai 0,82 juta hektar/tahun.

[2]. Kasus Pembakaran Hutan
Deforestasi terjadi karena berbagai faktor yang menumbalkan hutan atas dasar pemenuhan kebutuhan manusia. Organisasi lingkungan, WWF mencatat faktor terbesar yang menyebabkan deforestasi antara lain: konversi hutan menjadi lahan pertanian, pembalakan liar, kebakaran hutan, dan penggunaan kayu bakar. Untuk memenuhi kebutuhan pangan dan energi manusia yang terus membengkak, hutan dibuka menjadi kebun dan area peternakan secara masif. Permintaan yang terus meningkat terhadap kayu internasional, hampir 50% dipenuhi melalui pemanenan kayu di hutan alam secara ilegal. Kebakaran hutan menyumbangkan deforestasi tertinggi dibandingkan faktor lain. Penggunaan kayu untuk bahan bakar juga signifikan mendorong deforestasi. Pusat penelitian kehutanan internasional, CIFOR menambahkan pemicu deforestasi termasuk tekanan kemiskinan dan populasi, saat penduduk mencari lahan garapan, bahan bakar kayu dan bahan bangunan. Di sisi lain, pembangunan infrastruktur, khususnya jalan, pertambangan dan bendungan turut menyokong tingginya laju deforestasi di Indonesia. 

Deforestasi terjadi baik di hutan temperate maupun hutan hujan tropis. Namun dunia sangat mengkhawatirkan laju deforestasi besar-besaran yang terjadi di hutan hujan tropis karena berfungsi sebagai penyangga kehidupan di bumi yang kaya dengan keanekaragaman hayati dan menjadi penyimpan cadangan biomassa paling besar. Kerusakan hutan tropis bertanggungjawab atas seperlima emisi gas rumah kaca di bumi, lebih dari akumulasi jumlah emisi yang dihasilkan kereta, pesawat dan mobil seluruh dunia.

Dampak paling mengerikan dari deforetasi adalah perubahan iklim global. Deforestasi berpengaruh besar terhadap perubahan iklim dalam dua hal. Pertama, perambahan dan pembakaran hutan melepaskan karbondioksida ke atmosfer. Deforestasi mengakibatkan lepasnya karbon yang awalnya tersimpan di dalam pohon sebagai emisi karbondioksida. Hal ini berlangsung dengan cepat apabila pohon dibakar dan berjalan lambat apabila mengalami pelapukan secara alami. Kedua, kerusakan hutan akan mengurangi area hutan yang menyerap karbon dioksida. Kedua peran ini sangat penting dalam pertarungan menghadapi perubahan iklim.

[3]. Perubahan iklim
Sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Meskipun besarnya bahaya belum dapat dipastikan, World Bank memperkirakan dampak perubahan iklim yang signifikan bagi Indonesia adalah: kenaikan temperatur global, curah hujan yang lebih tinggi dan musim hujan yang lebih pendek sehingga merubah keseimbangan air dan energi, kenaikan permukaan air laut, ancaman ketahanan pangan dan menurunnya produktivitas pertanian serta perikanan, ancaman terhadap keanekaragaman hayati dan pemutihan terumbu karang. Dunia juga dihadapkan pada banjir yang lebih sering dan besar, kekeringan, kelaparan serta runtuhnya ekosistem seperti hutan Amazon, punahnya 20-50% dari seluruh rumpun mahluk hidup dan meningkatnya permukaan air laut akibat lapisan es yang meleleh.

Para ilmuwan telah memperingatkan kenaikan suhu global harus berada di bawah 2°C dibanding sebelum revolusi industri untuk menghindari dampak perubahan iklim yang lebih parah. Bumi yang lebih hangat 2°C akan mengubah kehidupan yang kita jalani saat ini. Organisasi lingkungan, Greenpeace menyatakan untuk mendapatkan kesempatan terbaik dalam mempertahankan kenaikan suhu di bawah 2oC, emisi gas rumah kaca harus mencapai puncaknya pada tahun 2015 kemudian harus menurun drastis.

Indonesia berkomitmen untuk menjalani masa depan yang rendah emisi dan berketahanan iklim yang terurai dalam Nationally Determined Contribution (NDC). Indonesia memandang perlu upaya komprehensif adaptasi dan mitigasi berbasis lahan dan laut sebagai sebuah pertimbangan strategi dalam mencapai ketahanan iklim terkait pangan, air dan energi. Pada sektor berbasis lahan, REDD+ atau reducing emissions from deforestation and forest degradation and enhancing carbon stocks in developing countries menjadi komponen penting dari target NDC Indonesia. Forest Reference Emission Level (FREL) Indonesia untuk REDD+ yang mencakup deforestasi dan degradasi hutan serta dekomposisi gambut ditetapkan sebesar 0.568 GtCO2e/tahun untuk pool karbon Above Ground Biomass hingga 2020. Namun upaya tersebut nampaknya belum konsisten dijalankan oleh pemerintah Indonesia melihat masih tingginya angka deforestasi.

Indonesia perlu mengembangkan teknik budidaya tanaman pertanian, kehutanan, dan peternakan yang lebih produktif di area yang sudah ada. Produktivitas yang tinggi akan mendorong terpenuhinya kebutuhan tanpa perlu membuka lahan baru yang mengorbankan hutan. Dengan demikian, angka deforestasi bisa ditekan dan kekhawatiran akan perubahan iklim bisa sedikit teratasi. Upaya ini memerlukan kolaborasi aktif dari semua sektor dan semua pihak agar hutan mampu bertahan untuk perubahan iklim.

Selain itu, pemerintah Indonesia agaknya perlu mencontoh ketegasan pemerintah Bhutan dalam menerapkan kebijakan terkait perlindungan lingkungan hidup yang sangat ketat. Bhutan memperkenalkan serangkaian kebijakan untuk memastikan negaranya tetap netral karbon termasuk amandemen konstitusi untuk menjamin area berhutan tidak kurang dari 60%, dan melarang penebangan untuk ekspor. Bahkan negara ini berambisi untuk menghasilkan nol emisi gas rumah kaca. Kebijakan tersebut dilaksanakan secara konsisten oleh pemerintah dan masyarakat sehingga mengantarkan Bhutan sebagai negara yang menyerap karbon lebih banyak dibandingkan dengan karbon yang dihasilkan atau carbon negative.
[4]. John Muir Quotes
"Tuhan telah merawat pohon-pohon ini, menjaga mereka dari kekeringan, penyakit, longsoran, dan seribu badai dan banjir. Tapi Dia tidak bisa menjaganya dari orang-orang tolol."
- John Muir -


Referensi:

Anna Tosiani, "Buku Kegiatan Serapan dan Emisi Karbon", (Jakarta: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2015).

Center of International Forestry Research, "Peliputan REDD+: Sebuah Panduan bagi Jurnalis tentang Peranan Hutan dalam Menghadapi Perubahan Iklim Global", (Bogor: CIFOR, 2017).

Climate Action Programme, "Bhutan: the World's First Carbon-negative Country", Climate Action Programme News, source: http://www.climateactionprogramme.org/news/bhutan_the_worlds_only_carbon_negative_country, accessed at 5th August 2017

Greenpeace Indonesia, "Hutan Tropis Indonesia dan Krisis Iklim", (Jakarta: Greenpeace Indonesia, 2010).
Fenky Marsandi, "Tinjauan Pustaka", (IPB: Repository IPB, 2017).

Susan Stone, Mario Chacon Leon dan Patricia Fredericks, "Perubahan Iklim dan Peran Hutan", (Jakarta: Conservation International Indonesia, 2010)

United Nation Framework for Climate Change Conference, "Intended Nationally Determined Contribution Republic of Indonesia", UNFCCC Report, source: http://www4.unfccc.int/submissions/INDC/Published%20Documents/Indonesia/1/INDC_REPUBLIC%20OF%20INDONESIA.pdf, accessed at 5th Agustus 2017

William D Sunderlin dan Ida Aju Pradnja Resosudarmo, “Laju dan Penyebab Deforestasi di Indonesia: Penelaahan Kerancuan dan Penyelesaian”, (Bogor: Center for International Forestry Research, 1997).
World Bank, "Adaptasi terhadap Perubahan Iklim: Policy Brief", (Jakarta: Kantor Bank Dunia Jakarta, 2017).

World Wildlife Fund, "Deforestation", diakses dari: http://wwf.panda.org/about_our_earth/deforestation/, pada tanggal 5 Agustus 2017.

World Wildlife Fund, "Hutan Indonesia: Penyerap atau Pelepas Emisi Gas Rumah Kaca?", (Jakarta: WWF Indonesia, 2017).

Sumber gambar :

[1]. http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/05/pantau-langsung-hutan-indonesia

[2]. https://beritagar.id/artikel/berita/kenapa-polisi-menghentikan-penyidikan-kasus-pembakaran-hutan

[3]. http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/11/151116_majalah_dampak_perubahaniklim

[4]. https://www.slideshare.net/toddchandler/12-of-my-favorite-john-muir-quotes


Ditulis oleh : Siti Hudaiyah - Langit Tjerah


Read more ...

Sajakku Kali Ini


Kali ini aku,

Ya, aku akan mengajarkanmu tentang bagaimana cara untuk menderma energi positif kepada khalayak di sekitar yaitu dengan senyum.

Berpuisi, sajakku meniup jiwa-jiwa yang gerah.




Burung Tak Bersangkar
Oleh : Dedi. S.

Kicau burung membangunkan hangat matahari
Bebaslah kau terbang kesana kemari
Tak sepertiku yang tersangkar dalam jemari

Mungkinkah kau lelah mengudara?
Istirahat sejenak di dahan nan rimbun
Pinjamkan sayapmu padaku
Ku ingin merasakan terbang bebas
Merasakan angin yang menghempas
Menyapa langit-langit yang mengelupas

Bahagia rasa ini tak berupa
Menjelajahi kebebasan yg terlepas
Akankan ku menjelma sebagai burung tak bersangkar?




Selamat Tidur!
Oleh : Dedi. S.

Hari menuju larut gelap
Terang mulai meredup
Namun bulan masih menderang
Bintang kian mengangkang
  
Rasaku hari ini telah hilang
Lelah mengumpat segala problema
Pandang lalu menyempit
Buat ku terbuai imaji bawah sadar

Kurelakan raga terbuai lara
Tapi jiwa tetap terjaga
Melumuti imaji yang kian mendalam
Terlelap ku di dalam pelukan alam



"Maka tersenyumlah dengan tulus"




Ditulis oleh : Dedi. S.
Read more ...

Tuesday, August 8, 2017

Indonesia [Tak Pernah] Bisa Lepas Dari Penjajahan


[1]. Indonesian Flag
Ratusan tahun Bangsa Indonesia mengalami penjajahan yang diluar batas kemanusiaan. Penghisapan Sumber Daya Alam, Sumber Daya Manusia, akal sehat, hingga peniadaan nasib baik. Dari kongsi dagang Belanda hingga penjajahan oleh Jepang, sudah pernah mengangkangi derajat hidup bangsa ini. Melakukan kesewenang-wenangan dan seenaknya sendiri menciptakan kelas-kelas masyarakat baru sesuai kepentingannya. Walaupun mereka memiliki tujuan yang berbeda-beda, dari sudut pandangnya pun bisa berbeda juga, namun kenyataannya sama, yaitu menindas. Penjajahan dari kaum penindas mencakup segala aspek kehidupan, mulai penjajahan fisik, sistem sosial dan budaya, hingga penjajahan intelektual. Penjajahan fisik sangat mudah dikenali sebab bentuknya nyata, pembunuhan, genosida, penyiksaan dan lainnya. Namun penjajahan akal sehat dan sistem sosial jauh lebih susah diselidiki dan diberantas. Kebetulan juga bangsa Indonesia sangat mudah untuk dipecah-belah jika sudah dihadapkan pada kepentingan dan syahwat. Sehingga mudah sekali kaum penindas melakukan lobi-lobi dan memecah belah, sesudahnya kaum penindas melakukan kebejatan sesuai kehendak dan nafsunya. Hal itu berlangsung hingga beratus-ratus tahun dan diwariskan kepada generasi selanjutnya.

Ceritanya mungkin sedikit berubah ketika masa penjajahan kolonial, namun memiliki tema yang tetap sama, penindasan. Penjajah mulai memoles wajahnya hingga terkesan sedikit halus dan menarik. Contohnya saja politik balas budi yang dipelopori oleh Brooshooft dan Van Deventer sebagai kritik terhadap sistem tanam paksa. Namun, kenyataannya Politik Etis tersebut dijadikan sistem penjajahan yang bermuka lebih halus. Politik Etis mencakup tiga tuntutan : Irigasi, Migrasi, dan Pendidikan. Dalam bidang Irigasi, kenyataannya hanya menjangkau tanah-tanah para tuan dan perusahaan swasta milik Belanda sendiri, kaum pribumi sama sekali tak tersentuh manfaatnya program ini. Dalam bidang Migrasi, orang-orang pribumi disebar ke wilayah-wilayah yang dibutuhkan tenaga kerja untuk perkebunan, atau perusahaan milik penindas. Mereka hanya dijadikan budak di lain daerah, bukan mengangkat derajat hidupnya malah semakin ditindas dan terasingkan. Dalam bidang pendidikan, hanya keturunan bangsawan atau tuan-tuan saja yang bisa mendapatkannya. Sedangkan anak-anak pribumi banyak yang tak bisa mendapatkannya. Dalam pendidikan juga mulai tercipta kelas-kelas yang diskriminatif, yaitu kelas anak-anak pegawai dan anak-anak pribumi biasa. Konten pendidikannya pun disesuaikan dengan kepentingan si penindas, jika sekiranya tidak memberikan manfaat untuk kaum penindas, maka pendidikan itu tidak diberikan. Hal itu pun berlangsung hingga beberapa generasi selanjutnya.

Suasana dunia di masa World War II semakin tidak menentu, hingga akhirnya penjajahan diganti oleh Jepang. Namun jepang hanya menguasai beberapa tahun saja, tujuannya pun hanya untuk memperoleh sumber daya dan finansial guna kepentingan perang. Jepang tidak semassif penjajah sebelumnya yang mampu mengubah sistem dan tatanan sosial bahkan akal sehat penduduk pribumi dapat pula dikebiri. Setelah kekalahan Jepang, bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya sebagai bangsa terbebas. Indonesia muncul sebagai negara baru ditengah kemelut persoalan dunia pasca Perang Dunia. Ditunjang Indonesia berada dalam wilayah yang strategis, sehingga sangat disayangkan oleh para penindas jika Indonesia lepas dari belenggunya.

[2]. Proklamasi
Bangsa ini pada tahun 1945 menyatakan kemerdekaannya, berkat perjuangan fisik rakyatnya maupun perjuangan diplomatis beberapa elit politiknya. Namun, apakah betul Indonesia merdeka? ataukah Indonesia hanya mengalami perubahan model penjajahan baru?. Mengingat bangsa Eropa menjajah beratus-ratus tahun, apakah mungkin Indonesia bisa lepas dari pengaruhnya?. Belum lagi ditambah penjajahan Jepang, lengkap sudah model-model penindasan yang dialami bangsa ini. Lalu bagaimanakah kemerdekaan itu?.

Dalam pertemuan antara Sukarno, Hatta, Sjahrir dan Agus Salim, Tan Malaka datang tanpa undangan dan mengatakan bahwa, “Kepada kalian para sahabat, tahukah kalian kenapa aku tidak tertarik pada kemerdekaan yang kalian ciptakan. Aku merasa bahwa kemerdekaan itu tidak kalian rancang untuk kemaslahatan bersama. Kemerdekaan kalian diatur oleh segelintir manusia, tidak menciptakan revolusi besar. Hari ini aku datang kepadamu, wahai Soekarno sahabatku. Harus aku katakan bahwa kita belum merdeka, karena merdeka haruslah 100 persen.”. Tan Malaka adalah seorang Bapak Republik yang tidak diterima oleh bangsanya sendiri. Namanya dijauhkan dari sejarah perjuangan yang konseptual. Bagi Tan, kemerdekaan yang berhasil dikumandangkan pada 1945 hanyalah kemerdekaan milik kaum elit, bukan milik rakyat. Kemerdekaan kaum elit yang bahagia mendadak karena menjadi borjuis. Kemerdekaan ini hanya dapat dirasakan oleh pemimpinnya saja, sedangkan rakyat harus tetap menghadapi penindasan yang dilakukan oleh wakilnya sendiri. “Esok, adalah hari dimana aku akan menjelma menjadi musuh kalian, karena aku akan tetap berjuang untuk merdeka ‘seratus persen’.” Begitu ungkap Tan Malaka. Jika kita melihat dari sudut Tan Malaka, benar memang bangsa ini tidaklah merdeka, yang merdeka hanyalah sebagian elit politiknya saja, sedangkan rakyatnya tidak.

Sehingga setelah bangsa ini dikatakan merdekapun kita masih menjumpai segala jenis penindasan yang telah berubah modelnya. Baik dari demografi, sumber daya alam, ideologi, politik, sosial budaya, edukasi, bahkan ekonomi. Dinamika perpolitikan hanyalah ‘drama’, tak pernah menyelesaikan persoalan ketertindasan. Sukarno digulingkan dan digantikan Soeharto hanyalah tontonan ‘drama non-kolosal’ yang tak pernah menyelesaikan permasalahan. Justru malah lebih parah, kita menghadapi penjajahan New Imperialism yang dilakukan oleh elit penguasa global. Kita dihadapkan dengan oligarki politik oleh beberapa politisi Orde Baru yang memperkaya diri dan keluarganya dengan cara menindas dan menabung beban bagi rakyat. Atas nama pembangunan, dewa-dewa kemakmuran dikangkangi dan di cor dengan semen-semen palsu. Gedug-gedung sekolah dibangun namun semakin jauh dari makna pendidikan, lumbung-lumbung padi dibangun tapi malah semakin dekat dengan kelaparan, Pabrik-pabrik dibangun namun jauh dari kemajuan. Pembangunan, adalah kedok pemerintah Orde Baru (baca : rezim penindas) untuk hutang ke luar negeri dan menjajakan diri kepada investor, yang hasilnya dikorupsi dan dibagi-bagi kepada sanak family. Rakyat hanya diberikan ampasnya yang tak seberapa, namun dibebani hutang dan masa depan yang penuh dengan kemalangan.

Sebagian besar anak-anak hidup namun jauh dari pendidikan, sedangkan mereka yang dekat dengan pendidikan hanya mengejar prospek dan cita-cita menjadi pejabat dan ‘negarawan’. Inilah penjajahan yang lebih biadab, anak bangsa menyikut nasib anak yang lainnya. Jelas-jelas ini warisan pendidikan masa kolonial, warisan otak-otak penindas. Tenaga pendidik yang sama sekali tak pernah membahas tentang pembebasan, namun hanya berkutat dalam keinginan memutar keadaan. Rakyat disubsidi untuk mengecohnya dari persoalan yang sebenarnya, hutang dan tipu-tipu. Penindasan lain yang tak kalah mengerikan adalah penindasan kemanusiaan. Setiap orang yang melayangkan kritik pasti dibungkam bahkan dihilangkan nyawanya, nyawa tak pernah berarti jika diadu dengan roda kekuasaan dan perpolitikan. Kita dapat menyaksikan hilangnya beberapa aktivis yang melakukan perlawanan terhadap rezim penindas, bahkan sampai peristiwa penembakan yang sampai menghilangkan nyawa seseorang beratasnamakan negara dan stabilitas. Kemerdekaan Indonesia hanya mampu membebaskan penindasan fisik yang dilakukan oleh bangsa eropa, namun tak mampu membebaskan penindasan sistem oleh bangsa adikuasa yang dititipkan pada elit politik kita. Politisi-politisi dan pejabat-pejabat hanya ‘meneruskan mandat’ dari penjajah imperial. W.S Rendra dalam puisinya yang berjudul Maskumambang mengatakan “Bangsa kita kini seperti dadu, terperangkap di dalam kaleng hutang yang dikocok-kocok oleh bangsa adikuasa tanpa kita bisa melawannya.”.

[3]. Reformasi
Soeharto berhasil ditumbangkan, digantikan Orde Reformasi dimana amandemen-amandemen dipercaya dapat mengubah nasib bangsa. Perubahan sistem perpolitikan hingga perubahan undang-undang digulirkan namun tetap sama-sama bernada penjajahan. Kita melihat bahwa memang penjajahan fisik sudah nyaris tidak ada, namun berganti ke penjajahan sistem. Kita dijajah dengan hutang peninggalan Orde sebelumnya, yang mana dengan mengatasnamakan pembangunan bisa seenaknya membebani rakyatnya segudang derita. Hutang tersebut menjerat dan mencekik generasi selanjutnya sehingga bangsa ini tak mampu bernafas sebagaimana mestinya. Benar kata Rendra bahwa bangsa ini terperangkap seperti dadu dalam kaleng hutang yang dikocok-kocok tanpa bisa melawan. Itulah, yang mana kita lihat sehingga dapat dikatakan bahwa Indonesia [tak pernah] bisa lepas dari penjajahan. Kita saja tak bisa lepas dari penjajahan wakil kita sendiri, bagaimana mungkin bisa lepas dari penjajahan penguasa global?. Bangsa ini dijerat oleh kebijakan-kebijakan pebisnis dan pemilik modal skala global yang bajingan. Sebagaimana yang dibahas oleh John Pilger dalam film dokumenternya yang sudah sangat familiar “The New Rulers of The World”, bahwa penjahan baru itu bernama globalisasi. John Pilger mempertanyakan arti globalisasi, “... ataukah ini (globalisasi) semata-mata adalah cara lama yang dulunya dilakukan pada jaman raja-raja dan sekarang diteruskan oleh perusahaan-perusahaan multinasional dengan berbagai lembaga keuangan dan pemerintah sebagai penopangnya.”.

Kenyataannya bahwa memang kita belum pernah bisa merdeka, kita hanya mengalami fase-fase penjajahan yang berbeda pelaku dan metodenya. Dalam liputan spesial itu dibahas tentang penjajahan gaya baru ‘globalisasi’ di Indonesia, khususnya setelah tumbangnya rezim Sukarno dan digantikan Soeharto, hingga masa setelah reformasi. Dengan dimulai masa rezim Soeharto, hingga kini bangsa ini harus menanggung masa penjajahan dikte IMF dan World Bank, belum lagi utang kepada bangsa lain yang sebagai syaratnya harus mau didikte secara politik, sosial maupun ekonomi. Sangat disayangkan negeri yang begitu kayanya akan sumber daya harus menjadi pengemis dan hidup dalam ketertindasan. Buruh pabrik harus menjadi robot-robot bernyawa untuk mendapat penghidupan yang jauh dari kata layak. Bayaran Ronaldo untuk mengiklankan sepatu branded luar negeri yang pabriknya di Indonesia mampu untuk membeli tenaga seratus buruh rendahan pembuatnya selama setahun penuh. Kenyataan yang sangat tidak masuk akal dan tidak dapat diterima secara manusiawi. Penjajahan biadab yang mengatasnamakan ‘pembangunan’dan kemajuan jaman. Petani-petani hanya mampu memandang makanan di balik etalase restoran multinasional tanpa bisa membelinya. Hasil panennya dimainkan oleh kartel dan monopoli cukong-cukong bermuka ‘sok baik’. Harga beras dibeli secara murah namun jika sudah ditambahkan merek, tajam harganya melebihi tajam arit petaninya, biadab. Anak-anak miskin hanya mampu bersekolah ketika terlelap di malam hari, mimpi yang tak kunjung terealisasi. Adapun jikalau bisa bersekolah, orang tuanya lah yang kelimpungan mencari biaya, beasiswa ‘mandeg’ disikat iuran komite sekolah. Penegakan hukum juga hanya menjadi omong kosong dan bualan penguasa, dengan mudahnya tarik ulur untuk kepentingan politis. Katakanlah seperti kasus hilangnya aktivis ketika masa reformasi, setiap hendak pergantian kekuasaan pasti menjadi janji, namun hanya menjadi bualan dan tak pernah serius dibuktikan. Begitu pula dengan penuntasan kasus pelanggaran HAM 1965 dimana ratusan ribu nyawa dihilangkan atas nama pembersihan dan stabilitas nasional. Penyelesaian kasusnya seperti selalu tersendat-sendat tak pernah lancar dan sebentar muncul sebentar tenggelam.

Kenyataannya sekali lagi kita tegaskan, bahwa Indonesia [tak pernah] bisa lepas dari penjajahan, sebab dari awal mulanya saja memang sudah dirancang untuk tidak merdeka. Kita banyak mengadopsi sitem kolonial, yang mana sampai sekarang masih dipercaya relevan untuk mengatur negara. Kita dicetak menjadi peradaban yang berpikiran dangkal, dididik dalam suasana dan sistem warisan kolonial. Sehingga kita semakin dijauhkan dari makna pembebasan, kita hanya disibukkan dalam konsep penindas-tertindas.

Namun, masih ada harapan sekecil apapun itu. Kita masih memiliki potensi untuk melepaskan diri dari penindasan, hanya saja kita mau atau tidak. Dalam mencapai kemerdekaan yang sebenarnya, kita perlu mengawalinya dengan melakukan revolusi dari dalam diri kita sendiri. Dengan revolusi kecil itu, yakinlah kita akan semakin disatukan dengan orang-orang lain yang juga melakukannya. Sehingga suatu saat jebollah sistem penindasan yang menjerat kita selama ini karena People Power. Perlawanan dibutuhkan untuk mengikis habis ketertindasan.
Panjang umur perlawanan!

Sumber gambar :


 
Big Thanks To Readers!

Written by : Vrandes Setiawan Cantona

 
Read more ...
Designed By Langit Tjerah