Langit Tjerah menerima donasi buku bekas, buku baru, maupun alat pendidikan yang lainnya untuk kami salurkan kepada Komunitas Pendidikan maupun Taman Baca yang membutuhkan, silahkan hubungi contact person. Terima Kasih.
Showing posts with label Emansipasi. Show all posts
Showing posts with label Emansipasi. Show all posts

Saturday, March 10, 2018

Perempuan, Emansipasi, dan Bahaya Yang Mengancamnya



[1]. Hari Perempuan Sedunia
8 Maret 2018 diperingati sebagai Hari Perempuan Sedunia, dengan latar belakang sejarah yang begitu panjang. Pada tanggal 8 Maret 1857 buruh perempuan dari pabrik tekstil melakukan perlawanan di New York menuntut penghapusan penindasan dan eksploitasi terhadap buruh perempuan. Dalam demo tersebut berujung pembubaran paksa oleh polisi dengan kekerasan dan tindakan represif aparat. Walaupun ada beberapa pihak yang menyangsikan kejadian tersebut, namun seiring berjalannya waktu terjadi peristiwa-peristiwa penting yang dilakukan oleh kaum perempuan yang menguatkan dunia untuk menetapkan tanggal 8 Maret sebagai Hari Perempuan Sedunia.

Partai Sayap Kiri tidak terlepas dari upaya-upaya menetapkan 8 Maret sebagai Hari Perempuan Sedunia. Hal tersebut dapat dimaklumi jika kita melihat sejarah-sejarah yang terjadi sebelumnya. Perjuangan perempuan dalam memperoleh hak dan tidak selalu menjadi objek eksploitasi terkenal memang mendapat dukungan dari partai-partai sayap kiri. Memang, dalam prakteknya perempuan diperbolehkan untuk bekerja, namun pada waktu itu perempuan mendapatkan perlakuan yang ekspolitatif. Hal inilah yang mendorong para perempuan untuk melakukan perlawanan untuk menghapuskan penindasan terutama penindasan terhadap perempuan. Dunia pada kemudian hari mengakui peran perempuan dan berusaha untuk menciptakan kesetaraan hak terhadap perempuan.

Perjuangan Perempuan tak selalu dilihat dari sejarah pergerakan buruh, banyak pula perjuangan perempuan dalam aspek lain. Di Indonesia contohnya, R.A. Kartini, seorang perempuan bangsawan melakukan kritik terhadap Pemerintah Kolonial Belanda kala itu yang tidak memberikan kesempatan kepada perempuan untuk mengenyam pendidikan. Adapula perjuangan perempuan barat yang menolak kekerasan seksual dan industri pornografi pada tahun 1960-an. Perempuan kerap menjadi objek penindasan baik secara psikologis dan seksual, sehingga pada tahun-tahun tersebut muncul gerakan perlawanan.

Feminisme

Feminisme dalam arti filsafat adalah konsep berpikir yang memandang bahwa perempuan memiliki kesetaraan hak dan kewajiban. Lebih dalam lagi, feminisme melihat Patriarki dalam masyarakat melahirkan ketidakadilan terhadap perempuan, oleh karena itu Feminisme melakukan kritik dan pembaharuan terhadap konsep-konsep patriarki masyarakat. Feminisme menjadi penting jika menjadi kritik atas cara pandang masyarakat tradisional yang menempatkan laki-laki diatas segalanya. Bahkan pula cara pandang masyarakat primitif yang mengidentikan Tuhan dengan laki-laki, hal inilah yang seakan-akan melegitimasi laki-laki untuk melakukan penindasan terhadap perempuan. Dalam menghadapi cara pandang pandang masyarakat primitif inilah feminisme menjadi penting. Selebihnya feminisme menjadi cara berpikir yang relevan untuk melahirkan kritik terhadap penindasan gender dalam kehidupan masyarakat.

[2]. Feminisme
Feminisme melahirkan kritik baik dalam segi ekonomi, politik, sosial, gender, dan lainnya. Dalam segi ekonomi, bahkan sampai sekarang pun masih terjadi ketidakadilan terhadap perempuan. Perempuan mengalami dikriminasi ekonomi terkait pengupahan dan fasilitas ekonomi lainnya. Di bidang politik lebih kejam lagi, konsep patriarki yang berlebihan menempatkan perempuan untuk tidak mendapatkan hak-hak politik. Diskriminasi terhadap perempuan di bidang politik menempatkan perempuan menjadi makhluk pasif dan tidak boleh melakukan peran apapun. Di bidang sosial, perempuan kerap menjadi warga masyarakat kelas dua. Hak-hak perempuan hanya diberikan di dapur dan ranjang, inilah yang masih menjadi permasalahan besar bahkan dilapisan masyarakat paling bawah. Kurangnya edukasi dan kondisi sosial yang konservatif ekstrim memperburuk kodisi ketidakadilan yang dialami oleh perempuan. Feminisme menjadi cara berpikir yang sangat penting untuk menghadapi kondisi seperti ini.

Emansipasi Perempuan

Berlanjut dari feminisme, emansipasi adalah usaha untuk mendapatkan hak-hak dan kesetaraan derajat. Bisa dipahami bahwa emansipasi perempuan adalah usaha pelaksanaan feminisme. Emansipasi Perempuan melahirkan perjuangan-perjuangan perempuan untuk melepaskan diri dari ketidakadilan dan menutut ‘pembebasan’. Kondisi diskriminasi dan eksploitasi terhadap perempuan melahirkan perlawanan demi perlawanan yang menuntut untuk diakui kesetaraan hak dan kewajibannya. Hal inilah yang diwujudkan dalam sejarah-sejarah perjuangan perempuan.

Dalam prakteknya, perjuangan perempuan ada yang berskala besar hingga mengerahkan kekuatan massa, ada juga yang berskala kecil dalam bentuk keseharian. Dua hal tersebut tidak ada yang lebih baik maupun yang lebih buruk, semuanya memiliki porsi dan konteksnya tersendiri. Yang jelas, gerakan-gerakan perubahan tersebut memperlihatkan bahwa peran perempuan sangatlah penting. Masyarakat tidak sepantasnya lagi menempatkan perempuan sebagai masyarakat kelas dua.

Masalah-Masalah

Kerap kali kita mendengarkan statemen bahwa laki-laki calon suami yang hebat adalah yang berduit sehingga perempuan yang hebat adalah perempuan yang mampu mendapatkan laki-laki yang berduit tersebut. Ini adalah pemahaman yang primitif, hal ini disebabkan karena pemahaman yang keliru tentang definisi perempuan dan feminisme. Kondisi masyarakat yang terjajah oleh materialisme pragmatis membuahkan cara pandang yang sering salah terhadap nilai-nilai terhadap perempuan. Cara pandang seperti ini harus mulai diubah bahkan perlu ditinggalkan. Budaya tersebut lahir dari kondisi patriarki yang menempatkan perempuan sebagai benda yang memiliki nilai tawar.

[4]. Pameran Pakaian Korban Pemerkosaan, Brussel, Belgia
Masalah-masalah kekerasan seksual juga masih menjadi ironi di zaman ini. Industri pornografi masih eksis menempatkan perempuan sebagai objek pelampiasan bahkan kekerasan. Konten pornografi yang komersil dan ditujukan kepada masyarakat umum menjadi sangat berbahaya terhadap perempuan. Terlebih kondisi masyarakat yang minim pengetahuan dan pemahaman terhadap perempuan dapat menjadi predator yang berbahaya bagi perempuan. Hal tersebut mendorong masyarakat khususnya laki-laki untuk melakukan tindakan kriminal terhadap seksualitas perempuan. Seringkali ditemukan kasus-kasus pemerkosaan dan kekerasan seksual yang dialami oleh perempuan, tanpa memandang usia dan strata sosial. Patriarki ekstrim juga memperburuk masalah ini. Perempuan sering disalahkan menjadi pengundang syahwat laki-laki melakukan tindakan kriminal. Pendapat bahwa perempuan jangan menggunakan pakaian seksi dikarenakan memancing laki-laki untuk melakukan pemerkosaan tidak selamanya benar dan menjadi pembenaran. Di salah satu pameran di Brussel, Belgia, menampilkan pakaian-pakaian korban pemerkosaan dan buktinya tidak hanya pakaian seksi, bahkan dengan seragam polisi pun wanita tetap menjadi korban pemerkosaan dan pelecehan seksual. Jika memahami apa yang ditampilkan dalam pameran tersebut, kita dapat menyipulkan dengan akal sehat bahwa perempuan kerap menjadi objek kekerasan dan sama sekali tidak menjadi sebab kekerasan tersebut. Kondisi patriarki masyarakatlah yang mencari pembenaran terhadap kriminalitas tersebut, perempuan yang disalahkan. Lagi-lagi, cara berpikir masyarakat yang primitif seperti ini masih saja dapat dengan mudah kita temukan. Kekerasan terhadap seksual terhadap perempuan tidak bergantung pada seberapa tertutup perempuan, namun bergantung seberapa tingkat kemesuman dan kebiadaban si pelaku.


[3]. Marsinah
Kekerasan kemanusiaan terhadap perempuan juga menjadi rapor merah bagi negara dan pemerintahan. Di Indonesia, pernah terjadi kekerasan terhadap seorang buruh pabrik yang bernama Marsinah. Marsinah adalah seorang buruh progresif yang melakukan gerakan penuntutan terhadap perusahaan dimana ia bekerja. Selang beberapa hari Marsinah ditemukan tak bernyawa dengan kondisi mayatnya yang mengenaskan. Keterlibatan aparat dalam kematian Marsinah menjadi rapor merah bagi Negara dalam hal melindungi kaum perempuan. Sampai sekarang seiring dengan tidak transparannya negara atas marsinah, semakin banyak kasus-kasus kekerasan terhadap pekerja perempuan terutama sekali terhadap buruh migran perempuan. Kasus kekerasan terhadap buruh migran perempuan seperti tidak ada habisnya, diharapkan negara dapat hadir dan menyelesaiakan persoalan tersebut.

Tingkat pernikahan usia dini dan kematian ibu bersalin juga belum ditanggapi secara menyeluruh baik dari pemerintah, masyarakat, dan perempuan itu sendiri. Kurangnya pendidikan dan perlindungan terhadap perempuan dan anak-anak menjadi akar masalahnya. Kondisi masyarkat yang tradisional sering menganggap tabu pendidikan seksual khususnya terhadap perempuan. Masyarakat menganggap pendidikan seksual terhadap perempun adalah hal yang memalukan dan tidak layak. Hal ini lagi-lagi disebabkan oleh Patriarki Eksrim dalam masyarakat, perempuan dikesampingkan.

-

Sudah waktunya kita merubah pemahaman lama yang menempatkan perempuan sebagai masyarakat kelas dua. Dalam momen Hari Perempuan Sedunia ini kita diingatkan untuk melakukan perubahan cara berpikir dan cara menyikapi perempuan dari budaya-budaya patriarki primitif yang masih saja kita temukan dalam segala aspek kehidupan sosial masyarakat kita. Negara, pihak yang paling bertanggungjawab terhadap kehidupan masyarakat khususnya perempuan harus hadir menyelesaiakan setiap masalahnya,, didukung oleh masyarakat yang juga diharuskan turut merubah cara pandangnya terhadap perempuan dari semula yang dianggap remeh dan dikesampingkan menjadi makhluk yang memiliki kesetaraan hak dan segala bentuk penerapan perlakuannya.

Selamat Hari Perempuan Sedunia!

Sumber gambar :






Big Thanks To Readers!
Vrandes - Langit Tjerah
Read more ...

Saturday, July 29, 2017

Pendidikan, Tahap Manusia Dalam Pembebasan

[1]. Pendidikan
“Nak, Sekolahlah kau ikuti gurumu, belajarlah untuk memperoleh hidup yang lebih layak daripada orang tuamu.”, ujar seorang ayah kepada anaknya yang masih belajar menghafal nama-nama hewan dalam bahasa Inggris. Tak terkecuali kita juga pasti sering mendengarkan ceramah yang membosankan tersebut dari mulut orang tua kita yang penuh kasih sayang. Pendidikan, mengapa dalam tulisan ini disebutkan sebagai tahap manusia dalam mencari kebebasan. Karena kita memahami pendidikan sebagai upaya pembebasan, dari kondisi awal kehidupan kita. Tulisan ini sebagai kritik terhadap pemahaman orang awam terhadap pendidikan, yang mana pada hakikatnya pendidikan sebagai upaya pembebasan daripada ketertindasan namun tak jarang pada prakteknya memang membebaskan dari ketertindasan tapi justru menciptakan penindasan baru. Padahal menurut pandangan pribadi penulis, Pendidikan adalah sebuah upaya memahami dirinya sendiri dan seluruh bentuk kehidupan yang menunjang keberlangsungan hidupnya. Dalam memahami dirinya sendiri, tersirat makna pembebasan. Bahwa sejatinya setiap sisi kehidupan duniawi seorang manusia adalah sebuah penjara, yang mana manusia tersebut dapat lepas dari penjaranya jika berhasil memahami dirinya sendiri, penjaranya, dan upaya keluar dari penjaranya, sehingga mampu melepaskan diri dari kungkungannya. Dalam hal ini, pendidikan menjadi peran penting sebagai upaya memahami dan kemudian melepaskan diri seorang manusia tersebut.

Nilai pendidikan tersebut kemudian disubtitusikan ke sebuah sarana, sehingga memunculkan berbagai sarana untuk memperoleh pendidikan berupa sekolah, madrasah, kursus, dan lainnya. Tujuannya adalah sebagai sarana yang membantu mengembangkan kemampuan seorang manusia untuk memahami dirinya dan seluruh kehidupan, sehingga manusia tersebut dapat terbebas. Namun, seiring perkembangan kasus justru nilai pendidikan sebagai pembebasan dari ketertindasan justru memunculkan penindasan gaya baru. Memang, pendidikan yang diadakan dalam sarana-sarana itu membebaskan manusia dari penindasan, tapi justru sering sekali menjadikan manusia yang telah bebas dari penindasan tersebut malah menjadi penindas yang baru. Katakanlah seorang petugas cleaning service yang ditindas oleh mandornya, masuk ke universitas dan mengikuti segala apa yang disajikan dalam kelasnya. Ternyata, mandornya dulu juga belajar di universitas tersebut, dengan gaya pendidikan yang sama. Setelah petugas cleaning service itu lulus dan menjadi mandor, dia menjadi penindas seperti halnya mandornya dulu. Kita memahami pola konsep kejiwaan Penindas-Tertindas, yang mana dalam praktek kesehariannya proses penindasan itu berpola ‘balas-membalas’ antara Penindas dan yang Tertindas. Ketika Si Penindas lengah, akan ditindas oleh orang yang ditindasnya dulu begitu juga sebaliknya nanti. Konsep Penindas-Tertindas tersebut pernah dibahas secara detail oleh Paulo Freire, seorang tokoh pendidikan dari Brazil. Contoh kasus tersebut mungkin memang mengada-ada, namun secara kontekstual dapat menggambarkan bagaimana peran pendidikan yang menciptakan penindasan ‘gaya baru’. Padahal idealnya, pendidikan justru membebaskan manusia dari konsep Penindas-Tertindas tersebut, bukan hanya sekedar membalikkan keadaan. Kondisi ini yang menjadi latar belakang seorang ayah memberikan nasehat kepada anaknya seperti ilustrasi di awal. Bahwa seorang ayah tersebut korban penindasan kehidupan, sehingga kepada anaknya dia memberikan nasehat supaya tak seperti kehidupan orang tuanya. Permasalahannya adalah ketika suatu saat nanti anaknya terbebas dari ketertindasan, dia akan benar-benar terbebas dari konsep Penindas-Tertindas atau justru hanya berhasil mengubah keadaan?. Disitulah peranan pendidikan, jika pendidikan yang diberikan adalah konsep pendidikan yang dapat membebaskannya dari konsep Penindas-Tertindas maka bebaslah dia, tapi jika konsep pendidikan yang diberikan adalah konsep pendidikan pemutar keadaan, jadilah dia mesin penindas yang baru bagi kehidupan diluarnya.

[2]. Paulo Freire
Dalam hal ini, sekolah menjadi penanggung jawab atas konsep pendidikan tersebut. Apakah sekolah akan menjadi sarana alat pembebas, atau sarana alat pencetak. Freire menjelaskan perbedaan antara pendidikan ‘gaya bank’ dan pendidikan ‘hadap-masalah’ dalam buku Pedagogy of Oppressed. Pendidikan gaya bank yang dimaksud adalah pendidikan yang menempatkan guru sebagai pengkhotbah, pendongeng, dan pencerita. “Ciri yang sangat menonjol dari pendidikan bercerita ini, karena itu, adalah kemerduan kata-kata, bukan kekuatan pengubahnya. “Empat kali empat sama dengan enam belas, ibu kota Para adalah Belem”. Murid-murid mencatat, menghafal dan mengulangi ungkapan-ungkapan tersebut tanpa memahami apa arti sesungguhnya dari empat kali empat, atau tanpa menyadari makna sesungguhnya dari kata “ibu kota” dalam ungkapan “ibu kota Para adalah Belem”, yakni, apa arti Belem bagi Para dan apa arti Para bagi Brasil.”[1]. Berbeda dengan konsep pendidikan Hadap-Masalah yang menekankan dialog antara guru dan murid. Dalam konsep pendidikan Hadap-Masalah posisi guru bukan semata-mata menjadi pengajar dan murid sebagai yang diajar. Guru dan murid sama-sama berproses dalam pendidikan, guru dan murid sama-sama menjadi subjek dan sama-sama menjadi objek. Guru dan murid bersama-sama membahas persoalan dunia, pengetahuan, situasi, dan masalah dengan refleksi, dialog, dan observasi. Tujuannya adalah membawa perubahan, untuk menjadi pembebas dari segala bentuk ketertindasan. Tentu sangat nampak perbedaan pendidikan gaya bank dan pendidikan hadap-masalah tersebut. Pendidikan gaya bank hanya menciptakan budaya kepatuhan terhadap sistem penindasan yang tak berdasar. “Kemampuan pendidikan gaya bank untuk mengurangi atau menghapuskan daya kreasi para murid, serta menumbuhkan sikap mudah percaya, menguntungkan kepentingan kaum penindas yang tidak berkepentingan dengan dunia yang terkuak atau yang berubah.”[2].

[3]. Pendidikan Hadap-Masalah
Dengan mengetahui perbedaan konsep pendidikan gaya bank dan konsep pendidikan hadap-masalah, kita dapat mengetahui pula akar masalah pendidikan di Indonesia yang setiap tahunnya tidak terlihat perubahan ke arah yang lebih baik secara signifikan. Kita hanya dihadapkan pada pendidikan yang berisi pembodohan, yang menciptakan kesuksesan semu yang dibaliknya bermakna penindasan. Sehingga kita dapat melihat bahwa naifnya pendidikan di Indonesia kental sekali dengan konsep pendidikan gaya bank yang dimaksud. Sejak dari SD kita dikenalkan dengan ìlmu bahasa namun tak pernah mengerti apa itu bahasa dan apa fungsinya bahasa dalam kehidupan. Ditambah lagi sistem pendidikan Indonesia yang sangat menekankan muridnya untuk berorientasi pada nilai angka kriteria keberhasilan. Dengan sistem tersebut maka tidak heran jika murid yang tak mampu mengejar nilai angka akan menjadikan contek-mencontek sebagai solusinya. Jangan salahkan murid jika contek-mencontek menjadi ‘pelengkap’dalam kegiatan pendidikan di sekolah walau tak bisa dibenarkan juga, sebab kenyataannya ada yang salah dengan sistem pendidikan kita. Ditunjang dengan adanya guru yang anti-kritik, yang menganggap kritik sebagai bentuk pembangkangan seorang murid. Kritik adalah refleksi bagi guru sebagai pelayan, sehingga kritik harus dijadikan pembelajaran bagi guru. Ironisnya, kebanyakan guru di Indonesia masih anti terhadap kritik sehingga guru tersebut hanya menjadi pengajar, tak mau belajar. Kita menyadari bahwa budaya pendidikan kita yang bobrok telah ditularkan dari jaman antah-berantah hingga masa kini. Seorang calon guru, dididik di Universitas tempat ia belajar dengan konsep pendidikan gaya bank. Nanti, setelah ia lulus dan menjadi guru, ia lanjutkan pendidikan gaya bank yang telah diterimanya sewaktu di Universitasnya. Walhasil, murid-murid yang diampunya ikut mengikuti sistem pembodohan tersebut. Apalagi, jika kita dihadapkan juga bahwa orientasi pendidikan kita hanya menciptakan lulusan yang mengejar kemapanan, tak heran menjadi Pegawai Negeri, Tentara, Polisi, Guru, karyawan dan lainnya hanya untuk sekedar mengejar karir. Dunia Universitas dipenuhi dengan kepala-kepala orang yang bermuatan pandangan hidup nyaman dan penuh puja-puji berhala masa depan.

Inilah realita yang kita hadapi dalam sistem pendidikan di Indonesia, pendidikan yang tak mampu membebaskan manusia dari konsep Penindas-Tertindas, namun hanya mampu membalikan keadaan ketertindasan. Sehingga nasehat seorang ayah kepada anaknya tentang pendidikan selalu bernada membosankan, isinya melulu tentang hidup yang lebih enak, hidup yang lebih nyaman, bahkan lebih ekstrim lagi hidup yang berfinansial melimpah. Sekolah dijadikan modal untuk pemulus karir dan sebagai ritus pemujaan berhala masa depan. Sehingga, tidak jarang ditemukan kasus tentang stigma “Kalau tak sekolah, masa depanmu suram, kau tak berilmu.” Tapi apakah demikian? Bagi orang yang betul-betul memahami tentang makna pendidikan, mereka menyadari bahwa pendidikan tak pernah membutuhkan sekolah, sekolahlah yang membutuhkan pendidikan. Apalagi perguruan tinggi, budaya pembodohan juga telah lama menjangkiti perguruan tinggi. “Perguruan tinggi adalah hal konyol. Perguruan tinggi itu seperti rumah-rumah lawas, kecuali fakta bahwa lebih banyak orang yang mati di perguruan tinggi daripada di rumah-rumah tua mereka, maka benar-benar tidak ada bedanya.”[3].

Dengan sistem pendidikan yang masih belum berubah ini, hal yang kita khawatirkan sudah benar-benar terjadi. Yaitu, sekolah rawan bisnis komersial, pendidikan ditentukan dengan jalur mana ia masuk sehingga menentukan jalur mana ia keluar. Tentu dengan uang yang dicampur dengan kesungguh-sungguhan semu. Bukan dengan idealisme akan pembebasan, dan proses bagaimana lepas dari keterikatan konsep Penindas-Tertindas. Tak heran jika Bob Dylan menuliskan “Sepertinya sekolah benar-benar tidak terlalu banyak memberikan pelajaran”. Pendidikan di Indonesia sudah terjangkiti penyakit parah mulai dari sistem hingga pelakunya, entah guru, penyedia layanan, bahkan muridnya. Dari sistemnya, kita jelas masih berkutat dalam sistem gaya bank. Sistem pendidikan yang seperti ini mirip pelatih hewan yang sedang mengajari seekor monyet untuk menari dan menghibur penonton sirkus. Pendidikan yang mampu membebaskan tak bisa seperti itu, pendidikan manusia ya yang harus mengartikan pelakunya sebagai manusia. “Pertanyaan klasik adalah: “Bagaimana pendidikan seharusnya dijalankan?”  Jika Jean Jacques Rousseau mengatakan bahwa panggilan pendidikan tertinggi adalah menjadikan manusia sebagai manusia, maka pendidikan seharusnya dijalankan dengan memanusiakan manusia.  Tidaklah benar jika pendidikan dikerjakan dengan mendidik manusia menurut cara orang mendidik binatang.”[4]. Pendidikan yang telah terkontaminasi bisnis komersial akan melahirkan budaya komersialisme. Lulusan sekolah akan selau disibukkan dengan bagaimana cara mendapatkan kehidupan dari segi finansial. Padahal, pendidikan tak bermakna sesempit itu. “Bahwa menurut Dewey, tujuan pendidikan bukanlah menghasilkan barang-barang bagus yang bisa dijual dan menambah kas negara, melainkan menghasilkan manusia-manusia bebas (produces free men) yang mampu berhubungan satu sama lain dalam situasi yang setara (equal relation).”[5].

[4]. Pendidikan Non Komersial
Namun, bagaimanapun juga pasti tetap ada beberapa orang tergerak dan menyadari keganjilan-keganjilan sistem walau ia sendiri tak mengetahuinya. Dengan tergeraknya manusia tentang keadaan pendidikan inilah muncul  secercah harapan tentang pelurusan makna pendidikan itu sendiri. Tentunya dengan lahirnya kritik-kritik dan aksi lain yang bertujuan meluruskan makna pendidikan dan mengaplikasikan nilai-nilai pendidikan yang bermakna pembebasan tersebut. Walaupun tidak harus melalui meja sekolahan, sebab masih banyak juga orang yang tak pernah merasakan nyamannya meja sekolahan. Disinilah harapan itu muncul, justru gerakan pemulihan ini dimulai dari orang yang belum pernah tersentuh oleh sistem pembodohan meja sekolahan. Atau dari orang-orang yang pernah merasakan pembodohan terstruktur dari sistem pembodohan yang amburadul, namun segera tersadarkan dan membuat gebrakan yang radikal dan revolusioner. Solusinya, mereka yang peduli tentang pelurusan ini, harus beraksi melalui kursus-kursus gratis kepada orang-orang yang belum atau bahkan sudah tercemar pembodohan terstruktur yang mengatasnamakan pendidikan. Dalam upaya ini, lebih diutamakan pendidikan dua arah atau yang disebut oleh Freire sebagai pendidikan Hadap-Masalah, berupa refleksi, dialog dan observasi. Dengan begitu, maka harapan akan pendidikan sebagai tahap manusia dalam mencari kebebasan dapat terwujud.

[5]. Nelson Mandela - Quotes

Sumber :
[1]. Paulo Freire, Pendidikan Kaum Tertindas, terj. Tim Redaksi Asosiasi Pemandu Latihan (Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia, 2008), hal. 52.

[2]. Ibid., hal. 55.

[3]. John Lennon, dkk., Rebel Notes, terj. Adhe Ma’ruf (Yogyakarta: Katalika, 2017), Cet. Pertama, hal. 26.

[4]. Ferry Yang, Kritik Terhadap Pendidikan Indonesia : Pendidikan Manusia, http://www.kompasiana.com/motyang/kritik-terhadap-pendidikan-indonesia-pendidikan-manusia_5869acaff87e61632e984a70

[5]. Reza A.A Watimena, Demokrasi dan Pendidikan Menurut Noam Chomsky, https://rumahfilsafat.com/2012/03/23/demokrasi-dan-pendidikan-menurut-noam-chomsky/


Sumber Gambar :









Written by : Vrandes. S. Cantona - Langit Tjerah

Big Thanks To Readers!
Read more ...

Wednesday, May 31, 2017

Mata Hari, Kisah Penari Erotis dan Spionase


Mata Hari, Kisah Penari Erotis dan Spionase

Sebetulnya ini adalah tulisan lama, ditulis pada peringatan Hari Perempuan Sedunia. Namun, dikarenakan Blog ini masih baru dibuat alias masih kinyis-kinyis maka baru diposting sekarang. Tapi tak jadi masalah, berbagi ilmu bisa kapan saja. Atau ada kata mutiara yang berbunyi "Lebih baik telat, daripada tidak sama sekali." (red. mau nyari alasan).

Mereka mengatakan wanita adalah makhluk yang lemah, tanpa mereka sadari kekuatan mereka tak berlaku diatas ranjang.

Mata Hari
Setiap tanggal 8 Maret, dunia memperingati Hari Perempuan Internasional. Peringatan tersebut sebagai bentuk apresiasi terhadap kaum perempuan. Banyak tulisan tentang perempuan menghiasi beranda jejaring sosial media. Sejarah  demi sejarah menuliskan tentang peran perempuan didalamnya, perjuangan dan harga diri menjadi nyawa dalam peranannya. Di masyarakat Yunani Kuno, perempuan mogok berhubungan seks dengan pasangannya untuk menuntut diberhentikannya peperangan. Atau di Rusia pada 8 Maret 1917 untuk pertama kalinya perempuan mendapakan hak untuk memberikan suara di pemilu. Hingga peran perempuan Marsinah di Indonesia sebagai ikon keadilan pada era Orde Baru. Hal tersebut menjadi bukti nyata perjuangan perempuan yang tak bisa kita lupakan begitu saja.

Kita akan membahas tentang peran perempuan dari sisi yang tak biasa, penuh hal yang tabu namun patut untuk diperbincangkan. Mengenai kisah hidup seorang penari orientalis pada masa-masa Perang Dunia I. Dia adalah Margarethe Gertruide Zelle atau yang kita ketahui sebagai Mata Hari, seorang penari dan spion politik untuk pemerintah Jerman dan Perancis. Margarethe Gertruide Zelle lahir di Leeuwarden, Belanda pada tanggal 7 Agustus 1876. Kehidupan masa kecil Margarethe yang penuh liku-liku secara langsung membentuk kepribadian Margarethe dewasa. Ketika berusia 19 Tahun, dia dinikahi seorangperwira tinggi militer Belanda yang bertugas di Indonesia yang bernama Rudolph McCleod. Kala itu usia Rudolph adalah 39 tahun. Setelah menikah mereka tinggal di Semarang, hingga tak lama setelah itu suaminya harus berdinas di Malang, dari situ Margarethe banyak bermain ke Candi Jago dan Candi Singosari hingga mengenalkannya pada Tari Srimpi yang biasa dimainkan para gadis-gadis jawa di pelataran candi tersebut. Setelah itu mereka harus berpindah ke Sumatera, dan akhirnya harus kembali ke Belanda di Tahun 1902. Hubungan Margarethe dan Rudolph berakhir dengan perpisahan, hingga Margarethe pergi ke Perancis untuk belajar balet. Timbul keinginan Margarethe untuk menjadi “Penari Malam” yang beraliran Orientalis dengan memadukan budaya Timur dan Barat. Dalam waktu yang tak lama, Margarethe mampu melambungkan namanya bahkan sampai Elitis-elitis Paris kagum dengannya. Ketika ia menjadi sorotan dunia kala itu, dia merubah nama menjadi Mata Hari dan mengaku lahir di kota Jaffnapattam, India.

Setelah ketenarannya itu, orang yang pertama kali tergila-gila kepada Mata Hari adalah Emile Guimet. Dia adalah pengusaha dari kota Lyon, Perancis di bidang industry sabun cuci. Dari Guimet, Mata Hari mengenalkan diri ke Elitis Paris dengan pertunjukannya di Museum Orientalis milik Guimet. Keinginan Mata Hari untuk menjadi pacar seorang jutawan tercapai seketika.

Hingga Mata Hari berganti pacar lagi dengan seorang pengacara bernama Edouard Clunet. Dari Clunet dia berkenalan juga dengan Gabriel Astruc, seorang agen teater kawakan yang menjadi jalan untuk Mata Hari untuk tampil di Madrid, Berlin, Wina, oleh bantuan bangsawan setempat.

Quote
Situasi dunia khususnya Eropa mencapai ketegangan akan ancaman perang. Hingga Agustus 1914 perang secara resmi diumumkan. Hal itu membuat Mata Hari harus mengungsi, namun yang menjadi pertanyaan adalah posisi Mata Hari yang hanya menjadi penari namun bisa aman melintas berlin dan menjalin asmara dengan komandan polisi setempat bernama Griebel. Hingga pada masa masa demonstrasi didepan kekaisaran dan Mata Hari pun menjadi sasaran aksi anti orang asing dan memaksanya meninggalkan Berlin. Mata Hari tiba di Amsterdam pada 16 Agustus 1914 dan tinggal disana. Pada 14 Desember 1914 dia tampil di Den Haag dan berhasil menjalin asmara dengan Baron Edouard van Capellen, seorang pimpinan kavaleri yang berusia 52 tahun. Mata Hari dibuatkan rumah yang indah oleh Baron di Den Haag, namun Mata Hari menjadi terkekang dengan semua itu. Apalagi Baron menganggapnya tak lebih dari wanita prostitusi. Di malam Mei  1916, Mata Hari ditemui oleh Karl Kramer dan ditawari 20.000 Franc untuk menyenangkan bangsa Jerman. Dan itulah awal mula Mata Hari menjadi agen “Spionase Diatas Ranjang”, untuk dikirimkan ke Paris untuk mencari berita-berita penting. Dengan sandi H21 sebagai tanda tangan berita yang dikirim oleh Mata Hari untuk dikirimkan ke hotel de I’Europe di Amsterdam. Pada awal misi Margarethe tidak tahu tentang apa yang harus dilakukannya sebagai mata-mata. Namun, semua rahasia dari politik hingga strategi militer para Elitis dan Intelek tercurahkan kepada Mata Hari ketika diatas ranjang, semua bertekuk lutut di depan Dewa Amor. Singkat cerita ketika Mata Hari menjalin cinta dengan Vadime De Masloff, ketika Vadime terkena granat beracun dan dirawat di rumah sakit. Untuk masuk ke rumah sakit diperlukan perizinan dari kementrian perang. Di situ Mata Hari bertemu dengan Ladoux yang mana dia adalah ketua Spion Perancis. Margarethe ditawari bekerja untuk Ladoux, dan Margarethe meminta upah satu juta franc. Ladoux mempertimbangkan dengan upah satu juta Franc bisa untuk menggaji 12 mata-mata ulung. Dari hal itu diketahui oleh Ladoux bahwa Mata Hari adalah orang dekat Kramer, orang penting di Jerman. Dan Ladoux menggagalkan untuk memperkerjakan Mata Hari.

Akhirnya, Mata Hari ditangkap oleh polisi di kamar hotel tempat Mata Hari menginap. Margarethe resmi menjadi tahanan dibawah pengawasan Pierre Bouchardon. Hingga hidup mati Mata Hari ditentukan pada pengadilan tertutup pada tanggal 25 Juli 1917. Margarethe terbukti bersalah, dia terbukti sebagai mata-mata Jerman untuk Perancis. Dan malaikat maut menjemputnya pada eksekusi mati di tanggal 15 Oktober 1917. Beberapa media internasional mewartakan kematiaannya seperti New York Times dan Daily Express. Margarethe alias Mata Hari, sang penari erotis sekaligus Spy tersebut mati meninggalkan bukti kehebatan seorang perempuan.

Berita Eksekusi Penembakan
Dengan kisah hidup Mata Hari dari awal mula hingga akhir hayatnya kita dapat menilai bahwa kekuatan perempuan tak dapat diremehkan. Wanita dinilai lemah dan menjadi “Objek Jajahan” pria, namun semua akan berubah terbalik ketika wanita menggunakan sisi sensitivitasnya sebagai senjata. Dalam hal ini erotisme berperan penting dalam upaya menaklukan kaum adam. Terbukti dalam kisah hidup Mata Hari, sehebat apapun intelek pria, sehebat apapun elit politik akan jatuh di pangkuan wanita.

Seperti syair lagu Sabda Alam oleh Ismail Marzuki bahwa ,

Diciptakan alam pria dan wanita
Dua makhluk jaya asuhan dewata
Ditakdirkan bahwa pria berkuasa
Adapun wanita lemah lembut manja

Wanita dijajah pria sejak dulu
Dijadikan perhiasan sangkar madu
Namun ada kala pria tak berdaya
Tekuk lutut disudut kerling wanita

Ada kala pria tak berdaya dan tekuk lutut di sudut kerling wanita, hal tersebut sangat benar. Pria hebat karena ada wanita kuat dibelakangnya.

Diperingatinya Hari Perempuan adalah untuk kita menyadari bahwa perempuan tak bisa diremehkan kekuatannya. Kehebatan seorang pemimpin Negara pun pasti ada rahasia yang dipegang oleh perempuan-perempuan dibelakangnya. Oleh karena itu, wajar bila di Hari Perempuan ini banyak tuntutan kaum wanita untuk keseteraaan gender. Mereka menuntut agar hak-haknya dilindungi oleh kepastian hukum.

Hal tersebut sebagai rapor merah bagi pemerintah bahwa selama ini abai terhadap suara perempuan. Padahal perempuan adalah makhluk yang kita pun menyadari kekuatannya tak dapat disepelekan. Bisa saja perempuan-perempuan Indonesia melakukan mogok hubungan seks seperti yang terjadi di Yunani Kuno atas dasar protes mereka. Atau mungkin bisa saja perempuan seantero negeri mogok masak atas dasar protes hak-haknya yang disepelekan. Kita tak menakar seberapa besar dampak merampas hak-hak wanita, atau yang paling sederhana adalah kita menganggap wanita adalah makhluk cengeng dan naïf. Lebih dari yang kita bayangkan bahwa kekuatan wanita tak hanya sekedar menghancurkan gunung atau mematahkan bilah besi, wanita mampu mengubah peradaban. Menuntut kesetaraan gender bagi perempuan dalam arti yang sempit seperti halnya menuntut perempuan supaya mendapat pekerjaan sebagai sopir bus adalah tuntutan yang kurang tajam. Tak melulu masalah hak perempuan adalah kesetaraan dalam bidang karir. Yang sebenarnya terjadi adalah kekurangan keserasian dan keseimbangan antara Laki-laki dan Perempuan. Leluhur Nusantara dulu mengerti betul bagaimana mencapai keserasian antara laki-laki dan perempuan sehingga diinterprestasikan dalam konsep Lingga dan Yoni yang ada di Candi-candi peninggalan leluhur. Mengajarkan untuk selalu menekankan keserasian peranan kaum adam dan hawa. Dalam mencapai kesadaran utuh atas keberlangsungan hidup yang serasi dalam harmoni, dibutuhkan adanya saling mengerti batas-batas keduanya dalam hal hak dan kewajiban. Lingga atau yang melambangkan syahwat laki-laki sebagai elemen api, dan Yoni sebagai sensitivitas perempuan lambang elemen tanah. Keduanya saling bertolak belakang namun jika dipersatukan dengan perdamaian, cinta dan kasih sayang akan menjadikan sebuah harmoni dalam sebuah paradoks.

Contoh Lingga-Yoni
Sebagai penutup, kita perlu mengubah cara pandang kita terhadap perempuan dari semula makhluk yang lemah dan naïf, ternyata wanita mampu mengubah jalan dari sebuah peradaban. Dalam menghadapi dinamika jaman yang semakin tidak menentu ini, diperlukan cara pandang yang lebih sehat terhadap perempuan. Konsep yang dajarkan oleh Nenek Moyang sudah menjelaskan bahwa hidup harus dengan keselarasan dan keserasian termasuk dalam memandang gender. Dengan pemahaman seperti itu, diharapkan perampasan hak-hak perempuan dapat ditekan dari kalangan masyarakatnya sendiri.


Sumber :

Big Thanks to Readers!
Written by : Vrandes Setiawan Cantona - Langit Tjerah
Read more ...
Designed By Langit Tjerah