Langit Tjerah menerima donasi buku bekas, buku baru, maupun alat pendidikan yang lainnya untuk kami salurkan kepada Komunitas Pendidikan maupun Taman Baca yang membutuhkan, silahkan hubungi contact person. Terima Kasih.
Showing posts with label Kelestarian Alam. Show all posts
Showing posts with label Kelestarian Alam. Show all posts

Saturday, March 3, 2018

Grebeg K3, Aksi Nyata Untuk Lingkungan


Peran kita bersama untuk kelestarian lingkungan

Sabtu, 3 Maret 2018 sebuah acara tentang kepedulian terhadap lingkungan dilaksanakan disekitar Alun-alun Bekasi. Acara tersebut bernama Grebeg K3, atau lebih lengkapnya Grebeg Kebersihan, Ketertiban, dan Keindahan Lingkungan. Seperti pada umumnya Grebeg adalah upaca berkala yang diperingati oleh beberapa masyarakat bertepatan dengan peringatan hari-hari tertentu. Biasanya Grebeg dilaksanakan untuk memperingati Maulid Nabi, menyambut Ramadhan, memperingati hari kemerdekaan, dan lainnya. Namun pada Grebeg kali ini, sedikit berbeda dengan grebeg-grebeg pada umumnya yang identik dengan hari-hari keagamaan dan terkesan seremonial. Grebeg K3 adalah Grebeg yang dilaksanakan untuk mewujudkan Kebersihan, Ketertiban, dan Keindahan Lingkungan, sejumlah masyarakat bersama-sama membersihkan lingkungan hidupnya. Acara ini diselenggarakan untuk memperingati Hari Sampah Nasional yang jatuh pada hari Rabu, 21 Februari 2018 dan juga bertepatan dengan Penilaian dan Pemantauan Adipura Kota Bekasi. Walaupun acara ini dilakukan setelahnya, namun tidak mengurangi esensi dan tetap memberikan manfaat yang luar biasa pada lingkungan.

21 Februari ditetapkan sebagai Hari Peduli Sampah Nasional bukan tidak memiliki arti, sebab penetapan tanggal tersebut memiliki sejarah yang tidak dapat kita lupakan begitu saja. Peristiwa kelam yang terjadi pada 21 Februari 2005 di Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat, yang merenggut nyawa lebih dari 100 jiwa menjadi raport merah bagi kita. Kejadian itu dikarenakan tumpukan sampah yang terkena curah hujan yang tinggi meledak dan longsorannya menimbun setidaknya 2 desa. Hal inilah yang menjadi dasar ditetapkannya Hari Sampah Nasional setiap 21 Februari.

[1]. Peristiwa Longsor Sampah Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat 21 Februari 2018
Dalam Grebeg K3 Memperingati Hari Sampah Nasional dan Penilaian Adipura ini, Dinas Lingkungan Hidup UPTD Taman Hutan Kota Bekasi mengadakan kegiatan bersih Taman dan Lingkungan sekitarnya dengan melibatkan Karang Taruna, PKL, Pengelola Parkir, dan beberapa Komunitas Sosial. Acara tersebut berupa pemungutan sampah, pembersihan area umum, penataan fasilitas umum, dan revitalisasi sarana kebersihan seperti tong sampah dan perangkat lainnya. Komunitas Sosial yang ikut berkontribusi dalam acara tersebut seperti Komunitas ARC (Anak Rantau Cilacap), Komunitas Langit Tjerah, Karang Taruna Margajaya, dan lain-lain.

Sebelum hari pelaksanaan, Surat Pemberitahuan diedarkan pada 27 Februari 2018. Surat tersebut sampai kepada Langit Tjerah, mengajak untuk ikut berkontribusi terhadap kegiatan tersebut. Tanpa penjelasan yang panjang lebar, kami langsung menanggapi pemberitahuan tersebut dan memberikan jawaban bahwa Langit Tjerah siap berpartisipasi, sebelumnya memang Langit Tjerah mempunyai rencana yang hampir sama untuk memperingati Hari Sampah Nasional tersebut.

[2]. Surat Pemberitahuan Grebeg K3
Kegiatan Grebeg K3 dimulai pada pukul 07.00 WIB, diawali dengan briefing dan doa bersama untuk kelancaran kegiatan. Dengan mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) dan alat-alat kebersihan, peserta melakukan bakti lingkungan seperti memungut sampah, pembersihan area dagang, merapikan sarana umum, dan lain-lain. Walaupun kegiatan tersebut cukup menguras tenaga terlebih cuaca yang panas oleh terik matahari tidak mengendorkan semangat para peserta untuk membersihkan lingkungan.

[3]. Briefing Aksi Lingkungan

[4]. Aksi Lingkungan 1

[5]. Aksi Lingkungan 2

[6]. Aksi Lingkungan 3

[7]. Aksi Lingkungan 4

[8]. Aksi Lingkungan 5
Kegiatan tersebut diakhiri pada pukul 12.00 WIB, peserta membubarkan diri dengan teratur. Setelah diadakan Grebeg K3 tersebut lingkungan Taman Alun-Alun Bekasi menjadi bersih, rapi, dan indah, tentunya kegiatan ini memberikan dampak yang sangat baik bagi lingkungan sekitar.

Disamping kegiatan ini bertujuan untuk memperingati Hari Sampah Nasional dan Penilaian Adipura, yang tidak kalah pentingnya adalah tujuan untuk menumbuhkan kesadaran sesama mengenai kepedulian terhadap lingkungan hidup. Hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa sekarang ini sangat minim kepedulian masyarakat tentang lingkungan hidup, terkesan bahwa manusia hanya "sekedar numpang hidup" di planet bumi ini sehingga seenaknya membuat kerusakan dan berikap apatis terhadap keselamatan lingkungan.

Dalam hal ini, sampah yang menjadi perhatian utama. Menurut Riset Greeneration, organisasi nonpemerintah yang telah 10 tahun mengikuti isu sampah, satu orang di Indonesia rata-rata menghasilkan 700 kantong plastik per tahun [1]. Inilah yang menjadi keprihatinan bersama, satu manusia di Indonesia memproduksi 700 sampah plastik belum lagi yang dibuang secara sembarangan. Sampah yang berserakan dan tidak dikelola dengan baik akan menimbukan kerugian yang luar biasa. Malapetaka di Leuwigajah adalah contoh nyata dari akibat meningkatnya sampah dan pengelolaan sampah yang tidak baik. Dari pihak masyarakat, kurangnya kesadaran akan sampah menjadi akar masalah tentang persoalan sampah ini. Masyarakat kita kebanyakan menganggap pengelolaan sampah cukup dengan menjauhkan sampah itu dari dirinya, alhasil dibuang sembarangan tanpa pengelolaan yang baik. Dari pihak pemerintah, perlu adanya perbaikan prosedur tentang TPS dan TPA mengingat semakin hari sampah semakin menumpuk dan belum teratasi dengan maksimal. Juga konsistensi mengenai regulasi pengelolaan sampah dalam UU no. 18 Tahun 2008 pasal 11 ayat (1) huruf a yang menjelaskan bahwa, "Setiap orang berhak mendapatkan pelayanan dalam pengelolaan sampah secara baik dan berwawasan lingkungan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau pihak lain yang diberi tanggung jawab untuk itu." [2]. Dengan kesadaran dan peran semua pihak, diharapkan sampah dapat diatasi dengan baik dan tidak menimbulkan bahaya bagi kehidupan.

[9]. Sampah Tidak Dikelola dengan Baik
Sudah sepantasnya manusia hidup di muka bumi untuk menjadi manfaat bagi kehidupan, bukan menjadi sumber malapetaka untuk segala macam jenis kehidupan. Manusia sebaiknya memiliki kesadaran untuk tidak selalu berstandar pragmatis terhadap lingkungan dan kehidupannya. Yang jelas alam akan memberikan akibat dari segala sesuatu yang kita lakukan, hal ini mutlak adanya. kita membuang sampah di sungai sembarangan, alam memberikan balasannya dengan banjir, begitu pula dengan peristiwa sebab-akibat lainnya. Untuk itu diperlukan kesadaran penuh sehingga kita menjadi manusia seutuhnya yang menghormati daulat hukum alam.



Sumber tulisan :
[1]. Blog Sejarah Dunia,"Sejarah Hari Peduli Sampah", https://blog-sejarah-dunia.blogspot.co.id/2016/02/sejarah-hari-peduli-sampah-nasional.html

[2]. UU No. 18 Tahun 2003 Tentang Pengelolaan Sampah, Bab II, Pasal 11 ayat (1).

Sumber gambar :
[1]. https://akarpohonmks.files.wordpress.com/2016/02/1-11.jpg?w=1000

[2] - [8]. Dokumentasi Kegiatan Grebeg K3, 3 Maret 2018

[9]. http://img.beritasatu.com/cache/beritasatu/930x680-2/1505281166.jpg



Big Thanks To Readers!
Vrandes S. C - Langit Tjerah
Read more ...

Tuesday, October 10, 2017

Laporan Kegiatan Bakti Sosial | 24 September 2017

Panti Asuhan Rumah Harapan

Pelaksanaan : Minggu 24 September 2017

Berikut laporan mengenai kegiatan Bakti sosial ke Panti asuhan Rumah Harapan edisi ke dua. Hal ini dilakukan sebagai bentuk transparansi kegiatan yang telah kami laksanakan, sekaligus sebagai pertanggungjawaban kepada masyarakat yang telah berpartisipasi.

Cover

Kata Pengantar

Lembar Pengesahan

Lembar Hasil Kegiatan

Lembar Rincian dan Realisasi Donasi

Penutup
Demikian laporan kegiatan Bakti Sosial Panti Asuhan Rumah Harapan yang dilaksanakan pada Hari Minggu tanggal 24 September 2017.
Untuk penjelasan mengenai laporan tersebut bisa hubungi Contact Person kami di,

085711204725 (Vrandes)
085710056745 (Andy)
085640203682 (Arun)

Terima kasih.

Langit Tjerah
Read more ...

Dokumentasi Kegiatan Bakti Sosial

Panti Asuhan Rumah Harapan

Mohon maaf  sebelumnya pelaporan kegiatan baru bisa diupload dikarenakan terkendala kesibukan dari penylenggara, langsung saja berikut laporan kegiatan bakti sosoial Panti Asuhan Rumah Harapan.

Pada hari Minggu, tanggal 24 September 2017 Komunitas Langit Tjerah melakukan kegiatan kemanusiaan berupa Bakti Sosial di Panti Asuhan Rumah Harapan yang beralamatkan di Jl. Raya Suprapto No. 28 Setu, Bekasi. Kegiatan tersebut berupa silaturahmi antara komunitas Langit Tjerah dan Anak Yatim Piatu Rumah Harapan sekaligus penyaluran donasi santunan untuk anak yatim piatu. Acara tersebut diselenggarakan oleh sejumlah pengurus dari Langit Tjerah, yang semuanya memiliki andil dalam kesuksesan acara kemanusiaan tersebut. Mulai dari perencanaan kegiatan, penggalangan donasi, persiapan kegiatan, hingga pelaksanaan kegiatan. Acara tersebut adalah aksi nyata dari Langit Tjerah untuk memperjuangkan sisi kemanusiaan, merangkul orang lain yang sedang membutuhkan sekaligus menanamkan kepedulian lingkungan lewat penyerahan bibit tanaman yang diperuntukkan untuk ditanam di sekitar area Panti Asuhan. Pihak panitia menerapkan prinsip kegiatan Non-Profit dengan tidak menggambil keuntungan sekecil apapun dari uang donasi, untuk keperluan acara panitia mengumpulkan iuran tiap anggota untuk kebutuhan biaya acara. Kegiatan tersebut direncanakan dengan menerapkan prinsip keterbukaan sehingga keteraturan dan kerapiannya terjaga.

Donasi yang terkumpul dari penggalangan dana adalah sebagai berikut,

1.    Donasi dalam bentuk uang

Jumlah Donatur              : 17 donatur dan 1 Forum Belajar
Jumlah Dana Donatur     : Rp. 4.269.000

Donasi yang diserahkan kepada pihak panti adalah sebanyak Rp. 4.269.000


2.    Donasi dalam bentuk makanan

Nama donatur :
a.       Donasi dari DWT (Dhamma Worker Team)
Donasi dari DWT berupa susu dan roti sejumlah 25 pcs.
b.      Donasi dari Sdri. Rochning Mulat
Donasi berupa snack kue basah dan Risols sejumlah 30 pcs
c.       Donasi dari Sdr. Joko Setiawan
Donasi berupa susu Tetrapack dan Makanan Ringan sejumlah 10 pcs

Berikut hasil dokumentasi kegiatanya,



Nama saya Abdul, hobi saya membaca Al-Quran, cita-cita saya menjadi TNI Angkatan Udara :)
Semoga kelak masa depanmu berguna bagia agama bangsa dan negara ya, amiin...


Kreativitas adek-adek Rumah Harapan patut diacungi jempol


Demi mewujudkan cinta terhadap lingkungan Komunitas Langit Tjerah juga menitipkan bibit pohon Pucuk Merah yang akan ditanam di area panti asuhan, hal ini bertujuan untuk menanamkan sifat kepedulian terhadap lingkungan kepada adek-adek Panti Asuhan Rumah Harapan dan orang-orang disekitarnya.



 Diakhir pertemuan tak lupa berfoto ria bersama dengan adek-adek panti yang lucu-lucu sebelum berpisah


Penyerahan donasi dan kepengurusan administrasi kepada pihak panti, biar transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.

untuk kedepannya tetap dijalin hubungan dan kerjasama dengan Panti Asuhan Rumah Harapan untuk saling berangkulan dalam kemanusiaan. Untuk pelaporannya, terpisah dengan dokumentasi ini. Terima kasih atas partisipasinya untuk acara kemanusiaan. Langit Tjerah akan terus berjuang menjadi bagian dari kemanusiaan.
Read more ...

Friday, September 15, 2017

Hutan Untuk Ketahanan Iklim


[1]. Hutan Indonesia
Indonesia mempunyai hutan spesial yang tidak banyak dimiliki oleh negara lain, yaitu hutan tropis. Keberadaan ini menjadikan posisi Indonesia sebagai negara yang kaya namun bagai kapak bermata dua. Satu sisi kekayaan bisa menyejahterakan masyarakat lewat potensi ekonomi yang disimpan, namun sisi lain bisa menyengsarakan masyarakat lewat ancaman bahaya jika tidak dikelola dengan baik. 

Selain menyokong keanekaragaman hayati dan masyarakat yang bergantung pada hutan, hutan hujan tropis memainkan suatu peran vital dalam iklim global dengan kemampuannya menyerap karbon dioksida, gas yang dipercaya oleh ahli sebagai penyebab terjadinya pemanasan global. Pepohonan hutan merupakan suatu komponen yang dapat menyerap karbon atmosfer (carbon sequestration) dan mengubahnya menjadi oksigen melalui proses fotosintesis. Karbon yang diserap diubah menjadi biomassa (carbon sink) sekaligus disimpan dalam sistem sebagai stok karbon (carbon stock). Hutan hujan tropis merupakan penyerap karbon terbaik dibandingkan dengan ekosistem lainnya. Hutan hujan tropis juga berperan dalam menciptakan kondisi cuaca lokal dengan membuat hujan dan mengatur suhu.

Hutan hujan tropis memiliki kemampuan yang baik dalam menyerap dan menyimpan air sehingga dapat dijadikan penyangga dari bencana banjir dan kekeringan global. Ketika musim hujan tiba, hutan hujan tropis dapat mengurangi limpasan air melalui stratifikasi tajuk yang berlapis-lapis sehingga sebagian besar air tetap berada di dalam ekosistem. Sedangkan ketika musim kemarau tiba, kekurangan air dapat ditutupi dari cadangan yang diperoleh selama musim hujan.

Dengan luas hutan sekitar 109 juta hektar pada tahun 2003, Indonesia adalah pemilik hutan hujan tropis terluas ketiga di dunia, setelah Brasil dan Kongo. Tetapi dari luasan hutan yang tersisa, hampir setengahnya terdegradasi. Pada tahun 1997-2000, laju kerusakan hutan Indonesia mencapai 2,8 juta hektar/tahun. Sementara itu, laju kerusakan hutan pada tahun 2000-2005 di Indonesia setara dengan 364 lapangan bola/jam. Menurut data kementerian kehutanan, laju deforestasi Indonesia pada tahun 2003-2011 mencapai 0,82 juta hektar/tahun.

[2]. Kasus Pembakaran Hutan
Deforestasi terjadi karena berbagai faktor yang menumbalkan hutan atas dasar pemenuhan kebutuhan manusia. Organisasi lingkungan, WWF mencatat faktor terbesar yang menyebabkan deforestasi antara lain: konversi hutan menjadi lahan pertanian, pembalakan liar, kebakaran hutan, dan penggunaan kayu bakar. Untuk memenuhi kebutuhan pangan dan energi manusia yang terus membengkak, hutan dibuka menjadi kebun dan area peternakan secara masif. Permintaan yang terus meningkat terhadap kayu internasional, hampir 50% dipenuhi melalui pemanenan kayu di hutan alam secara ilegal. Kebakaran hutan menyumbangkan deforestasi tertinggi dibandingkan faktor lain. Penggunaan kayu untuk bahan bakar juga signifikan mendorong deforestasi. Pusat penelitian kehutanan internasional, CIFOR menambahkan pemicu deforestasi termasuk tekanan kemiskinan dan populasi, saat penduduk mencari lahan garapan, bahan bakar kayu dan bahan bangunan. Di sisi lain, pembangunan infrastruktur, khususnya jalan, pertambangan dan bendungan turut menyokong tingginya laju deforestasi di Indonesia. 

Deforestasi terjadi baik di hutan temperate maupun hutan hujan tropis. Namun dunia sangat mengkhawatirkan laju deforestasi besar-besaran yang terjadi di hutan hujan tropis karena berfungsi sebagai penyangga kehidupan di bumi yang kaya dengan keanekaragaman hayati dan menjadi penyimpan cadangan biomassa paling besar. Kerusakan hutan tropis bertanggungjawab atas seperlima emisi gas rumah kaca di bumi, lebih dari akumulasi jumlah emisi yang dihasilkan kereta, pesawat dan mobil seluruh dunia.

Dampak paling mengerikan dari deforetasi adalah perubahan iklim global. Deforestasi berpengaruh besar terhadap perubahan iklim dalam dua hal. Pertama, perambahan dan pembakaran hutan melepaskan karbondioksida ke atmosfer. Deforestasi mengakibatkan lepasnya karbon yang awalnya tersimpan di dalam pohon sebagai emisi karbondioksida. Hal ini berlangsung dengan cepat apabila pohon dibakar dan berjalan lambat apabila mengalami pelapukan secara alami. Kedua, kerusakan hutan akan mengurangi area hutan yang menyerap karbon dioksida. Kedua peran ini sangat penting dalam pertarungan menghadapi perubahan iklim.

[3]. Perubahan iklim
Sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Meskipun besarnya bahaya belum dapat dipastikan, World Bank memperkirakan dampak perubahan iklim yang signifikan bagi Indonesia adalah: kenaikan temperatur global, curah hujan yang lebih tinggi dan musim hujan yang lebih pendek sehingga merubah keseimbangan air dan energi, kenaikan permukaan air laut, ancaman ketahanan pangan dan menurunnya produktivitas pertanian serta perikanan, ancaman terhadap keanekaragaman hayati dan pemutihan terumbu karang. Dunia juga dihadapkan pada banjir yang lebih sering dan besar, kekeringan, kelaparan serta runtuhnya ekosistem seperti hutan Amazon, punahnya 20-50% dari seluruh rumpun mahluk hidup dan meningkatnya permukaan air laut akibat lapisan es yang meleleh.

Para ilmuwan telah memperingatkan kenaikan suhu global harus berada di bawah 2°C dibanding sebelum revolusi industri untuk menghindari dampak perubahan iklim yang lebih parah. Bumi yang lebih hangat 2°C akan mengubah kehidupan yang kita jalani saat ini. Organisasi lingkungan, Greenpeace menyatakan untuk mendapatkan kesempatan terbaik dalam mempertahankan kenaikan suhu di bawah 2oC, emisi gas rumah kaca harus mencapai puncaknya pada tahun 2015 kemudian harus menurun drastis.

Indonesia berkomitmen untuk menjalani masa depan yang rendah emisi dan berketahanan iklim yang terurai dalam Nationally Determined Contribution (NDC). Indonesia memandang perlu upaya komprehensif adaptasi dan mitigasi berbasis lahan dan laut sebagai sebuah pertimbangan strategi dalam mencapai ketahanan iklim terkait pangan, air dan energi. Pada sektor berbasis lahan, REDD+ atau reducing emissions from deforestation and forest degradation and enhancing carbon stocks in developing countries menjadi komponen penting dari target NDC Indonesia. Forest Reference Emission Level (FREL) Indonesia untuk REDD+ yang mencakup deforestasi dan degradasi hutan serta dekomposisi gambut ditetapkan sebesar 0.568 GtCO2e/tahun untuk pool karbon Above Ground Biomass hingga 2020. Namun upaya tersebut nampaknya belum konsisten dijalankan oleh pemerintah Indonesia melihat masih tingginya angka deforestasi.

Indonesia perlu mengembangkan teknik budidaya tanaman pertanian, kehutanan, dan peternakan yang lebih produktif di area yang sudah ada. Produktivitas yang tinggi akan mendorong terpenuhinya kebutuhan tanpa perlu membuka lahan baru yang mengorbankan hutan. Dengan demikian, angka deforestasi bisa ditekan dan kekhawatiran akan perubahan iklim bisa sedikit teratasi. Upaya ini memerlukan kolaborasi aktif dari semua sektor dan semua pihak agar hutan mampu bertahan untuk perubahan iklim.

Selain itu, pemerintah Indonesia agaknya perlu mencontoh ketegasan pemerintah Bhutan dalam menerapkan kebijakan terkait perlindungan lingkungan hidup yang sangat ketat. Bhutan memperkenalkan serangkaian kebijakan untuk memastikan negaranya tetap netral karbon termasuk amandemen konstitusi untuk menjamin area berhutan tidak kurang dari 60%, dan melarang penebangan untuk ekspor. Bahkan negara ini berambisi untuk menghasilkan nol emisi gas rumah kaca. Kebijakan tersebut dilaksanakan secara konsisten oleh pemerintah dan masyarakat sehingga mengantarkan Bhutan sebagai negara yang menyerap karbon lebih banyak dibandingkan dengan karbon yang dihasilkan atau carbon negative.
[4]. John Muir Quotes
"Tuhan telah merawat pohon-pohon ini, menjaga mereka dari kekeringan, penyakit, longsoran, dan seribu badai dan banjir. Tapi Dia tidak bisa menjaganya dari orang-orang tolol."
- John Muir -


Referensi:

Anna Tosiani, "Buku Kegiatan Serapan dan Emisi Karbon", (Jakarta: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2015).

Center of International Forestry Research, "Peliputan REDD+: Sebuah Panduan bagi Jurnalis tentang Peranan Hutan dalam Menghadapi Perubahan Iklim Global", (Bogor: CIFOR, 2017).

Climate Action Programme, "Bhutan: the World's First Carbon-negative Country", Climate Action Programme News, source: http://www.climateactionprogramme.org/news/bhutan_the_worlds_only_carbon_negative_country, accessed at 5th August 2017

Greenpeace Indonesia, "Hutan Tropis Indonesia dan Krisis Iklim", (Jakarta: Greenpeace Indonesia, 2010).
Fenky Marsandi, "Tinjauan Pustaka", (IPB: Repository IPB, 2017).

Susan Stone, Mario Chacon Leon dan Patricia Fredericks, "Perubahan Iklim dan Peran Hutan", (Jakarta: Conservation International Indonesia, 2010)

United Nation Framework for Climate Change Conference, "Intended Nationally Determined Contribution Republic of Indonesia", UNFCCC Report, source: http://www4.unfccc.int/submissions/INDC/Published%20Documents/Indonesia/1/INDC_REPUBLIC%20OF%20INDONESIA.pdf, accessed at 5th Agustus 2017

William D Sunderlin dan Ida Aju Pradnja Resosudarmo, “Laju dan Penyebab Deforestasi di Indonesia: Penelaahan Kerancuan dan Penyelesaian”, (Bogor: Center for International Forestry Research, 1997).
World Bank, "Adaptasi terhadap Perubahan Iklim: Policy Brief", (Jakarta: Kantor Bank Dunia Jakarta, 2017).

World Wildlife Fund, "Deforestation", diakses dari: http://wwf.panda.org/about_our_earth/deforestation/, pada tanggal 5 Agustus 2017.

World Wildlife Fund, "Hutan Indonesia: Penyerap atau Pelepas Emisi Gas Rumah Kaca?", (Jakarta: WWF Indonesia, 2017).

Sumber gambar :

[1]. http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/05/pantau-langsung-hutan-indonesia

[2]. https://beritagar.id/artikel/berita/kenapa-polisi-menghentikan-penyidikan-kasus-pembakaran-hutan

[3]. http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/11/151116_majalah_dampak_perubahaniklim

[4]. https://www.slideshare.net/toddchandler/12-of-my-favorite-john-muir-quotes


Ditulis oleh : Siti Hudaiyah - Langit Tjerah


Read more ...
Designed By Langit Tjerah