Langit Tjerah menerima donasi buku bekas, buku baru, maupun alat pendidikan yang lainnya untuk kami salurkan kepada Komunitas Pendidikan maupun Taman Baca yang membutuhkan, silahkan hubungi contact person. Terima Kasih.
Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

Friday, September 15, 2017

Hutan Untuk Ketahanan Iklim


[1]. Hutan Indonesia
Indonesia mempunyai hutan spesial yang tidak banyak dimiliki oleh negara lain, yaitu hutan tropis. Keberadaan ini menjadikan posisi Indonesia sebagai negara yang kaya namun bagai kapak bermata dua. Satu sisi kekayaan bisa menyejahterakan masyarakat lewat potensi ekonomi yang disimpan, namun sisi lain bisa menyengsarakan masyarakat lewat ancaman bahaya jika tidak dikelola dengan baik. 

Selain menyokong keanekaragaman hayati dan masyarakat yang bergantung pada hutan, hutan hujan tropis memainkan suatu peran vital dalam iklim global dengan kemampuannya menyerap karbon dioksida, gas yang dipercaya oleh ahli sebagai penyebab terjadinya pemanasan global. Pepohonan hutan merupakan suatu komponen yang dapat menyerap karbon atmosfer (carbon sequestration) dan mengubahnya menjadi oksigen melalui proses fotosintesis. Karbon yang diserap diubah menjadi biomassa (carbon sink) sekaligus disimpan dalam sistem sebagai stok karbon (carbon stock). Hutan hujan tropis merupakan penyerap karbon terbaik dibandingkan dengan ekosistem lainnya. Hutan hujan tropis juga berperan dalam menciptakan kondisi cuaca lokal dengan membuat hujan dan mengatur suhu.

Hutan hujan tropis memiliki kemampuan yang baik dalam menyerap dan menyimpan air sehingga dapat dijadikan penyangga dari bencana banjir dan kekeringan global. Ketika musim hujan tiba, hutan hujan tropis dapat mengurangi limpasan air melalui stratifikasi tajuk yang berlapis-lapis sehingga sebagian besar air tetap berada di dalam ekosistem. Sedangkan ketika musim kemarau tiba, kekurangan air dapat ditutupi dari cadangan yang diperoleh selama musim hujan.

Dengan luas hutan sekitar 109 juta hektar pada tahun 2003, Indonesia adalah pemilik hutan hujan tropis terluas ketiga di dunia, setelah Brasil dan Kongo. Tetapi dari luasan hutan yang tersisa, hampir setengahnya terdegradasi. Pada tahun 1997-2000, laju kerusakan hutan Indonesia mencapai 2,8 juta hektar/tahun. Sementara itu, laju kerusakan hutan pada tahun 2000-2005 di Indonesia setara dengan 364 lapangan bola/jam. Menurut data kementerian kehutanan, laju deforestasi Indonesia pada tahun 2003-2011 mencapai 0,82 juta hektar/tahun.

[2]. Kasus Pembakaran Hutan
Deforestasi terjadi karena berbagai faktor yang menumbalkan hutan atas dasar pemenuhan kebutuhan manusia. Organisasi lingkungan, WWF mencatat faktor terbesar yang menyebabkan deforestasi antara lain: konversi hutan menjadi lahan pertanian, pembalakan liar, kebakaran hutan, dan penggunaan kayu bakar. Untuk memenuhi kebutuhan pangan dan energi manusia yang terus membengkak, hutan dibuka menjadi kebun dan area peternakan secara masif. Permintaan yang terus meningkat terhadap kayu internasional, hampir 50% dipenuhi melalui pemanenan kayu di hutan alam secara ilegal. Kebakaran hutan menyumbangkan deforestasi tertinggi dibandingkan faktor lain. Penggunaan kayu untuk bahan bakar juga signifikan mendorong deforestasi. Pusat penelitian kehutanan internasional, CIFOR menambahkan pemicu deforestasi termasuk tekanan kemiskinan dan populasi, saat penduduk mencari lahan garapan, bahan bakar kayu dan bahan bangunan. Di sisi lain, pembangunan infrastruktur, khususnya jalan, pertambangan dan bendungan turut menyokong tingginya laju deforestasi di Indonesia. 

Deforestasi terjadi baik di hutan temperate maupun hutan hujan tropis. Namun dunia sangat mengkhawatirkan laju deforestasi besar-besaran yang terjadi di hutan hujan tropis karena berfungsi sebagai penyangga kehidupan di bumi yang kaya dengan keanekaragaman hayati dan menjadi penyimpan cadangan biomassa paling besar. Kerusakan hutan tropis bertanggungjawab atas seperlima emisi gas rumah kaca di bumi, lebih dari akumulasi jumlah emisi yang dihasilkan kereta, pesawat dan mobil seluruh dunia.

Dampak paling mengerikan dari deforetasi adalah perubahan iklim global. Deforestasi berpengaruh besar terhadap perubahan iklim dalam dua hal. Pertama, perambahan dan pembakaran hutan melepaskan karbondioksida ke atmosfer. Deforestasi mengakibatkan lepasnya karbon yang awalnya tersimpan di dalam pohon sebagai emisi karbondioksida. Hal ini berlangsung dengan cepat apabila pohon dibakar dan berjalan lambat apabila mengalami pelapukan secara alami. Kedua, kerusakan hutan akan mengurangi area hutan yang menyerap karbon dioksida. Kedua peran ini sangat penting dalam pertarungan menghadapi perubahan iklim.

[3]. Perubahan iklim
Sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Meskipun besarnya bahaya belum dapat dipastikan, World Bank memperkirakan dampak perubahan iklim yang signifikan bagi Indonesia adalah: kenaikan temperatur global, curah hujan yang lebih tinggi dan musim hujan yang lebih pendek sehingga merubah keseimbangan air dan energi, kenaikan permukaan air laut, ancaman ketahanan pangan dan menurunnya produktivitas pertanian serta perikanan, ancaman terhadap keanekaragaman hayati dan pemutihan terumbu karang. Dunia juga dihadapkan pada banjir yang lebih sering dan besar, kekeringan, kelaparan serta runtuhnya ekosistem seperti hutan Amazon, punahnya 20-50% dari seluruh rumpun mahluk hidup dan meningkatnya permukaan air laut akibat lapisan es yang meleleh.

Para ilmuwan telah memperingatkan kenaikan suhu global harus berada di bawah 2°C dibanding sebelum revolusi industri untuk menghindari dampak perubahan iklim yang lebih parah. Bumi yang lebih hangat 2°C akan mengubah kehidupan yang kita jalani saat ini. Organisasi lingkungan, Greenpeace menyatakan untuk mendapatkan kesempatan terbaik dalam mempertahankan kenaikan suhu di bawah 2oC, emisi gas rumah kaca harus mencapai puncaknya pada tahun 2015 kemudian harus menurun drastis.

Indonesia berkomitmen untuk menjalani masa depan yang rendah emisi dan berketahanan iklim yang terurai dalam Nationally Determined Contribution (NDC). Indonesia memandang perlu upaya komprehensif adaptasi dan mitigasi berbasis lahan dan laut sebagai sebuah pertimbangan strategi dalam mencapai ketahanan iklim terkait pangan, air dan energi. Pada sektor berbasis lahan, REDD+ atau reducing emissions from deforestation and forest degradation and enhancing carbon stocks in developing countries menjadi komponen penting dari target NDC Indonesia. Forest Reference Emission Level (FREL) Indonesia untuk REDD+ yang mencakup deforestasi dan degradasi hutan serta dekomposisi gambut ditetapkan sebesar 0.568 GtCO2e/tahun untuk pool karbon Above Ground Biomass hingga 2020. Namun upaya tersebut nampaknya belum konsisten dijalankan oleh pemerintah Indonesia melihat masih tingginya angka deforestasi.

Indonesia perlu mengembangkan teknik budidaya tanaman pertanian, kehutanan, dan peternakan yang lebih produktif di area yang sudah ada. Produktivitas yang tinggi akan mendorong terpenuhinya kebutuhan tanpa perlu membuka lahan baru yang mengorbankan hutan. Dengan demikian, angka deforestasi bisa ditekan dan kekhawatiran akan perubahan iklim bisa sedikit teratasi. Upaya ini memerlukan kolaborasi aktif dari semua sektor dan semua pihak agar hutan mampu bertahan untuk perubahan iklim.

Selain itu, pemerintah Indonesia agaknya perlu mencontoh ketegasan pemerintah Bhutan dalam menerapkan kebijakan terkait perlindungan lingkungan hidup yang sangat ketat. Bhutan memperkenalkan serangkaian kebijakan untuk memastikan negaranya tetap netral karbon termasuk amandemen konstitusi untuk menjamin area berhutan tidak kurang dari 60%, dan melarang penebangan untuk ekspor. Bahkan negara ini berambisi untuk menghasilkan nol emisi gas rumah kaca. Kebijakan tersebut dilaksanakan secara konsisten oleh pemerintah dan masyarakat sehingga mengantarkan Bhutan sebagai negara yang menyerap karbon lebih banyak dibandingkan dengan karbon yang dihasilkan atau carbon negative.
[4]. John Muir Quotes
"Tuhan telah merawat pohon-pohon ini, menjaga mereka dari kekeringan, penyakit, longsoran, dan seribu badai dan banjir. Tapi Dia tidak bisa menjaganya dari orang-orang tolol."
- John Muir -


Referensi:

Anna Tosiani, "Buku Kegiatan Serapan dan Emisi Karbon", (Jakarta: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2015).

Center of International Forestry Research, "Peliputan REDD+: Sebuah Panduan bagi Jurnalis tentang Peranan Hutan dalam Menghadapi Perubahan Iklim Global", (Bogor: CIFOR, 2017).

Climate Action Programme, "Bhutan: the World's First Carbon-negative Country", Climate Action Programme News, source: http://www.climateactionprogramme.org/news/bhutan_the_worlds_only_carbon_negative_country, accessed at 5th August 2017

Greenpeace Indonesia, "Hutan Tropis Indonesia dan Krisis Iklim", (Jakarta: Greenpeace Indonesia, 2010).
Fenky Marsandi, "Tinjauan Pustaka", (IPB: Repository IPB, 2017).

Susan Stone, Mario Chacon Leon dan Patricia Fredericks, "Perubahan Iklim dan Peran Hutan", (Jakarta: Conservation International Indonesia, 2010)

United Nation Framework for Climate Change Conference, "Intended Nationally Determined Contribution Republic of Indonesia", UNFCCC Report, source: http://www4.unfccc.int/submissions/INDC/Published%20Documents/Indonesia/1/INDC_REPUBLIC%20OF%20INDONESIA.pdf, accessed at 5th Agustus 2017

William D Sunderlin dan Ida Aju Pradnja Resosudarmo, “Laju dan Penyebab Deforestasi di Indonesia: Penelaahan Kerancuan dan Penyelesaian”, (Bogor: Center for International Forestry Research, 1997).
World Bank, "Adaptasi terhadap Perubahan Iklim: Policy Brief", (Jakarta: Kantor Bank Dunia Jakarta, 2017).

World Wildlife Fund, "Deforestation", diakses dari: http://wwf.panda.org/about_our_earth/deforestation/, pada tanggal 5 Agustus 2017.

World Wildlife Fund, "Hutan Indonesia: Penyerap atau Pelepas Emisi Gas Rumah Kaca?", (Jakarta: WWF Indonesia, 2017).

Sumber gambar :

[1]. http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/05/pantau-langsung-hutan-indonesia

[2]. https://beritagar.id/artikel/berita/kenapa-polisi-menghentikan-penyidikan-kasus-pembakaran-hutan

[3]. http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/11/151116_majalah_dampak_perubahaniklim

[4]. https://www.slideshare.net/toddchandler/12-of-my-favorite-john-muir-quotes


Ditulis oleh : Siti Hudaiyah - Langit Tjerah


Read more ...

Sajakku Kali Ini


Kali ini aku,

Ya, aku akan mengajarkanmu tentang bagaimana cara untuk menderma energi positif kepada khalayak di sekitar yaitu dengan senyum.

Berpuisi, sajakku meniup jiwa-jiwa yang gerah.




Burung Tak Bersangkar
Oleh : Dedi. S.

Kicau burung membangunkan hangat matahari
Bebaslah kau terbang kesana kemari
Tak sepertiku yang tersangkar dalam jemari

Mungkinkah kau lelah mengudara?
Istirahat sejenak di dahan nan rimbun
Pinjamkan sayapmu padaku
Ku ingin merasakan terbang bebas
Merasakan angin yang menghempas
Menyapa langit-langit yang mengelupas

Bahagia rasa ini tak berupa
Menjelajahi kebebasan yg terlepas
Akankan ku menjelma sebagai burung tak bersangkar?




Selamat Tidur!
Oleh : Dedi. S.

Hari menuju larut gelap
Terang mulai meredup
Namun bulan masih menderang
Bintang kian mengangkang
  
Rasaku hari ini telah hilang
Lelah mengumpat segala problema
Pandang lalu menyempit
Buat ku terbuai imaji bawah sadar

Kurelakan raga terbuai lara
Tapi jiwa tetap terjaga
Melumuti imaji yang kian mendalam
Terlelap ku di dalam pelukan alam



"Maka tersenyumlah dengan tulus"




Ditulis oleh : Dedi. S.
Read more ...

Thursday, August 3, 2017

GO[O]D TIME

Sebuah tulisan motivasi...

[1]. Succes Ahead
Suatu kali aku ngobrol santai dengan seorang teman, dia salah satu teman dekat yang seperti biasa kita saling bertukar pikiran membahas masalah antah-berantah dari disegala arah. Kami biasa membahas apa saja 'ngalor-ngidul nggak jelas hingga lupa sudah jam berapa. Mulai dari masalah kehidupan, hingga problema pribadi yang tak sampai merambah privasi. Singkatnya, sampailah pada pembahasan yang ringan namun cukup berbobot. Temenku ingin membuka usaha.

"Kapan lo mau mulai usaha?", Aku menyeletuk.

"Selow broh. Toh juga nanti akan indah pada waktunya.", Jawabnya sambil senyam-senyum ala motivator.

Jawaban yang sedikit menjengkelkan namun aku tak punya hak sama sekali untuk menilai bahwa itu keliru, mungkin hanyalah masalah perspektifnya aja. Aku coba memahaminya, namun kenyataannya kebiasaan temenku itu tak sebanding dengan jawabannya yang 'lumayan' terlihat bijak. Traktir temen jangan ditanya lagi, ngerokok rajin, royal pasti, travelling tekun, hingga ‘muncak’ dan susur pegunungan udah jadi rutinitas mingguan. Tak sebanding dengan jawabannya tadi yang “akan indah pada waktunya” sementara dia tak berbuat apa-apa untuk usahanya. Jawaban ‘bijak’ darinya justru diimbangi rasa malas dan tak mau berkorban.

[2]. Ilustrasi
Hingga aku mulai sedikit berani untuk mendebatnya tentang makna “Indah pada waktunya” itu sendiri. Bagiku, memang sebenarnya segala sesuatu akan indah pada waktunya, hanya saja yang jadi permasalahan disini adalah kemalasan dan kurangnya pengorbanan. Padahal yang dibutuhkan untuk mencapai mimpi adalah tekun dan mengorbankan apapun miliknya, baik untuk usahanya maupun untuk memberi manfaat pada kehidupan di sekitarnya. Malas dan tidak mau bekerja, lalu menunggu keajaiban datang adalah suatu hal yang sia-sia dan penuh omong-kosong. Kalau memang betul mempercayai bahwa semua akan indah pada waktunya, akan pasti tekun dan bekerja keras untuk menggapai cita-citanya walaupun pasti ada kegagalan yang menyambutnya disetiap jalan.

Kegagalan adalah momen indah yang Tuhan berikan untuk kita syukuri, karena dari kegagalan itu Dia ingin kita lebih giat belajar dan jitu dalam mencari akar permasalahan. Tentu dengan hasil yang tidak mengecewakan bagi diri sendiri dan pastinya membawa manfaat bagi kehidupan di sekitar. Perkara kesuksesan, itu adalah momen dari Tuhan sebagai penghargaan bagi kegagalan-kegagalan kita sebelumnya.

[3]. Success
Intinya, kalau kita punya mimpi kita harus mau bekerja dan berkorban apapun bentuknya. Kalau saja kita menghadapi kegagalan ditengah jalan, tidak perlu kecewa! Hargai momen kegagalan kita dan perbaiki, lalu bangkit kembali!. Nikmatilah waktu berproses hingga kita menerima kesempatan sukses Dari-Nya. Ada yang bilang bahwa “Hasil tak pernah membohongi proses”, Pendapat ini bisa dibetulkan. Namun perlu diingat, walau hasil tak pernah membohongi proses, ketika kita sudah menerima hasil jangan menjadikan kita lena dan tak berproses lagi.

Jangan malas!

...

Saling lontar pendapat udah mulai panas dan dari situ aku dapat menggali ilmu darinya, begitupun mungkin dia juga dapat menggali ilmu dariku. Aku sangat menyadari bahwa pendapatku tak dapat dipaksakan untuknya, akupun berhak untuk tidak menyetujui pendapatnya. Semua hanyalah masalah tafsir, setuju atau tidak setuju adalah hal yang biasa, yang membuatnya luar biasa adalah argumen yang mendasarinya. Disitulah kita mulai harus mengedepankan peranan ‘toleransi’.

[4]. Tolerate
Happy Go[o]d Time, God Bless!


 Sumber Gambar :


Written By : Pieter Tupanwael – Langit Tjerah
Editor : Vrandes
Read more ...

Saturday, July 29, 2017

Pendidikan, Tahap Manusia Dalam Pembebasan

[1]. Pendidikan
“Nak, Sekolahlah kau ikuti gurumu, belajarlah untuk memperoleh hidup yang lebih layak daripada orang tuamu.”, ujar seorang ayah kepada anaknya yang masih belajar menghafal nama-nama hewan dalam bahasa Inggris. Tak terkecuali kita juga pasti sering mendengarkan ceramah yang membosankan tersebut dari mulut orang tua kita yang penuh kasih sayang. Pendidikan, mengapa dalam tulisan ini disebutkan sebagai tahap manusia dalam mencari kebebasan. Karena kita memahami pendidikan sebagai upaya pembebasan, dari kondisi awal kehidupan kita. Tulisan ini sebagai kritik terhadap pemahaman orang awam terhadap pendidikan, yang mana pada hakikatnya pendidikan sebagai upaya pembebasan daripada ketertindasan namun tak jarang pada prakteknya memang membebaskan dari ketertindasan tapi justru menciptakan penindasan baru. Padahal menurut pandangan pribadi penulis, Pendidikan adalah sebuah upaya memahami dirinya sendiri dan seluruh bentuk kehidupan yang menunjang keberlangsungan hidupnya. Dalam memahami dirinya sendiri, tersirat makna pembebasan. Bahwa sejatinya setiap sisi kehidupan duniawi seorang manusia adalah sebuah penjara, yang mana manusia tersebut dapat lepas dari penjaranya jika berhasil memahami dirinya sendiri, penjaranya, dan upaya keluar dari penjaranya, sehingga mampu melepaskan diri dari kungkungannya. Dalam hal ini, pendidikan menjadi peran penting sebagai upaya memahami dan kemudian melepaskan diri seorang manusia tersebut.

Nilai pendidikan tersebut kemudian disubtitusikan ke sebuah sarana, sehingga memunculkan berbagai sarana untuk memperoleh pendidikan berupa sekolah, madrasah, kursus, dan lainnya. Tujuannya adalah sebagai sarana yang membantu mengembangkan kemampuan seorang manusia untuk memahami dirinya dan seluruh kehidupan, sehingga manusia tersebut dapat terbebas. Namun, seiring perkembangan kasus justru nilai pendidikan sebagai pembebasan dari ketertindasan justru memunculkan penindasan gaya baru. Memang, pendidikan yang diadakan dalam sarana-sarana itu membebaskan manusia dari penindasan, tapi justru sering sekali menjadikan manusia yang telah bebas dari penindasan tersebut malah menjadi penindas yang baru. Katakanlah seorang petugas cleaning service yang ditindas oleh mandornya, masuk ke universitas dan mengikuti segala apa yang disajikan dalam kelasnya. Ternyata, mandornya dulu juga belajar di universitas tersebut, dengan gaya pendidikan yang sama. Setelah petugas cleaning service itu lulus dan menjadi mandor, dia menjadi penindas seperti halnya mandornya dulu. Kita memahami pola konsep kejiwaan Penindas-Tertindas, yang mana dalam praktek kesehariannya proses penindasan itu berpola ‘balas-membalas’ antara Penindas dan yang Tertindas. Ketika Si Penindas lengah, akan ditindas oleh orang yang ditindasnya dulu begitu juga sebaliknya nanti. Konsep Penindas-Tertindas tersebut pernah dibahas secara detail oleh Paulo Freire, seorang tokoh pendidikan dari Brazil. Contoh kasus tersebut mungkin memang mengada-ada, namun secara kontekstual dapat menggambarkan bagaimana peran pendidikan yang menciptakan penindasan ‘gaya baru’. Padahal idealnya, pendidikan justru membebaskan manusia dari konsep Penindas-Tertindas tersebut, bukan hanya sekedar membalikkan keadaan. Kondisi ini yang menjadi latar belakang seorang ayah memberikan nasehat kepada anaknya seperti ilustrasi di awal. Bahwa seorang ayah tersebut korban penindasan kehidupan, sehingga kepada anaknya dia memberikan nasehat supaya tak seperti kehidupan orang tuanya. Permasalahannya adalah ketika suatu saat nanti anaknya terbebas dari ketertindasan, dia akan benar-benar terbebas dari konsep Penindas-Tertindas atau justru hanya berhasil mengubah keadaan?. Disitulah peranan pendidikan, jika pendidikan yang diberikan adalah konsep pendidikan yang dapat membebaskannya dari konsep Penindas-Tertindas maka bebaslah dia, tapi jika konsep pendidikan yang diberikan adalah konsep pendidikan pemutar keadaan, jadilah dia mesin penindas yang baru bagi kehidupan diluarnya.

[2]. Paulo Freire
Dalam hal ini, sekolah menjadi penanggung jawab atas konsep pendidikan tersebut. Apakah sekolah akan menjadi sarana alat pembebas, atau sarana alat pencetak. Freire menjelaskan perbedaan antara pendidikan ‘gaya bank’ dan pendidikan ‘hadap-masalah’ dalam buku Pedagogy of Oppressed. Pendidikan gaya bank yang dimaksud adalah pendidikan yang menempatkan guru sebagai pengkhotbah, pendongeng, dan pencerita. “Ciri yang sangat menonjol dari pendidikan bercerita ini, karena itu, adalah kemerduan kata-kata, bukan kekuatan pengubahnya. “Empat kali empat sama dengan enam belas, ibu kota Para adalah Belem”. Murid-murid mencatat, menghafal dan mengulangi ungkapan-ungkapan tersebut tanpa memahami apa arti sesungguhnya dari empat kali empat, atau tanpa menyadari makna sesungguhnya dari kata “ibu kota” dalam ungkapan “ibu kota Para adalah Belem”, yakni, apa arti Belem bagi Para dan apa arti Para bagi Brasil.”[1]. Berbeda dengan konsep pendidikan Hadap-Masalah yang menekankan dialog antara guru dan murid. Dalam konsep pendidikan Hadap-Masalah posisi guru bukan semata-mata menjadi pengajar dan murid sebagai yang diajar. Guru dan murid sama-sama berproses dalam pendidikan, guru dan murid sama-sama menjadi subjek dan sama-sama menjadi objek. Guru dan murid bersama-sama membahas persoalan dunia, pengetahuan, situasi, dan masalah dengan refleksi, dialog, dan observasi. Tujuannya adalah membawa perubahan, untuk menjadi pembebas dari segala bentuk ketertindasan. Tentu sangat nampak perbedaan pendidikan gaya bank dan pendidikan hadap-masalah tersebut. Pendidikan gaya bank hanya menciptakan budaya kepatuhan terhadap sistem penindasan yang tak berdasar. “Kemampuan pendidikan gaya bank untuk mengurangi atau menghapuskan daya kreasi para murid, serta menumbuhkan sikap mudah percaya, menguntungkan kepentingan kaum penindas yang tidak berkepentingan dengan dunia yang terkuak atau yang berubah.”[2].

[3]. Pendidikan Hadap-Masalah
Dengan mengetahui perbedaan konsep pendidikan gaya bank dan konsep pendidikan hadap-masalah, kita dapat mengetahui pula akar masalah pendidikan di Indonesia yang setiap tahunnya tidak terlihat perubahan ke arah yang lebih baik secara signifikan. Kita hanya dihadapkan pada pendidikan yang berisi pembodohan, yang menciptakan kesuksesan semu yang dibaliknya bermakna penindasan. Sehingga kita dapat melihat bahwa naifnya pendidikan di Indonesia kental sekali dengan konsep pendidikan gaya bank yang dimaksud. Sejak dari SD kita dikenalkan dengan ìlmu bahasa namun tak pernah mengerti apa itu bahasa dan apa fungsinya bahasa dalam kehidupan. Ditambah lagi sistem pendidikan Indonesia yang sangat menekankan muridnya untuk berorientasi pada nilai angka kriteria keberhasilan. Dengan sistem tersebut maka tidak heran jika murid yang tak mampu mengejar nilai angka akan menjadikan contek-mencontek sebagai solusinya. Jangan salahkan murid jika contek-mencontek menjadi ‘pelengkap’dalam kegiatan pendidikan di sekolah walau tak bisa dibenarkan juga, sebab kenyataannya ada yang salah dengan sistem pendidikan kita. Ditunjang dengan adanya guru yang anti-kritik, yang menganggap kritik sebagai bentuk pembangkangan seorang murid. Kritik adalah refleksi bagi guru sebagai pelayan, sehingga kritik harus dijadikan pembelajaran bagi guru. Ironisnya, kebanyakan guru di Indonesia masih anti terhadap kritik sehingga guru tersebut hanya menjadi pengajar, tak mau belajar. Kita menyadari bahwa budaya pendidikan kita yang bobrok telah ditularkan dari jaman antah-berantah hingga masa kini. Seorang calon guru, dididik di Universitas tempat ia belajar dengan konsep pendidikan gaya bank. Nanti, setelah ia lulus dan menjadi guru, ia lanjutkan pendidikan gaya bank yang telah diterimanya sewaktu di Universitasnya. Walhasil, murid-murid yang diampunya ikut mengikuti sistem pembodohan tersebut. Apalagi, jika kita dihadapkan juga bahwa orientasi pendidikan kita hanya menciptakan lulusan yang mengejar kemapanan, tak heran menjadi Pegawai Negeri, Tentara, Polisi, Guru, karyawan dan lainnya hanya untuk sekedar mengejar karir. Dunia Universitas dipenuhi dengan kepala-kepala orang yang bermuatan pandangan hidup nyaman dan penuh puja-puji berhala masa depan.

Inilah realita yang kita hadapi dalam sistem pendidikan di Indonesia, pendidikan yang tak mampu membebaskan manusia dari konsep Penindas-Tertindas, namun hanya mampu membalikan keadaan ketertindasan. Sehingga nasehat seorang ayah kepada anaknya tentang pendidikan selalu bernada membosankan, isinya melulu tentang hidup yang lebih enak, hidup yang lebih nyaman, bahkan lebih ekstrim lagi hidup yang berfinansial melimpah. Sekolah dijadikan modal untuk pemulus karir dan sebagai ritus pemujaan berhala masa depan. Sehingga, tidak jarang ditemukan kasus tentang stigma “Kalau tak sekolah, masa depanmu suram, kau tak berilmu.” Tapi apakah demikian? Bagi orang yang betul-betul memahami tentang makna pendidikan, mereka menyadari bahwa pendidikan tak pernah membutuhkan sekolah, sekolahlah yang membutuhkan pendidikan. Apalagi perguruan tinggi, budaya pembodohan juga telah lama menjangkiti perguruan tinggi. “Perguruan tinggi adalah hal konyol. Perguruan tinggi itu seperti rumah-rumah lawas, kecuali fakta bahwa lebih banyak orang yang mati di perguruan tinggi daripada di rumah-rumah tua mereka, maka benar-benar tidak ada bedanya.”[3].

Dengan sistem pendidikan yang masih belum berubah ini, hal yang kita khawatirkan sudah benar-benar terjadi. Yaitu, sekolah rawan bisnis komersial, pendidikan ditentukan dengan jalur mana ia masuk sehingga menentukan jalur mana ia keluar. Tentu dengan uang yang dicampur dengan kesungguh-sungguhan semu. Bukan dengan idealisme akan pembebasan, dan proses bagaimana lepas dari keterikatan konsep Penindas-Tertindas. Tak heran jika Bob Dylan menuliskan “Sepertinya sekolah benar-benar tidak terlalu banyak memberikan pelajaran”. Pendidikan di Indonesia sudah terjangkiti penyakit parah mulai dari sistem hingga pelakunya, entah guru, penyedia layanan, bahkan muridnya. Dari sistemnya, kita jelas masih berkutat dalam sistem gaya bank. Sistem pendidikan yang seperti ini mirip pelatih hewan yang sedang mengajari seekor monyet untuk menari dan menghibur penonton sirkus. Pendidikan yang mampu membebaskan tak bisa seperti itu, pendidikan manusia ya yang harus mengartikan pelakunya sebagai manusia. “Pertanyaan klasik adalah: “Bagaimana pendidikan seharusnya dijalankan?”  Jika Jean Jacques Rousseau mengatakan bahwa panggilan pendidikan tertinggi adalah menjadikan manusia sebagai manusia, maka pendidikan seharusnya dijalankan dengan memanusiakan manusia.  Tidaklah benar jika pendidikan dikerjakan dengan mendidik manusia menurut cara orang mendidik binatang.”[4]. Pendidikan yang telah terkontaminasi bisnis komersial akan melahirkan budaya komersialisme. Lulusan sekolah akan selau disibukkan dengan bagaimana cara mendapatkan kehidupan dari segi finansial. Padahal, pendidikan tak bermakna sesempit itu. “Bahwa menurut Dewey, tujuan pendidikan bukanlah menghasilkan barang-barang bagus yang bisa dijual dan menambah kas negara, melainkan menghasilkan manusia-manusia bebas (produces free men) yang mampu berhubungan satu sama lain dalam situasi yang setara (equal relation).”[5].

[4]. Pendidikan Non Komersial
Namun, bagaimanapun juga pasti tetap ada beberapa orang tergerak dan menyadari keganjilan-keganjilan sistem walau ia sendiri tak mengetahuinya. Dengan tergeraknya manusia tentang keadaan pendidikan inilah muncul  secercah harapan tentang pelurusan makna pendidikan itu sendiri. Tentunya dengan lahirnya kritik-kritik dan aksi lain yang bertujuan meluruskan makna pendidikan dan mengaplikasikan nilai-nilai pendidikan yang bermakna pembebasan tersebut. Walaupun tidak harus melalui meja sekolahan, sebab masih banyak juga orang yang tak pernah merasakan nyamannya meja sekolahan. Disinilah harapan itu muncul, justru gerakan pemulihan ini dimulai dari orang yang belum pernah tersentuh oleh sistem pembodohan meja sekolahan. Atau dari orang-orang yang pernah merasakan pembodohan terstruktur dari sistem pembodohan yang amburadul, namun segera tersadarkan dan membuat gebrakan yang radikal dan revolusioner. Solusinya, mereka yang peduli tentang pelurusan ini, harus beraksi melalui kursus-kursus gratis kepada orang-orang yang belum atau bahkan sudah tercemar pembodohan terstruktur yang mengatasnamakan pendidikan. Dalam upaya ini, lebih diutamakan pendidikan dua arah atau yang disebut oleh Freire sebagai pendidikan Hadap-Masalah, berupa refleksi, dialog dan observasi. Dengan begitu, maka harapan akan pendidikan sebagai tahap manusia dalam mencari kebebasan dapat terwujud.

[5]. Nelson Mandela - Quotes

Sumber :
[1]. Paulo Freire, Pendidikan Kaum Tertindas, terj. Tim Redaksi Asosiasi Pemandu Latihan (Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia, 2008), hal. 52.

[2]. Ibid., hal. 55.

[3]. John Lennon, dkk., Rebel Notes, terj. Adhe Ma’ruf (Yogyakarta: Katalika, 2017), Cet. Pertama, hal. 26.

[4]. Ferry Yang, Kritik Terhadap Pendidikan Indonesia : Pendidikan Manusia, http://www.kompasiana.com/motyang/kritik-terhadap-pendidikan-indonesia-pendidikan-manusia_5869acaff87e61632e984a70

[5]. Reza A.A Watimena, Demokrasi dan Pendidikan Menurut Noam Chomsky, https://rumahfilsafat.com/2012/03/23/demokrasi-dan-pendidikan-menurut-noam-chomsky/


Sumber Gambar :









Written by : Vrandes. S. Cantona - Langit Tjerah

Big Thanks To Readers!
Read more ...

Monday, July 24, 2017

LANGIT TJERAH

Tentang Langit Tjerah...

[1]. Langit Tjerah
Manusia sejatinya adalah makhluk sosial, atau dalam ilmu sosial sering diistilahkan Homo Socius. Sudah menjadi fitrah manusia untuk saling berhubungan satu sama lain untuk keberlangsungan hidupnya. Sangat mustahil bahwa manusia dapat bergantung sendiri, mengandalkan diri sendiri, bahkan lebih ekstrim lagi seolah-olah buta terhadap lingkungan sekitarnya. Oleh karena manusia bersifat makhluk sosial, maka manusia merasa saling membutuhkan diantara sesamanya atau sering diistilahkan sebagai Zoon Politicon. Kebutuhan inilah yang membuat manusia akan membentuk kelompok masyarakat walaupun dengan latar belakang, jenis kelamin, ras, suku maupun nasib yang berbeda satu dengan lainnya. Sudah sepantasnya bila fitrah manusia menjadi makhluk sosial, harus peka terhadap lingkungan sosial disekitarnya.

Keberadaan manusia dalam lingkungan sosial dipenuhi dengan perbedaan, mulai dari perbedaan warna kulit, agama, kepercayaan, hingga perbedaan nasib. Hal inilah yang bernilai ganda seperti dua mata pedang. Disatu mata perbedaan tersebut akan menjadikan konflik antar manusianya, di satu mata yang lain justru perbedaan tersebut akan menjadikan manusia menjadi makhluk yang sangat toleran dan saling menghargai untuk kehidupan bersosialnya. Namun walaupun manusia tercipta dalam berbagai perbedaan, ada satu inti yang menjadi persamaan diantara perbedaan itu. Persamaan diantara perbedaan manusia tersebut adalah “Kemanusiaan”.

Oleh karena nilai kemanusiaan tersebut kami memiliki prinsip yang sama yaitu “Menjadi manusia untuk Kemanusiaan” sehingga kami digerakkan dan berpandangan bahwa Langit akan selalu cerah bagi mereka yang meyakininya.
[2]. Aktivis Langit Tjerah
Langit Tjerah adalah sebuah perkumpulan orang-orang yang peduli dan memperdulikan kehidupan sosial yang berperikemanusiaan. Perkumpulan ini dilatarbelakangi oleh perasaan beberapa orang yang melihat realita kehidupan yang masih jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Kami memperjuangkan Perdamaian, Cinta, dan Kemanusiaan dengan wujud kegiatan-kegiatan kemanusiaan yang memiliki tujuan mengangkat kehidupan yang lebih baik. Makna dari nama Langit Tjerah (ejaan lama) adalah sebuah pandangan kami tentang kehidupan berperikemanusiaan yang seluas dan tak terbatas seperti Langit, dan Tjerah (ejaan lama) secerah nilai-nilai kehidupan yang raya. Untuk mewujudkan prinsip dan pandangan tersebut kami membuat kegiatan-kegiatan yang berisi aksi nyata dalam mewujudkan nilai kemanusiaan itu. Bahwa ada saudara-saudara yang berada disekeliling kita membutuhkan rangkulan dan dukungan berupa semangat, kepercayaan diri, dan materi untuk kita usahakan bersama. Dan kita sebagai Homo Socius sudah sepantasnya tidak melalaikan hal tersebut. Kami bukanlah sebuah organisasi dalam arti organisasi yang berbadan hukum, melainkan kami hanya sekelompok muda-mudi yang tergabung atas dasar nilai kemanusiaan. Terlepas dari ormas, partai politik, perusahaan, maupun instansi yang lainnya, bahkan diantara kami sendiri ada beberapa yang baru kenal. Kami tergabung dalam aksi nyata walaupun tidak dalam bentuk Ormas, Parpol, maupun instansi lainnya, oleh karena itu kita bergerak sebagai free humanitarian provider yang bebas dari tekanan kepentingan dan juga tentunya bercorak Non-Profit. Perkumpulan ini terbentuk pada tanggal 30 Mei 2017, dengan anggota yang bebas dan tidak membeda-bedakan. Untuk sementara ini Langit Tjerah belum menjadi organisasi berbadan hukum, artinya sebatas perkumpulan bebas namun tetap mengedepankan transparansi.
[3]. Salah Satu Kegiatan Langit Tjerah
Aktivitas dalam Langit Tjerah terdiri dari Bakti Sosial ke Panti Asuhan, Perpustakaan Jalanan, Bakti Sosial ke Perkampungan Kumuh, Menulis Artikel, Kampanye Perdamaian, dan kegiatan-kegiatan lain baik dalam dunia nyata maupun dunia maya. Dalam setiap kegiatan yang berhubungan dengan biaya apalagi donasi, kami selalu membuat pelaporan yang transparan mengenai penggunaan dana kegiatan tersebut dan dapat diakses di Blog kami yang mana semua kalangan baik yang terlibat ataupun tidak terlibat dapat mengetahuinya.

Visi : Memperjuangkan Nilai-Nilai Kemanusiaan Untuk Kehidupan Yang Raya
Misi :
Melakukan kampanye tentang nilai-nilai kemanusiaan,
Melakukan kerjasama dengan pihak-pihak pemberdaya bantuan sosial,
Melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat  aplikatif tentang nilai-nilai kemanusiaan,
Melibatkan diri dalam usaha mengangkat kehidupan masyarakat

Slogan
“Be Human for Humanity, For Peace, Love and Humanity. Come Join Us!”

Lingkup
Kehidupan Sosial
Kemanusiaan
Perdamaian
Cinta Sesama Kehidupan
Lingkungan Hidup
Kritik Politik
Kritik Sosial
"Without action, you aren't going anywhere"
-Mohandas Gandhi-

Sumber Gambar :
[1]. Foto Anak-anak Pulau Sibesi, 16 Juli 2017, Lampung
[2]. Foto Kegiatan Bakti Sosial Panti Asuhan Rumah Harapan, 18 Juni 2017, Bekasi
[3]. Foto Kegiatan Bakti Sosial Panti Asuhan Rumah Harapan, 18 Juni 2017, Bekasi


Written By : Vrandes. S. Cantona - Langit Tjerah
Big Thanks to Readers!

Read more ...

Friday, July 14, 2017

Tentang Perpus Jalanan dan Donasi Buku

Latar Belakang....


Pada dasarnya manusia membutuhkan beberapa unsur untuk melangsungkan kehidupannya. Ditambah lagi bahwa manusia adalah Makhluk Sosial yang mana dalam interaksinya, manusia membutuhkan beberapa hal yang mendukung proses sosialisasinya. Salah satunya adalah unsur Pendidikan. Pendidikan adalah sebagai proses manusia untuk mengembangkan kecerdasannya baik kecerdasan kognitif maupun kecerdasan emosional. Hal ini sangat diperlukan dalam proses interaksi sosial, sebab jika kecerdasan tidak ditingkatkan maka proses interaksi sosial tersebut sudah pasti terhambat.

Dalam hal ini negara menjamin pemberian pendidikan terhadap rakyatnya, Dalam UU No 20 Tahun 2003 disebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, keterampilan, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Sehingga Negara harus menjadi pelaksana sekaligus penanggungjawab dalam memberikan pendidikan terhadap warganya. Namun, pada kenyataannya masih banyak orang yang belum menerima pendidikan secara optimal. Baik proses maupun fasilitasnya, terutama sekali orang miskin, terlantar, gelandangan dan anak jalanan. Padahal jelas bahwa pada Pasal 34 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 menyebutkan bahwa “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”. Tetapi masih banyak realita bahwa pendidikan belum optimal menjangkau fakir miskin dan anak-anak terlantar tersebut. Pendidikan hanya didasarkan pada materi gedung-gedung sekolah yang menghasilkan tamatan berijazah yang rawan menjadi ladang bisnis komersial. Sedangkan makna pendidikan tidak sekerdil itu, pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional ke arah alam dan sesama manusia (John Dewey, Filsuf). Yang mana pendidikan dapat diberikan dimana saja, kapan saja, oleh siapa saja dan untuk semua kalangan.


John Dewey - Quotes
Oleh karena itu, kami dilatarbelakangi oleh kondisi realita dalam masyarakat yang sedemikian rupa sehingga mendorong kami untuk menjadi bagian dalam proses pendidikan tersebut. Kami menjadi bagian dalam menyediakan materi pembelajaran dan kursus-kursus terhadap fakir miskin dan anak terlantar yang telah bermetamorfosis menjadi pengamen, pengemis, gelandangan, pengasong, dan lainnya. Juga tidak menutup kemungkinan dapat menjadi penyedia sarana diskusi bagi siapa saja yang sedang melintas di jalanan. Kami akan mengadakan kegiatan “Perpustakaan Jalanan” yaitu kegiatan menyediakan buku dan sarana diskusi yang akan kami jalankan di tempat-tempat keramaian dan di titik-titik tertentu. Oleh sebab itu kita mebutuhkan bantuan donasi buku maupun tulisan lain yang pastinya dapat mendukung kegiatan ini.

"Semua beasiswamu, semua studimu mengenai Shakespeare dan Wordsworth akan sia-sia jika pada saat yang bersamaan kau tidak membangun karaktermu dan mencapai keahlian mencapai pemikiran dan tindakanmu."

-Mohandas Gandhi-


Sumber Gambar :
http://www.mindsparkcommunity.org/uploads/6/6/2/3/66238189/1330616.png?390


Written by : Vrandes Setiawan Cantona - Langit Tjerah

Big Thanks To Readers!
Read more ...

After The Rain

Setelah Hujan...

Mungkin kita sering mengatakan bahwa, "Nanti setelah hujan aja deh, kalau hujannya udah berhenti baru kita berangkat lagi.", sering kali kita mengatakan seperti itu. Tahukah bahwa perkataan seperti itu adalah wujud optimisme kita dalam menyikapi permasalahan bahkan permasalahan yang kecil sekalipun. Kita masih punya keyakinan yang kuat bahwa hujan pasti akan berhenti.


Sama halnya dengan penderitaan kita, penderitaan yang kita alami tak akan selamanya turun menghujani kita seperti hujan. Dalam arti lain, penderitaan kita pasti akan ada akhirnya.

Mungkin dari kita akan menyangkal, "Bagaimana dengan mereka yang sakit dan tak kunjung sembuh lalu meninggal? apakah hujan itu tidak berhenti? atau kematian itu adalah akhir dari  hujan?". Jawaban atas pertanyaan tersebut adalah bahwa Bagi Tuhan semua adalah mudah. Meredakan hujan badai bertahun-tahun sekalipun hanya dengan satu kata yang keluar sudah pasti akan berhenti. Tetapi, Tuhan menginginkan tentang bagaimana sikap kita. Ketika hujan tak kunjung berhenti apakah kita hanya akan menunggu hujan sampai mati kedinginan?, atau kita mau melangkah dan mulai menyalakan api walaupun pada akhirnya api tersebut akan padam juga. Setidaknya orang-orang disekitar kita akan merasakan hangatnya api tersebut di dekat kita.


Jadikan proses sebagai solusi, sebab dengan proseslah kita dapat berguna menjadi manusia dan kita dapat meningkatkan daya hidup. Tidak ada orang yang terlahir tanpa keistimewaan, yang ada hanya ketidakmauan dalam berproses.

Hujan pasti berhenti!
Penderitaan pun akan sama seperti hujan. Berdoalah, berikan yang terbaik untuk orang lain maka kau akan melihat pelangi sejati setelah hujan itu reda.
After The Rain, The Sky Will be Bright Again!
Trust in God!



Sumber gambar :
http://victoragina.com/wp-content/uploads/2016/06/action.jpeg

Written By : Pieter Tupanwael - Langit Tjerah
Editor : Vrandes
Read more ...
Designed By Langit Tjerah