Langit Tjerah menerima donasi buku bekas, buku baru, maupun alat pendidikan yang lainnya untuk kami salurkan kepada Komunitas Pendidikan maupun Taman Baca yang membutuhkan, silahkan hubungi contact person. Terima Kasih.
Showing posts with label Politik. Show all posts
Showing posts with label Politik. Show all posts

Saturday, March 10, 2018

Perempuan, Emansipasi, dan Bahaya Yang Mengancamnya



[1]. Hari Perempuan Sedunia
8 Maret 2018 diperingati sebagai Hari Perempuan Sedunia, dengan latar belakang sejarah yang begitu panjang. Pada tanggal 8 Maret 1857 buruh perempuan dari pabrik tekstil melakukan perlawanan di New York menuntut penghapusan penindasan dan eksploitasi terhadap buruh perempuan. Dalam demo tersebut berujung pembubaran paksa oleh polisi dengan kekerasan dan tindakan represif aparat. Walaupun ada beberapa pihak yang menyangsikan kejadian tersebut, namun seiring berjalannya waktu terjadi peristiwa-peristiwa penting yang dilakukan oleh kaum perempuan yang menguatkan dunia untuk menetapkan tanggal 8 Maret sebagai Hari Perempuan Sedunia.

Partai Sayap Kiri tidak terlepas dari upaya-upaya menetapkan 8 Maret sebagai Hari Perempuan Sedunia. Hal tersebut dapat dimaklumi jika kita melihat sejarah-sejarah yang terjadi sebelumnya. Perjuangan perempuan dalam memperoleh hak dan tidak selalu menjadi objek eksploitasi terkenal memang mendapat dukungan dari partai-partai sayap kiri. Memang, dalam prakteknya perempuan diperbolehkan untuk bekerja, namun pada waktu itu perempuan mendapatkan perlakuan yang ekspolitatif. Hal inilah yang mendorong para perempuan untuk melakukan perlawanan untuk menghapuskan penindasan terutama penindasan terhadap perempuan. Dunia pada kemudian hari mengakui peran perempuan dan berusaha untuk menciptakan kesetaraan hak terhadap perempuan.

Perjuangan Perempuan tak selalu dilihat dari sejarah pergerakan buruh, banyak pula perjuangan perempuan dalam aspek lain. Di Indonesia contohnya, R.A. Kartini, seorang perempuan bangsawan melakukan kritik terhadap Pemerintah Kolonial Belanda kala itu yang tidak memberikan kesempatan kepada perempuan untuk mengenyam pendidikan. Adapula perjuangan perempuan barat yang menolak kekerasan seksual dan industri pornografi pada tahun 1960-an. Perempuan kerap menjadi objek penindasan baik secara psikologis dan seksual, sehingga pada tahun-tahun tersebut muncul gerakan perlawanan.

Feminisme

Feminisme dalam arti filsafat adalah konsep berpikir yang memandang bahwa perempuan memiliki kesetaraan hak dan kewajiban. Lebih dalam lagi, feminisme melihat Patriarki dalam masyarakat melahirkan ketidakadilan terhadap perempuan, oleh karena itu Feminisme melakukan kritik dan pembaharuan terhadap konsep-konsep patriarki masyarakat. Feminisme menjadi penting jika menjadi kritik atas cara pandang masyarakat tradisional yang menempatkan laki-laki diatas segalanya. Bahkan pula cara pandang masyarakat primitif yang mengidentikan Tuhan dengan laki-laki, hal inilah yang seakan-akan melegitimasi laki-laki untuk melakukan penindasan terhadap perempuan. Dalam menghadapi cara pandang pandang masyarakat primitif inilah feminisme menjadi penting. Selebihnya feminisme menjadi cara berpikir yang relevan untuk melahirkan kritik terhadap penindasan gender dalam kehidupan masyarakat.

[2]. Feminisme
Feminisme melahirkan kritik baik dalam segi ekonomi, politik, sosial, gender, dan lainnya. Dalam segi ekonomi, bahkan sampai sekarang pun masih terjadi ketidakadilan terhadap perempuan. Perempuan mengalami dikriminasi ekonomi terkait pengupahan dan fasilitas ekonomi lainnya. Di bidang politik lebih kejam lagi, konsep patriarki yang berlebihan menempatkan perempuan untuk tidak mendapatkan hak-hak politik. Diskriminasi terhadap perempuan di bidang politik menempatkan perempuan menjadi makhluk pasif dan tidak boleh melakukan peran apapun. Di bidang sosial, perempuan kerap menjadi warga masyarakat kelas dua. Hak-hak perempuan hanya diberikan di dapur dan ranjang, inilah yang masih menjadi permasalahan besar bahkan dilapisan masyarakat paling bawah. Kurangnya edukasi dan kondisi sosial yang konservatif ekstrim memperburuk kodisi ketidakadilan yang dialami oleh perempuan. Feminisme menjadi cara berpikir yang sangat penting untuk menghadapi kondisi seperti ini.

Emansipasi Perempuan

Berlanjut dari feminisme, emansipasi adalah usaha untuk mendapatkan hak-hak dan kesetaraan derajat. Bisa dipahami bahwa emansipasi perempuan adalah usaha pelaksanaan feminisme. Emansipasi Perempuan melahirkan perjuangan-perjuangan perempuan untuk melepaskan diri dari ketidakadilan dan menutut ‘pembebasan’. Kondisi diskriminasi dan eksploitasi terhadap perempuan melahirkan perlawanan demi perlawanan yang menuntut untuk diakui kesetaraan hak dan kewajibannya. Hal inilah yang diwujudkan dalam sejarah-sejarah perjuangan perempuan.

Dalam prakteknya, perjuangan perempuan ada yang berskala besar hingga mengerahkan kekuatan massa, ada juga yang berskala kecil dalam bentuk keseharian. Dua hal tersebut tidak ada yang lebih baik maupun yang lebih buruk, semuanya memiliki porsi dan konteksnya tersendiri. Yang jelas, gerakan-gerakan perubahan tersebut memperlihatkan bahwa peran perempuan sangatlah penting. Masyarakat tidak sepantasnya lagi menempatkan perempuan sebagai masyarakat kelas dua.

Masalah-Masalah

Kerap kali kita mendengarkan statemen bahwa laki-laki calon suami yang hebat adalah yang berduit sehingga perempuan yang hebat adalah perempuan yang mampu mendapatkan laki-laki yang berduit tersebut. Ini adalah pemahaman yang primitif, hal ini disebabkan karena pemahaman yang keliru tentang definisi perempuan dan feminisme. Kondisi masyarakat yang terjajah oleh materialisme pragmatis membuahkan cara pandang yang sering salah terhadap nilai-nilai terhadap perempuan. Cara pandang seperti ini harus mulai diubah bahkan perlu ditinggalkan. Budaya tersebut lahir dari kondisi patriarki yang menempatkan perempuan sebagai benda yang memiliki nilai tawar.

[4]. Pameran Pakaian Korban Pemerkosaan, Brussel, Belgia
Masalah-masalah kekerasan seksual juga masih menjadi ironi di zaman ini. Industri pornografi masih eksis menempatkan perempuan sebagai objek pelampiasan bahkan kekerasan. Konten pornografi yang komersil dan ditujukan kepada masyarakat umum menjadi sangat berbahaya terhadap perempuan. Terlebih kondisi masyarakat yang minim pengetahuan dan pemahaman terhadap perempuan dapat menjadi predator yang berbahaya bagi perempuan. Hal tersebut mendorong masyarakat khususnya laki-laki untuk melakukan tindakan kriminal terhadap seksualitas perempuan. Seringkali ditemukan kasus-kasus pemerkosaan dan kekerasan seksual yang dialami oleh perempuan, tanpa memandang usia dan strata sosial. Patriarki ekstrim juga memperburuk masalah ini. Perempuan sering disalahkan menjadi pengundang syahwat laki-laki melakukan tindakan kriminal. Pendapat bahwa perempuan jangan menggunakan pakaian seksi dikarenakan memancing laki-laki untuk melakukan pemerkosaan tidak selamanya benar dan menjadi pembenaran. Di salah satu pameran di Brussel, Belgia, menampilkan pakaian-pakaian korban pemerkosaan dan buktinya tidak hanya pakaian seksi, bahkan dengan seragam polisi pun wanita tetap menjadi korban pemerkosaan dan pelecehan seksual. Jika memahami apa yang ditampilkan dalam pameran tersebut, kita dapat menyipulkan dengan akal sehat bahwa perempuan kerap menjadi objek kekerasan dan sama sekali tidak menjadi sebab kekerasan tersebut. Kondisi patriarki masyarakatlah yang mencari pembenaran terhadap kriminalitas tersebut, perempuan yang disalahkan. Lagi-lagi, cara berpikir masyarakat yang primitif seperti ini masih saja dapat dengan mudah kita temukan. Kekerasan terhadap seksual terhadap perempuan tidak bergantung pada seberapa tertutup perempuan, namun bergantung seberapa tingkat kemesuman dan kebiadaban si pelaku.


[3]. Marsinah
Kekerasan kemanusiaan terhadap perempuan juga menjadi rapor merah bagi negara dan pemerintahan. Di Indonesia, pernah terjadi kekerasan terhadap seorang buruh pabrik yang bernama Marsinah. Marsinah adalah seorang buruh progresif yang melakukan gerakan penuntutan terhadap perusahaan dimana ia bekerja. Selang beberapa hari Marsinah ditemukan tak bernyawa dengan kondisi mayatnya yang mengenaskan. Keterlibatan aparat dalam kematian Marsinah menjadi rapor merah bagi Negara dalam hal melindungi kaum perempuan. Sampai sekarang seiring dengan tidak transparannya negara atas marsinah, semakin banyak kasus-kasus kekerasan terhadap pekerja perempuan terutama sekali terhadap buruh migran perempuan. Kasus kekerasan terhadap buruh migran perempuan seperti tidak ada habisnya, diharapkan negara dapat hadir dan menyelesaiakan persoalan tersebut.

Tingkat pernikahan usia dini dan kematian ibu bersalin juga belum ditanggapi secara menyeluruh baik dari pemerintah, masyarakat, dan perempuan itu sendiri. Kurangnya pendidikan dan perlindungan terhadap perempuan dan anak-anak menjadi akar masalahnya. Kondisi masyarkat yang tradisional sering menganggap tabu pendidikan seksual khususnya terhadap perempuan. Masyarakat menganggap pendidikan seksual terhadap perempun adalah hal yang memalukan dan tidak layak. Hal ini lagi-lagi disebabkan oleh Patriarki Eksrim dalam masyarakat, perempuan dikesampingkan.

-

Sudah waktunya kita merubah pemahaman lama yang menempatkan perempuan sebagai masyarakat kelas dua. Dalam momen Hari Perempuan Sedunia ini kita diingatkan untuk melakukan perubahan cara berpikir dan cara menyikapi perempuan dari budaya-budaya patriarki primitif yang masih saja kita temukan dalam segala aspek kehidupan sosial masyarakat kita. Negara, pihak yang paling bertanggungjawab terhadap kehidupan masyarakat khususnya perempuan harus hadir menyelesaiakan setiap masalahnya,, didukung oleh masyarakat yang juga diharuskan turut merubah cara pandangnya terhadap perempuan dari semula yang dianggap remeh dan dikesampingkan menjadi makhluk yang memiliki kesetaraan hak dan segala bentuk penerapan perlakuannya.

Selamat Hari Perempuan Sedunia!

Sumber gambar :






Big Thanks To Readers!
Vrandes - Langit Tjerah
Read more ...

Tuesday, August 8, 2017

Indonesia [Tak Pernah] Bisa Lepas Dari Penjajahan


[1]. Indonesian Flag
Ratusan tahun Bangsa Indonesia mengalami penjajahan yang diluar batas kemanusiaan. Penghisapan Sumber Daya Alam, Sumber Daya Manusia, akal sehat, hingga peniadaan nasib baik. Dari kongsi dagang Belanda hingga penjajahan oleh Jepang, sudah pernah mengangkangi derajat hidup bangsa ini. Melakukan kesewenang-wenangan dan seenaknya sendiri menciptakan kelas-kelas masyarakat baru sesuai kepentingannya. Walaupun mereka memiliki tujuan yang berbeda-beda, dari sudut pandangnya pun bisa berbeda juga, namun kenyataannya sama, yaitu menindas. Penjajahan dari kaum penindas mencakup segala aspek kehidupan, mulai penjajahan fisik, sistem sosial dan budaya, hingga penjajahan intelektual. Penjajahan fisik sangat mudah dikenali sebab bentuknya nyata, pembunuhan, genosida, penyiksaan dan lainnya. Namun penjajahan akal sehat dan sistem sosial jauh lebih susah diselidiki dan diberantas. Kebetulan juga bangsa Indonesia sangat mudah untuk dipecah-belah jika sudah dihadapkan pada kepentingan dan syahwat. Sehingga mudah sekali kaum penindas melakukan lobi-lobi dan memecah belah, sesudahnya kaum penindas melakukan kebejatan sesuai kehendak dan nafsunya. Hal itu berlangsung hingga beratus-ratus tahun dan diwariskan kepada generasi selanjutnya.

Ceritanya mungkin sedikit berubah ketika masa penjajahan kolonial, namun memiliki tema yang tetap sama, penindasan. Penjajah mulai memoles wajahnya hingga terkesan sedikit halus dan menarik. Contohnya saja politik balas budi yang dipelopori oleh Brooshooft dan Van Deventer sebagai kritik terhadap sistem tanam paksa. Namun, kenyataannya Politik Etis tersebut dijadikan sistem penjajahan yang bermuka lebih halus. Politik Etis mencakup tiga tuntutan : Irigasi, Migrasi, dan Pendidikan. Dalam bidang Irigasi, kenyataannya hanya menjangkau tanah-tanah para tuan dan perusahaan swasta milik Belanda sendiri, kaum pribumi sama sekali tak tersentuh manfaatnya program ini. Dalam bidang Migrasi, orang-orang pribumi disebar ke wilayah-wilayah yang dibutuhkan tenaga kerja untuk perkebunan, atau perusahaan milik penindas. Mereka hanya dijadikan budak di lain daerah, bukan mengangkat derajat hidupnya malah semakin ditindas dan terasingkan. Dalam bidang pendidikan, hanya keturunan bangsawan atau tuan-tuan saja yang bisa mendapatkannya. Sedangkan anak-anak pribumi banyak yang tak bisa mendapatkannya. Dalam pendidikan juga mulai tercipta kelas-kelas yang diskriminatif, yaitu kelas anak-anak pegawai dan anak-anak pribumi biasa. Konten pendidikannya pun disesuaikan dengan kepentingan si penindas, jika sekiranya tidak memberikan manfaat untuk kaum penindas, maka pendidikan itu tidak diberikan. Hal itu pun berlangsung hingga beberapa generasi selanjutnya.

Suasana dunia di masa World War II semakin tidak menentu, hingga akhirnya penjajahan diganti oleh Jepang. Namun jepang hanya menguasai beberapa tahun saja, tujuannya pun hanya untuk memperoleh sumber daya dan finansial guna kepentingan perang. Jepang tidak semassif penjajah sebelumnya yang mampu mengubah sistem dan tatanan sosial bahkan akal sehat penduduk pribumi dapat pula dikebiri. Setelah kekalahan Jepang, bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya sebagai bangsa terbebas. Indonesia muncul sebagai negara baru ditengah kemelut persoalan dunia pasca Perang Dunia. Ditunjang Indonesia berada dalam wilayah yang strategis, sehingga sangat disayangkan oleh para penindas jika Indonesia lepas dari belenggunya.

[2]. Proklamasi
Bangsa ini pada tahun 1945 menyatakan kemerdekaannya, berkat perjuangan fisik rakyatnya maupun perjuangan diplomatis beberapa elit politiknya. Namun, apakah betul Indonesia merdeka? ataukah Indonesia hanya mengalami perubahan model penjajahan baru?. Mengingat bangsa Eropa menjajah beratus-ratus tahun, apakah mungkin Indonesia bisa lepas dari pengaruhnya?. Belum lagi ditambah penjajahan Jepang, lengkap sudah model-model penindasan yang dialami bangsa ini. Lalu bagaimanakah kemerdekaan itu?.

Dalam pertemuan antara Sukarno, Hatta, Sjahrir dan Agus Salim, Tan Malaka datang tanpa undangan dan mengatakan bahwa, “Kepada kalian para sahabat, tahukah kalian kenapa aku tidak tertarik pada kemerdekaan yang kalian ciptakan. Aku merasa bahwa kemerdekaan itu tidak kalian rancang untuk kemaslahatan bersama. Kemerdekaan kalian diatur oleh segelintir manusia, tidak menciptakan revolusi besar. Hari ini aku datang kepadamu, wahai Soekarno sahabatku. Harus aku katakan bahwa kita belum merdeka, karena merdeka haruslah 100 persen.”. Tan Malaka adalah seorang Bapak Republik yang tidak diterima oleh bangsanya sendiri. Namanya dijauhkan dari sejarah perjuangan yang konseptual. Bagi Tan, kemerdekaan yang berhasil dikumandangkan pada 1945 hanyalah kemerdekaan milik kaum elit, bukan milik rakyat. Kemerdekaan kaum elit yang bahagia mendadak karena menjadi borjuis. Kemerdekaan ini hanya dapat dirasakan oleh pemimpinnya saja, sedangkan rakyat harus tetap menghadapi penindasan yang dilakukan oleh wakilnya sendiri. “Esok, adalah hari dimana aku akan menjelma menjadi musuh kalian, karena aku akan tetap berjuang untuk merdeka ‘seratus persen’.” Begitu ungkap Tan Malaka. Jika kita melihat dari sudut Tan Malaka, benar memang bangsa ini tidaklah merdeka, yang merdeka hanyalah sebagian elit politiknya saja, sedangkan rakyatnya tidak.

Sehingga setelah bangsa ini dikatakan merdekapun kita masih menjumpai segala jenis penindasan yang telah berubah modelnya. Baik dari demografi, sumber daya alam, ideologi, politik, sosial budaya, edukasi, bahkan ekonomi. Dinamika perpolitikan hanyalah ‘drama’, tak pernah menyelesaikan persoalan ketertindasan. Sukarno digulingkan dan digantikan Soeharto hanyalah tontonan ‘drama non-kolosal’ yang tak pernah menyelesaikan permasalahan. Justru malah lebih parah, kita menghadapi penjajahan New Imperialism yang dilakukan oleh elit penguasa global. Kita dihadapkan dengan oligarki politik oleh beberapa politisi Orde Baru yang memperkaya diri dan keluarganya dengan cara menindas dan menabung beban bagi rakyat. Atas nama pembangunan, dewa-dewa kemakmuran dikangkangi dan di cor dengan semen-semen palsu. Gedug-gedung sekolah dibangun namun semakin jauh dari makna pendidikan, lumbung-lumbung padi dibangun tapi malah semakin dekat dengan kelaparan, Pabrik-pabrik dibangun namun jauh dari kemajuan. Pembangunan, adalah kedok pemerintah Orde Baru (baca : rezim penindas) untuk hutang ke luar negeri dan menjajakan diri kepada investor, yang hasilnya dikorupsi dan dibagi-bagi kepada sanak family. Rakyat hanya diberikan ampasnya yang tak seberapa, namun dibebani hutang dan masa depan yang penuh dengan kemalangan.

Sebagian besar anak-anak hidup namun jauh dari pendidikan, sedangkan mereka yang dekat dengan pendidikan hanya mengejar prospek dan cita-cita menjadi pejabat dan ‘negarawan’. Inilah penjajahan yang lebih biadab, anak bangsa menyikut nasib anak yang lainnya. Jelas-jelas ini warisan pendidikan masa kolonial, warisan otak-otak penindas. Tenaga pendidik yang sama sekali tak pernah membahas tentang pembebasan, namun hanya berkutat dalam keinginan memutar keadaan. Rakyat disubsidi untuk mengecohnya dari persoalan yang sebenarnya, hutang dan tipu-tipu. Penindasan lain yang tak kalah mengerikan adalah penindasan kemanusiaan. Setiap orang yang melayangkan kritik pasti dibungkam bahkan dihilangkan nyawanya, nyawa tak pernah berarti jika diadu dengan roda kekuasaan dan perpolitikan. Kita dapat menyaksikan hilangnya beberapa aktivis yang melakukan perlawanan terhadap rezim penindas, bahkan sampai peristiwa penembakan yang sampai menghilangkan nyawa seseorang beratasnamakan negara dan stabilitas. Kemerdekaan Indonesia hanya mampu membebaskan penindasan fisik yang dilakukan oleh bangsa eropa, namun tak mampu membebaskan penindasan sistem oleh bangsa adikuasa yang dititipkan pada elit politik kita. Politisi-politisi dan pejabat-pejabat hanya ‘meneruskan mandat’ dari penjajah imperial. W.S Rendra dalam puisinya yang berjudul Maskumambang mengatakan “Bangsa kita kini seperti dadu, terperangkap di dalam kaleng hutang yang dikocok-kocok oleh bangsa adikuasa tanpa kita bisa melawannya.”.

[3]. Reformasi
Soeharto berhasil ditumbangkan, digantikan Orde Reformasi dimana amandemen-amandemen dipercaya dapat mengubah nasib bangsa. Perubahan sistem perpolitikan hingga perubahan undang-undang digulirkan namun tetap sama-sama bernada penjajahan. Kita melihat bahwa memang penjajahan fisik sudah nyaris tidak ada, namun berganti ke penjajahan sistem. Kita dijajah dengan hutang peninggalan Orde sebelumnya, yang mana dengan mengatasnamakan pembangunan bisa seenaknya membebani rakyatnya segudang derita. Hutang tersebut menjerat dan mencekik generasi selanjutnya sehingga bangsa ini tak mampu bernafas sebagaimana mestinya. Benar kata Rendra bahwa bangsa ini terperangkap seperti dadu dalam kaleng hutang yang dikocok-kocok tanpa bisa melawan. Itulah, yang mana kita lihat sehingga dapat dikatakan bahwa Indonesia [tak pernah] bisa lepas dari penjajahan. Kita saja tak bisa lepas dari penjajahan wakil kita sendiri, bagaimana mungkin bisa lepas dari penjajahan penguasa global?. Bangsa ini dijerat oleh kebijakan-kebijakan pebisnis dan pemilik modal skala global yang bajingan. Sebagaimana yang dibahas oleh John Pilger dalam film dokumenternya yang sudah sangat familiar “The New Rulers of The World”, bahwa penjahan baru itu bernama globalisasi. John Pilger mempertanyakan arti globalisasi, “... ataukah ini (globalisasi) semata-mata adalah cara lama yang dulunya dilakukan pada jaman raja-raja dan sekarang diteruskan oleh perusahaan-perusahaan multinasional dengan berbagai lembaga keuangan dan pemerintah sebagai penopangnya.”.

Kenyataannya bahwa memang kita belum pernah bisa merdeka, kita hanya mengalami fase-fase penjajahan yang berbeda pelaku dan metodenya. Dalam liputan spesial itu dibahas tentang penjajahan gaya baru ‘globalisasi’ di Indonesia, khususnya setelah tumbangnya rezim Sukarno dan digantikan Soeharto, hingga masa setelah reformasi. Dengan dimulai masa rezim Soeharto, hingga kini bangsa ini harus menanggung masa penjajahan dikte IMF dan World Bank, belum lagi utang kepada bangsa lain yang sebagai syaratnya harus mau didikte secara politik, sosial maupun ekonomi. Sangat disayangkan negeri yang begitu kayanya akan sumber daya harus menjadi pengemis dan hidup dalam ketertindasan. Buruh pabrik harus menjadi robot-robot bernyawa untuk mendapat penghidupan yang jauh dari kata layak. Bayaran Ronaldo untuk mengiklankan sepatu branded luar negeri yang pabriknya di Indonesia mampu untuk membeli tenaga seratus buruh rendahan pembuatnya selama setahun penuh. Kenyataan yang sangat tidak masuk akal dan tidak dapat diterima secara manusiawi. Penjajahan biadab yang mengatasnamakan ‘pembangunan’dan kemajuan jaman. Petani-petani hanya mampu memandang makanan di balik etalase restoran multinasional tanpa bisa membelinya. Hasil panennya dimainkan oleh kartel dan monopoli cukong-cukong bermuka ‘sok baik’. Harga beras dibeli secara murah namun jika sudah ditambahkan merek, tajam harganya melebihi tajam arit petaninya, biadab. Anak-anak miskin hanya mampu bersekolah ketika terlelap di malam hari, mimpi yang tak kunjung terealisasi. Adapun jikalau bisa bersekolah, orang tuanya lah yang kelimpungan mencari biaya, beasiswa ‘mandeg’ disikat iuran komite sekolah. Penegakan hukum juga hanya menjadi omong kosong dan bualan penguasa, dengan mudahnya tarik ulur untuk kepentingan politis. Katakanlah seperti kasus hilangnya aktivis ketika masa reformasi, setiap hendak pergantian kekuasaan pasti menjadi janji, namun hanya menjadi bualan dan tak pernah serius dibuktikan. Begitu pula dengan penuntasan kasus pelanggaran HAM 1965 dimana ratusan ribu nyawa dihilangkan atas nama pembersihan dan stabilitas nasional. Penyelesaian kasusnya seperti selalu tersendat-sendat tak pernah lancar dan sebentar muncul sebentar tenggelam.

Kenyataannya sekali lagi kita tegaskan, bahwa Indonesia [tak pernah] bisa lepas dari penjajahan, sebab dari awal mulanya saja memang sudah dirancang untuk tidak merdeka. Kita banyak mengadopsi sitem kolonial, yang mana sampai sekarang masih dipercaya relevan untuk mengatur negara. Kita dicetak menjadi peradaban yang berpikiran dangkal, dididik dalam suasana dan sistem warisan kolonial. Sehingga kita semakin dijauhkan dari makna pembebasan, kita hanya disibukkan dalam konsep penindas-tertindas.

Namun, masih ada harapan sekecil apapun itu. Kita masih memiliki potensi untuk melepaskan diri dari penindasan, hanya saja kita mau atau tidak. Dalam mencapai kemerdekaan yang sebenarnya, kita perlu mengawalinya dengan melakukan revolusi dari dalam diri kita sendiri. Dengan revolusi kecil itu, yakinlah kita akan semakin disatukan dengan orang-orang lain yang juga melakukannya. Sehingga suatu saat jebollah sistem penindasan yang menjerat kita selama ini karena People Power. Perlawanan dibutuhkan untuk mengikis habis ketertindasan.
Panjang umur perlawanan!

Sumber gambar :


 
Big Thanks To Readers!

Written by : Vrandes Setiawan Cantona

 
Read more ...

Monday, July 24, 2017

LANGIT TJERAH

Tentang Langit Tjerah...

[1]. Langit Tjerah
Manusia sejatinya adalah makhluk sosial, atau dalam ilmu sosial sering diistilahkan Homo Socius. Sudah menjadi fitrah manusia untuk saling berhubungan satu sama lain untuk keberlangsungan hidupnya. Sangat mustahil bahwa manusia dapat bergantung sendiri, mengandalkan diri sendiri, bahkan lebih ekstrim lagi seolah-olah buta terhadap lingkungan sekitarnya. Oleh karena manusia bersifat makhluk sosial, maka manusia merasa saling membutuhkan diantara sesamanya atau sering diistilahkan sebagai Zoon Politicon. Kebutuhan inilah yang membuat manusia akan membentuk kelompok masyarakat walaupun dengan latar belakang, jenis kelamin, ras, suku maupun nasib yang berbeda satu dengan lainnya. Sudah sepantasnya bila fitrah manusia menjadi makhluk sosial, harus peka terhadap lingkungan sosial disekitarnya.

Keberadaan manusia dalam lingkungan sosial dipenuhi dengan perbedaan, mulai dari perbedaan warna kulit, agama, kepercayaan, hingga perbedaan nasib. Hal inilah yang bernilai ganda seperti dua mata pedang. Disatu mata perbedaan tersebut akan menjadikan konflik antar manusianya, di satu mata yang lain justru perbedaan tersebut akan menjadikan manusia menjadi makhluk yang sangat toleran dan saling menghargai untuk kehidupan bersosialnya. Namun walaupun manusia tercipta dalam berbagai perbedaan, ada satu inti yang menjadi persamaan diantara perbedaan itu. Persamaan diantara perbedaan manusia tersebut adalah “Kemanusiaan”.

Oleh karena nilai kemanusiaan tersebut kami memiliki prinsip yang sama yaitu “Menjadi manusia untuk Kemanusiaan” sehingga kami digerakkan dan berpandangan bahwa Langit akan selalu cerah bagi mereka yang meyakininya.
[2]. Aktivis Langit Tjerah
Langit Tjerah adalah sebuah perkumpulan orang-orang yang peduli dan memperdulikan kehidupan sosial yang berperikemanusiaan. Perkumpulan ini dilatarbelakangi oleh perasaan beberapa orang yang melihat realita kehidupan yang masih jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Kami memperjuangkan Perdamaian, Cinta, dan Kemanusiaan dengan wujud kegiatan-kegiatan kemanusiaan yang memiliki tujuan mengangkat kehidupan yang lebih baik. Makna dari nama Langit Tjerah (ejaan lama) adalah sebuah pandangan kami tentang kehidupan berperikemanusiaan yang seluas dan tak terbatas seperti Langit, dan Tjerah (ejaan lama) secerah nilai-nilai kehidupan yang raya. Untuk mewujudkan prinsip dan pandangan tersebut kami membuat kegiatan-kegiatan yang berisi aksi nyata dalam mewujudkan nilai kemanusiaan itu. Bahwa ada saudara-saudara yang berada disekeliling kita membutuhkan rangkulan dan dukungan berupa semangat, kepercayaan diri, dan materi untuk kita usahakan bersama. Dan kita sebagai Homo Socius sudah sepantasnya tidak melalaikan hal tersebut. Kami bukanlah sebuah organisasi dalam arti organisasi yang berbadan hukum, melainkan kami hanya sekelompok muda-mudi yang tergabung atas dasar nilai kemanusiaan. Terlepas dari ormas, partai politik, perusahaan, maupun instansi yang lainnya, bahkan diantara kami sendiri ada beberapa yang baru kenal. Kami tergabung dalam aksi nyata walaupun tidak dalam bentuk Ormas, Parpol, maupun instansi lainnya, oleh karena itu kita bergerak sebagai free humanitarian provider yang bebas dari tekanan kepentingan dan juga tentunya bercorak Non-Profit. Perkumpulan ini terbentuk pada tanggal 30 Mei 2017, dengan anggota yang bebas dan tidak membeda-bedakan. Untuk sementara ini Langit Tjerah belum menjadi organisasi berbadan hukum, artinya sebatas perkumpulan bebas namun tetap mengedepankan transparansi.
[3]. Salah Satu Kegiatan Langit Tjerah
Aktivitas dalam Langit Tjerah terdiri dari Bakti Sosial ke Panti Asuhan, Perpustakaan Jalanan, Bakti Sosial ke Perkampungan Kumuh, Menulis Artikel, Kampanye Perdamaian, dan kegiatan-kegiatan lain baik dalam dunia nyata maupun dunia maya. Dalam setiap kegiatan yang berhubungan dengan biaya apalagi donasi, kami selalu membuat pelaporan yang transparan mengenai penggunaan dana kegiatan tersebut dan dapat diakses di Blog kami yang mana semua kalangan baik yang terlibat ataupun tidak terlibat dapat mengetahuinya.

Visi : Memperjuangkan Nilai-Nilai Kemanusiaan Untuk Kehidupan Yang Raya
Misi :
Melakukan kampanye tentang nilai-nilai kemanusiaan,
Melakukan kerjasama dengan pihak-pihak pemberdaya bantuan sosial,
Melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat  aplikatif tentang nilai-nilai kemanusiaan,
Melibatkan diri dalam usaha mengangkat kehidupan masyarakat

Slogan
“Be Human for Humanity, For Peace, Love and Humanity. Come Join Us!”

Lingkup
Kehidupan Sosial
Kemanusiaan
Perdamaian
Cinta Sesama Kehidupan
Lingkungan Hidup
Kritik Politik
Kritik Sosial
"Without action, you aren't going anywhere"
-Mohandas Gandhi-

Sumber Gambar :
[1]. Foto Anak-anak Pulau Sibesi, 16 Juli 2017, Lampung
[2]. Foto Kegiatan Bakti Sosial Panti Asuhan Rumah Harapan, 18 Juni 2017, Bekasi
[3]. Foto Kegiatan Bakti Sosial Panti Asuhan Rumah Harapan, 18 Juni 2017, Bekasi


Written By : Vrandes. S. Cantona - Langit Tjerah
Big Thanks to Readers!

Read more ...

Sunday, July 23, 2017

Bias Penilaian Mayoritas Muslim Indonesia Terkait Konflik Israel-Palestina


[1]. Israeli-Palestinian Conflict
Konflik Israel-Palestina adalah luka yang cukup serius bagi sejarah kemanusiaan dan perdamaian bagi kehidupan umat manusia, khususnya bagi muslim dunia. Bagaimana tidak, konflik tersebut sudah berpuluh-puluh tahun tak kunjung selesai dan pastinya sudah merenggut banyak jiwa yang mungkin tak berdosa. Mayoritas di dunia hanya melihatnya sebagai konflik Islam-Yahudi, lebih dari itu konflik ini sesungguhnya adalah konflik politis yang dibelakangnya ada peran Elit AS dan tentunya Elit Zionis. Kita pernah membahas sejarah konflik ini sebelumnya, sehingga dalam pembahasan ini tidak akan mengulang pembahasan yang sama. Dalam pembahasan ini akan lebih membahas perkembangan konflik selama kurun sepuluh tahun terakhir.

Dukungan dunia terhadap penyelesaian konflik ini tidak diragukan lagi, terlebih dukungan solidaritas umat Islam di seluruh Dunia. Melalui slogan, bantuan kemanusiaan, bahkan hingga bantuan diplomasi dari negara-negara yang peduli. Seperti halnya Indonesia, Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Yang mana muslim Indonesia terkenal dengan solidaritasnya terhadap muslim di lain negara. Dalam hal ini, masyarakat muslim Indonesia bisa dikatakan sebagai masyarakat muslim yang paling peduli terhadap pembebasan Palestina. Tak jarang kita jumpai perjuangan muslim Indonesia dalam menyuarakan pembebasan Palestina di media sosial. Namun, bagi yang telah memahami peta konflik yang sesungguhnya, dan siapa yang berperan dibaliknya, akan menjumpai ‘Bias Penilaian’ dalam kampanye yang dilakukan oleh sebagian besar muslim Indonesia. Kita akan bahas satu persatu bias yang dimaksud, singkirkan sejenak pemikiran yang terlalu egoistis sebab kebenaran tak akan pernah diterima oleh pemikiran egoistis yang keterlaluan.

[2]. Konflik Fisik Israel-Palestina
Jelas kita tahu yang menjadi pelaksana konflik adalah Israel dan Palestina, sejarahnya bagaimana, hingga perkembangan tiap masanya. Yang belum kita luruskan disini adalah siapa yang berperan dibalik konflik tersebut, siapa pendukung Israel dan siapa pendukung Palestina yang sebenarnya. Kita akan sajikan negara mana saja yang ‘tidak konsisten’ mendukung Palestina atau bahkan bisa dibilang ikut ‘mencederai’ Palestina, yang anehnya di Indonesia malah dipuja-puja oleh pendukung Palestina. Hal ini yang penulis sebut sebagai ‘Bias Penilaian’ terkait konflik Israel-Palestina. Semoga dengan adanya tulisan ini, kita menjadi ‘melek mata’ terhadap realita yang terjadi, kita menjadi tahu siapa lawan dan siapa kawan, dan pada akhirnya kita menjadi bagian dari solusi perdamaian, bukan malah menambah keruh situasi dengan bias penilaian kita.

Jelas, kita melihat Amerika sebagai ‘sponsor’ utama Israel dalam melakukan kebiadabannya terhadap Palestina. “Hubungan mesra antara Intelektual Amerika dan Israel berawal dari kemenangan besar militer Israel atas Dunia Arab”[1]. Amerika sangat memainkan peran dalam mendukung Israel atas invasinya terhadap Palestina. Kita melihat Israel-AS selalu menggunakan strategi ‘pasang umpan, tarik ikan’, katakanlah Israel memancing beberapa pemuda Palestina untuk melakukan kekerasan terhadap beberapa warga Israel dan sebagai balasannya Israel melakukan pembantaian yang luar biasa terhadap penduduk Palestina. Itu adalah jalan yang sangat munafik bagi Israel dan AS, Sengkuni bagi cerita kehidupan umat manusia. Dan, saya yakin Muslim Indonesia sudah banyak yang tahu tentang persoalan ini. Banyak muslim Indonesia yang ‘tidak menyukai’ AS terkait peranannya dalam konflik Israel-Palestina ini. Namun, ketidaksukaan itu hanya berdasar kepada perlakuan AS yang tampak saja, padahal banyak sekali perlakuan yang tidak tampak atau berupa ‘invisible hand’ AS Israel dan Negara Arab yang mendukung terhadap kebiadaban ini.

[3]. AS-Israel
Kenyataannya kita dapat melihat dan memahami, bahwa muslim Indonesia membela Palestina atas dasar solidaritas keagamaan, yang mana dalam kenyataannya muslim Indonesia juga mendukung negara-negara Islam yang ‘tak konsisten’ dalam mendukung pembebasan Palestina. Negara-negara tersebut menjadi ‘penjilat’ AS di kawasan, karena kita melihatnya bedasarkan bukti yang selama ini kita ikuti perkembangannya. Anehnya, justru negara-negara atau tokoh-tokoh yang mendukung penuh pembebasan Palestina malah dicaci-maki oleh muslim Indonesia yang mendukung Palestina. Dan kita melihat fenomena tersebut karena lagi-lagi disebabkan oleh ‘bias penilaian’ muslim Indonesia. Bahwa memang AS dan koalisi Negara Kawasan memainkan media mainstream seperti BBC, Al-Jazeera (dulu), NTC dan lainnya, seakan-akan bahwa negara-negara atau tokoh-tokoh yang mendukung perjuangan Palestina dikesankan sebagai ‘sesat’, kejam, tiran, maupun zalim. Dan muslim Indonesia mengamini hal tersebut sehingga tak lagi mampu melihat mana kawan dan mana lawan. Mari kita bahas satu persatu ‘belang’ negara-negara Islam yang tak konsisten mendukung Palestina, yang ironisnya malah didukung pula oleh Muslim Indonesia.

Perlu kita ketahui, AS dan Israel juga merangkul beberapa negara di kawasan Timur Tengah dan menjadikannya koalisi. Sebutkanlah Arab Saudi, bagi yang mampu melihat secara jernih tak asing dengan peran Saudi dalam berkomplot dengan AS-Israel. Naifnya, banyak muslim Indonesia yang mendukung Palestina namun juga menjadi ‘pengikut dan pemuja’ Saudi Arabia. Hanya karena Arab Saudi merupakan negara muslim, negara tersebut dipuja tanpa mampu melihat belangnya melukai perjuangan kemerdekaan Palestina. Terutama ketika musim haji pada tahun 2013, Ditengah romantisme perjuangan solidaritas kemerdekaan Palestina sedang hebat-hebatnya Saudi malah menyewa jasa keamanan dari Israel untuk mengamankan Ibadah Haji. “G4S al-Majal, salah satu cabang dari perusahaan keamanan G4S dipercaya sudah mengawal pengamanan haji sejak 2010”[2].  Hal ini sangat menyakiti hati umat Islam (yang melek mata) terkait Palestina. Imam Masjid Al-Aqsa, Syekh Ekrima Sabri pernah mengatakan, “Mereka membantu penjajah adalah penjajah juga.” menyikapi persoalan ini. Juga ketika Arab Saudi dan Israel mulai mebahas tentang kerjasama keamanan di kawasan regional, semakin memperlihatkan Arab Saudi menjadi kawan Israel dan tak lagi pantas untuk dipuja oleh kita yang mendukung kemerdekaan Palestina.  Menhan Israel, Mattis mengatakan,”Koalisi Amerika dengan Israel adalah batu fondasi keamanan regional yang sangat luas. Keamanan regional ini mencakup kerjasama dengan Yordania, Mesir, Saudi, dan sekutu-sekutu Amerika di negara-negara Teluk. Tujuan saya adalah meningkatkan partisipasi Amerika di kawasan untuk melenyapkan ancaman dan pada akhirnya, menakut-nakuti musuh-musuh kita.”[3]. Kerjasama AS-Israel-Saudi merupakan sedikit ‘kode’ untuk memahami negara Saudi sebagai ‘pengkhianat’ bagi perjuangan perdamaian Palestina. Namun, lagi-lagi karena bias penilaian Muslim Indonesia, justru Saudi yang jelas-jelas mengkhianati perjuagan perdamaian Palestina malah dipuja-puja tanpa melihat dengan mata yang jernih apa yang sebenarnya terjadi.

[4]. Saud and Israel Summit
Itu baru dua buah bukti, masih banyak bukti lain yang sangat menguatkan bahwa Saudi adalah ‘pelayan setia’ AS dan Israel, tak pantas lagi disebut sebagai ‘pelayan kota suci umat Islam’. Coba kita lihat, Kedubes AS dan Israel masih bercokol dan mengakar di Saudi Arabia, seharusnya jika Saudi konsisten dalam solidaritas umat Islam pasti akan menolak segala macam atribut maupun kerjasama dengan AS dan Israel, Arab Saudi akan mengikuti Suriah maupun Iran dalam memboikot Israel dan AS. Tapi kenyataannya justru terbalik, Arab Saudi malah bermesraan dengan AS dan Israel bahkan ikut memusuhi Iran maupun Suriah (Assad). Hanya karena alasan Iran merupakan ‘ancaman’ bagi kehidupan Timur Tengah, Ancaman yang mana? Ancaman bagi Timur Tengah ataukah ancaman bagi bisnis AS-Israel-Saudi di Timur Tengah?. Apakah hanya karena Iran mengembangkan senjata Nuklir yang dapat mengancam kehidupan Timur Tengah? Bukankah Israel juga merupakan negara berkekuatan Nuklir juga? Apakah karena Iran membangkang terhadap AS dan Koalisinya sehingga beribu fitnahan keji melalui media mainstream dilontarkan kepadanya secara biadab?. Bukti selanjutnya adalah adanya pertemuan rahasia oleh Arab Saudi-Israel terkait kerjasama memusuhi Iran. “Bloomberg baru-baru ini di laporannya menulis, wakil dari Arab Saudi dan Israel menggelar lima pertemuan rahasia. Pertemuan tersebut digelar sejak tahun 2014 di India, Italia dan Republik Cheko. Agenda pertemuan rahasia ini adalah permusuhan kolektif Tel Aviv-Riyadh dengan Republik Islam Iran”[4]. Lagi-lagi karena bias penilaian muslim Indonesia, mereka tak mampu lagi melihat realita yang terjadi mengenai konflik di Timur Tengah.

Negara lain yang ikut mendukung Israel namun di puja-puja oleh muslim Indonesia yang mendukung Palestina adalah Turki. Memang, Turki pernah menyatakan hubungan ‘kurang baik’ terhadap Israel ketika terjadi bentrokan armada Gaza. “Hubungan tersebut menegang sejak Konflik Israel-Gaza 2008-2009 dan bentrokan armada Gaza yang menewaskan sembilan warga negara Turki”[5]. Kala itu Erdogan muncul bagaikan dewa dan mengatakan bahwa tindakan Israel atas insiden di Gaza tidak bisa dibenarkan.  Namun belum lama ini, Turki mulai ‘menerima kembali’ Israel sebagai sekutu. Turki mulai melupakan insiden itu dan kembali melakukan ‘normalisasi’ hubungan antar kedua negara tersebut. “Israel dan Turki akhirnya sepakat untuk menormalisasi hubungan diplomatik sekaligus mengakhiri rengganggnya hubungan akibat insiden kapal Mavi Marmara pada 2010. Saat itu, kapal Mavi Marmara yang mengangkut pada aktivis dan bantuan bagi warga Jalur Gaza diserbu pasukan khusus Israel dan menewaskan 10 aktivis Turkis. Para pejabat senior kedua negara mengatakan, pengumuman resmi soal perbaikan hubungan ini akan disampaikan pada Senin (27/6/2016). Pengumuman resmi menurut rencana akan disampaikan PM Israel Benyamin Netanyahu dan PM Turki Binali Yildirim.”[6]. Pantaskah bagi sebuah negara (mayoritas) Islam, yang mengedepankan solidaritas Islam, namun justru malah melukai perjuangan yang dielu-elukan oleh umat Islam yaitu Kemerdekaan Palestina?. “Berdasarkan data Kamar Dagang Israel, ekspor Israel kepada Turki meningkat 39 persen dari 648 juta dolar pada pertengahan 2010 menjadi USD 950 juta pada pertengahan 2011. Pada periode yang sama, Impor dari Turki meningkat 16 persen dari 907 juta dolar menjadi 1,05 miliar dolar”[7]. Angka yang fantastis bagi Negara yang selalu dielu-elukan oleh muslim Indonesia yang anti Israel namun memuja Turki yang sangat ‘menyayangi’ Israel. Kita juga tak bisa memungkiri bahwa Lagi-lagi dikarenakan bias penilaian muslim Indonesia, sehingga tak bisa melihat realita dan data terkait konflik Israel dan Palestina. Sampai sekarang, Turki masih membuka lebar pintu negaranya untuk Kedutaan Israel, yang mana seharusnya jika Turki memang mengedepankan Solidaritas Islam, Turki akan menutup rapat-rapat pintu gerbang negaranya untuk Israel.

Sebetulnya, Indonesia pun sebenarnya sudah menunjukkan konsistensinya dalam menolak kebiadaban Israel. Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. “Indonesia berkomitmen memberikan bantuan capacity building bagi warga Palestina yang direalisasikan dalam bentuk pelatihan diplomatik bagi para diplomat Palestina setiap tahun”[8]. Anehnya, banyak Muslim Indonesia justru tidak melihat hal ini. Kebanyakan dari mereka malah melihat Arab Saudi dan Turki sebagai negara yang ideal dalam mendukung Palestina, padahal kalau kita lihat dan kita runut secara halus, mereka adalah pengkhianat terhadap nilai-nilai perdamaian dan solidaritas. Justru Indonesia adalah negara yang sangat aktif dalam pembebasan Palestina, ironisnya Muslim Indonesia tak menyadari hal ini dan justru beberapa ada yang menghujatnya tanpa didasarkan pada realita dan data. Kita menghadapi persoalan yang cukup menjijikan terkait bias penilaian ini. Sebab, dengan adanya bias penilaian ini bukannya menjadi solusi atas persoalan Israel-Palestina justru menambah ketidakjelasan atas konflik yang terjadi. Katakanlah kita menyebut ISIS ataupun organisasi yang serupa (FSA yang lain) sebagai Jihadis, namun apakah mereka ikut membebaskan palestina?. Mereka hanya menjadi ‘sewaan’ untuk melakukan penjarahan suatu bangsa dengan metode teror dan aksi barbar.
Sebagai akhirnya, tulisan ini adalah upaya ‘meluruskan’ tentang apa yang terjadi sebenarnya, dan kita dapat melihat secara jernih mana yang harus dibela dan mana yang harus dengan hati-hati kita dalam menyikapinya. Sebab, penulis melihat jika bias penilaian ini tidak segera diluruskan tak akan meningkatkan fokus terhadap penyelesaian konflik yang terjadi. Kita hanya akan disibukkan dengan omong kosong dan ketidakmampuan dalam melihat suatu kebenaran.

[5]. Peace for Palestine
"War Is Over! If you want it."
-John Lennon-


Sumber :
[1]. Noam Chomsky, How The World Works, terj. Tia setiadi, (Yogyakarta : Bentang, 2017), hal. 381.

[2]. Ardini Maharani, Merdeka.com, “Amankan haji, Saudi sewa keamanan swasta Israel”, https://www.merdeka.com/dunia/amankan-haji-saudi-sewa-keamanan-swasta-israel.html

[3]. Hadi, Liputanislam.com, “Israel dan Negara-negara Arab Bentuk NATO Timteng?”, http://liputanislam.com/internasional/israel-dan-negara-negara-arab-bentuk-nato-timteng/

[4]. Parstoday.com, “Kerjasama Arab Saudi-Israel, Bencana bagi Palestina”, http://parstoday.com/id/news/middle_east-i8485-kerjasama_arab_saudi_israel_bencana_bagi_palestina

[5]. Wikipedia, “Hubungan Israel dengan Turki”, https://id.wikipedia.org/wiki/Hubungan_Israel_dengan_Turki

[6]. Ervan Hardoko, Kompas.com, “Turki Dan Israel Sepakat Pulihkan Hubungan Bilateral”, http://internasional.kompas.com/read/2016/06/27/15021881/turki.dan.israel.sepakat.pulihkan.hubungan.bilateral

[7]. Arman Dhani, Tirto.id, “Benci Tapi Rindu Israel-Turki”, https://tirto.id/benci-tapi-rindu-israel--turki-buKi

[8]. Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia, “Posisi Indonesia Terhadap Kawasan Timur Tengah”, http://kemlu.go.id/id/lebijakan/kerjasama-bilateral.aspx

Sumber Gambar :


Written by : Vrandes Setiawan Cantona - Langit Tjerah
Big Thanks To Readers!
Read more ...
Designed By Langit Tjerah